Aina

Aina
Ep 29



Senja menyingsing, pemandangan kota yang berbukit ini sangat indah, apalagi terlihat kelap-kelip lampu warga yang nampak indah dari kejauhan.


Aku kini sedang duduk di pelataran masjid menunggu Jeno beribadah,terdengar lantunan suara adzan yang merdu. Entah kenapa hatiku bergetar mendengarnya, itu selalu terjadi bukan saat ini saja.


Bapak tidak pernah mengajariku agama, aku hanya mengikuti agamaku sejak lahir agama bapakku. Ketempat ibadah saja hanya saat hari raya itupun waktu aku kecil ketika diajak bulek Rina.


"Mbak nembe halangan enggeh? " ada suara wanita sedikit berumur menyapaku, dia bertanya apa aku lagi halangan? maksudnya apa? halangan apa coba? aku nggak ngerti. Mungkin aku berhalangan masuk masjid? iya memang aku belum pernah.


"Enggeh bu" jawabku ramah.


"Oh, lagi nunggu siapa? "tanya ibu itu lagi.


" Teman bu"


"Oh"


Ibu itu lalu masuk masjid. Aku perhatikan dia memakai kerudung panjang putih dan menenteng kain kaya karpet coklat.


Sekitar setengah jam Jeno baru keluar, dengan outfit terkeren sama kaya tadi pagi.


"Gue nunggu isa' sekalian ya Na, lo lebih baik ke rumah makan yang ada disebrang. Nanti gue susul" Jeno menyarankanku untuk makan saja dulu.


"Gue nungguin lo aja No"


"Masih setengah jaman Aina, ya? "


"Berarti gue makan sendiri dong? " aku nggak mau kalau kaya begitu.


Jeno menghela nafas.


Lalu akhirnya dia masuk mobil melepas atributnya itu.


"Kenapa ganti lagi? bukannya mau ibadah lagi? " tanyaku ketika Jeno sudah menggunakan kaos dan celana pendeknya.


"Katanya nggak mau makan sendiri?" Jeno lalu memberiku ibarat agar aku mengikuti dia ke sebrang jalan tanpa menyentuhku.


Kami tiba diwarung makan yang agak sepi,dengan masakan Jawa dan rumahan. Wah aku senang sekali sudah lama aku tidak makan seperti ini.


Aku mengambil satu piring nasi lengkap dengan lauk dan sayur. Jeno juga sudah mengambil makanannya tanpa sayuran sekalipun, dia hanya mengambil nasi ayam goreng dan sambal saja. Jadi dia nggak suka sayur dan buah, sedikit informasi lagi.


Jeno makan dengan terus melihat HP nya. Entah siapa yang sedang dia lakukan, dia kaya lagi chatingan gitu.


"Makan dulu, entar lagi chatingan nya " saranku sedikit terdengar sinis kayanya.


"Banyak yang ngirim ucapan hari raya jadi gue bales satu satu. "


Oh aku lupa kalau ini hari raya dia,apa ini juga penyebab warung ini agak sepi karena orang-orang masih menikmati makanan di rumah.


Lalu terdengar adzan menggema.


"No, adzan lagi tuh. Lo belum habis gimana dong? " aku merasa bersalah kali ini, kalau saja tadi aku ijinkan dia dimasjid dulu dan aku nunggu disini tidak akan terjadi seperti ini.


"Ya nanti aja,makan dulu nggak papa dari pada gue sholat kepikiran makan gue malah nggak boleh. " Jeno dengan tenangnya makan makanannya itu.


Lalu ketika sudah selesai dan Jeno mampir lagi kemasjid sebentar untuk beribadah. Kami melanjutkan perjalanan, dengan perut yang kenyang dan senang.


Aku memandangi Jeno mengemudi yang tidak melepas outfitnya terkeren itu, dia memang sangat tampan apalagi sekarang sudah mulai gelap sesekali wajahnya tersorot lampu mobil yang melintas. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta dengan manusia ini?


"Kenapa? lo mau menyatakan cinta sama gue kali ini? " tanyanya dengan penuh percaya diri.


"Ihhhhh" aku memalingkan mukaku kearah jendela.


"Gimana kalau kita jalanin aja hubungan ini Na? "


Aku menoleh lagi mendengar ajakan dia menjurus ke ngajakin aku pacaran.


"Sudah lah kita nyamannya itu jadi teman, nggak usah bahas itu lagi. "


"Tapi kita sama-sama suka Aina? "


"Tapi kita nggak bisa bersama, sudah ya stop daripada gue nggak mau temenan sama lo lagi" aku menegaskan itu.


"Yah nggak asik lo"