Aina

Aina
Ep. 110



"Jalan-jalan sore yo, mungkin bisa ke kafe yang di Batu. Gue kan belum pernah kesana. "


Aina diam,


"Gue nggak mau dibonceng sama lo"ternyata dia mikir gitu.


"Gue bawa motor, yah walau tadi nyewa sih. Kita naik motor sendiri-sendiri. "


Dan terealisasi rencana itu.


Gue naik motor ngikutin dari belakang motor Aina. Gila itu cewek, gue hampir nggak bisa ngimbangi naik motornya.


Kita berhenti di lampu merah.


"Motoran apa naik sepeda pak? " ledek wanita itu begitu motor gue berhasil berada di dekat motornya.


"Anj***"


Gue rasakan Aina begitu bahagia saat ini. Dia selalu tersenyum, wajahnya juga berseri indah.


***


Kami tiba di kafe kami sekitar 40 menit perjalanan. Aina luar biasa gue yang cowok kalah, gue akuin.


"Seru ya, kapan-kapan kita bisa touring bareng nih Na"


"Ogah, males gue. Kalau sama lo paling banyak ngeluhnya" dia meremehkan gue ternyata.


"Lihat aja entar kalau gue punya motor sendiri,gue bikin lo bonceng naik motor gue."


Dia bahkan tertawa juga.


Suhu menjelang malam jadi turun, dingin sekali. Untung gue pakai jaket double. Yah, gue udah tahu di Malang bakalan dingin sekali di musim ini.


Aina mengumpulkan para karyawan setelah sholat magrib.


"Baiklah teman-teman, pasti kalian bertanya-tanya aku bawa siapa kesini." Aina memulai berbicara.


"Pacar mbak Ai ya? " ada yang nyaut.


"Bukan, kalian harus hati-hati kalau ngomong. Emmm kalian tahu kan kalau aku bukan satu-satunya pemilik kafe ini? " Aina sok sokan bikin teka teki.


"Dan ini dia bos besar kalian, Pak Jeno." Aina memperkenalkan gue pakai pak lagi.


"Wahhh" mereka memasang wajah kagum dengan rasa hormat.


"Em, baik Terima kasih semuanya tapi apa boleh jangan panggil gue pak? "


"Baiklah semuanya kalian bisa panggil oppa tapi p nya satu saja opa" Aina ngeledek.


Semua pakai tertawa lagi.


"""""


"Jeno" Aina kayanya mau berbicara penting.


"Terima kasih buat semuanya, berkat lo gue bisa melakukan apa yang gue inginkan dan menjadi wanita sukses. " dia serius.


"Bukan cuma lo Aina, gue juga Terima kasih karena sudah mengurus semuanya. Kalau tidak ada elo kafe gue tidak akan maju dan berkembang bahkan lo buka bisa berhasil buka beberapa cabang. Ini semua karena elo. "


Tangan Aina ada diatas meja, sejajar sama tangan gue tapi masih ada jarak satu senti diantarnya. Ingin sekali meraih tangan itu tapi mungkin Aina kali ini juga masih menarik garis karena dia sudah paham agama.


Iseng gue foto tanpa sepengetahuan dia dan gue upload ke sosial media gue.


'Akhirnya kita bertemu' itu caption yang gue tulis.


"Lo nginep dimana? " tanya Aina sambil makan.


"Belum tahu, mungkin hotel dekat sini."


Baru juga ngobrol ada telpon dari eomma gue.


"Hem,eomma"


"Yaaaa! kamu sama siapa? apa Aina? " eomma dengan nada tinggi.


Gue yakin eomma sudah lihat postingan gue.


"Iya Jeno sama Aina"


Gue siap diamuk


"Eomma pikir kalian cuma rekan bisnis, terus apa Jeno ya? "


"Itu benar tapi perasaan ini tetap sama. Jeno akan mengajak Aina serius" gue bilang gitu sambil natap Aina yang kelihatan bingung.


"Jeno, eomma harus bilang beberapa kali ke kamu. Eomma suka sama Aina tapi tidak dengan menikah akan sangat sulit sayang"


"Tapi Jeno akan menikahi Aina" gue masih menatap Aina.


"Hah? apa? "


"Jeno tutup ma, nanti kita bicara lagi. "


Gue putus sambungan itu. Masih menatap Aina yang kini malah menunduk.


"Lo denger kan barusan gue bilang ke eomma gue? "


Aina melihat gue, tapi cuma sebentar.


"Gue pernah ditelpon ibu lo, dia minta maaf. Ternyata keluarga lo waktu itu bersikap baik karena toleransi saja. Gue waktu itu mungkin kegeeran. " ceritanya.


"Tapi kita sekarang bisa lanjutkan tanpa penghalang"