
Hari ini aku sidang skripsi, rasanya sangat senang kerena aku dinyatakan lulus. Dan ini membuatku terharu, hingga meneteskan air mata.
"Loh kok nangis? " tanya Angel ketika aku keluar dari ruangan.
"Nggak papa Aina masih ada kita juga belum lulus. " Sonya menenangkan aku, menepuk pundakku.
"Tapi- gue lulus" ucapku pelan.
"Waaaa serius? waaaa selamat " kedua sahabatku itu memelukku senang.
Aku sangat senang masih ada sahabat yang datang karena bapak tidak aku ijinkan datang beliau aku ijinkan datang saat wisuda saja.
***
Hari-hari ku sangat senang karena aku sudah lulus tinggal mencari pekerjaan. Untuk sementara aku masih kerja di kafe seperti biasanya.
Tidak aku sangka ada pelanggan kafe yang menarik ku untuk bicara berdua. Dia tidak aku kenal tapi aku pernah melihatnya.
"Lo yang namanya Aina? " tanya kasar.
"Iya,ada apa ya? " jawabku setenag mungkin.
"Jadi lo? " dia mengamati ku dari atas sampai bawah. " cantik sih tapi nggak yang terlalu istimewa juga. " dia menilai ku kayanya.
"Ada apa sih ini? "
"Lo nggak ingat gue? kita pernah bertemu, dan di kafe ini juga. " aku mengamatinya kali ini, dia cantik tubuhnya lebih berisi apalagi bagian yang menonjol lebih menonjol dari cewek pada umumnya.
"Gue sama oppa Jeno. " jelasnya yang langsung aku ingat siapa dia, yah Yolanda.
"Terus mau apa? "
Dia menarik nafas, " cuma mau lihat aja bentukannya cewek yang disukai Jeno ternyata cuma kaya gini. " dia dengan sadisnya menghinaku.
"Maaf ya aku masih ada pekerjaan, jadi permisi. " aku hendak meninggalkannya tapi dicegah lagi.
"Asal lo tahu ya, Jeno pasti cuma PHP in lo aja kaya cewek-cewek lainnya. Cewek si bohai gue aja cuma bisa dia sentuh apalagi kaya lo pasti cuma dimainin doang. "
Aduh apa sih yang dia bicarain, random sekali.
"Gue nggak peduli, lagian gue smaa Jeno nggak ada hubungannya." aku segera meninggalkan dia.
***
Tiga bulan kemudian aku diterima di kantor perpajakan. Aku sangat senang sekali bisa langsung bekerja di tempat bagus, milik pemerintah lagi.
Beberapa hari kemudian aku wisuda dan tentunya bareng dengan Angel juga Sonya.
Kami sangat senang bisa lulus bersama.
Kini kami sedang berfoto bersama, ada bapakku datang semalam dari Malang, beliau sudah sehat kini.
Angel juga bersama keluarganya. Tapi tidak dengan Sonya yang tidak ada keluarganya yang datang, kasihan sekali dia. Hingga kami mengajak Sonya foto bersama saja.
Sonya memang gadis sok tegar yang menyimpan banyak luka, lukaku tidak sebanding dengannya. Jadi aku harus lebih bersyukur masih memiliki orang tua yang datang.
Lalu ada Jeno datang dengan stelan kemeja rapi dengan spatu fantofel, aku jadi pangling karena biasanya dia itu si paling cuek kalau soal penampilan. Apalagi sudah beberapa bulan aku tidak melihatnya. Karena dia sudah lulus dan wisuda duluan waktu itu.
Percayalah walau wajahnya oppa-oppa Korea tapi sukanya cuma pakai kaos oblong celana pendek dan kadang sandal jepit. Kalau ngampus dia hanya mengganti dengan celana panjang kemeja tanpa dikancingkan dan sepatu snekers.
Jeno memberiku buket coklat yang gede, aku terima saja dong.
"Selamat Aina sayang. " Jeno sambil terkekeh.
Aku melihat ke bapak yang ternyata sedang mengobrol dengan ayahnya Angel, mereka langsung nyambung walau beda kalangan karena ayahnya Angel pengusaha kopi jadi bisa lah nyambung ke bapak.
Aku melototinya, tentu saja dia tetap tertawa nggak jelas.
"Wah ada Jeno, anyoeng oppa? " Angel mendekati lalu menyilangkan tangannya pada lengan Jeno. Padahal ada Daniel juga datang.
"Baik" Jeno terlihat santai.
Aku masih curiga dengan mereka berdua. Mereka terlihat dekat sekali.
"Bukankah ada Daniel? " aku keceplosan.
"Dan ada elo juga ya? " Angel malah menambahkan. Kini tangannya sudah pindah ke tangan Daniel. "Gue sama Jeno ternyata masih saudara Aina, jadi mamaku masih kerabat mamanya Jeno gitu. "
Kan cuma kerabat.
Dan Jeno bisa dengan mudah akrab dengan bapak, heran.