Aina

Aina
Ep 33



Hari ini adalah momen terindah, aku merasakan kebahagiaan di keluarga ini. Semua orang juga menyambut ku dengan baik, aku kira kecuali tantenya Jeno ternyata dia hanya mengujiku. Jeno juga memperlakukan aku dengan baik dia sangat menghormati ku, dia tidak asal mengakui aku sebagai pacarnya. Dia jujur kalau kami hanya teman dan kami mungkin hanya bisa berteman. Namun entah kenapa saat Jeno bilang seperti itu hatiku sedikit sakit, ketika dia bercanda mengakui aku sebagai pacarnya aku malah lebih senang. Duh gimana sih ini hati bukankah Jeno ini sudah benar?


Setelah acara aku membantu ibunya Jeno mencuci piring. Aku juga kagum dengan ibunya ini dia wanita cantik yang selalu nampak elegan walau sedang mencuci piring seabrek.


"Apa benar kalian cuma berteman Aina? Jeno selalu cerita kalau dia sangat mencintai kamu apa dia cuma bertepuk sebelah tangan? " tanya ibu Jeno, saat aku membilas piring sedangkan dia yang menyabun.


"Iya tante kami cuma berteman, maaf karena kami juga tidak bisa bersatu tante. "


"Sebab apa? " tanyanya lagi menoleh kepadaku nampak serius.


"Kami beda tante"


"Beda? "


"Oh dia nakal kamu pendiam? "


Sepertinya ibunya belum tahu.


"Bukan tante, tapi saya non muslim." aku mengatakan ini dengan pelan bukannya ragu tapi takut beliau kaget.


"Oh" Ibunya tersenyum malahan. Lalu melanjutkan aktifitas kami.


Ketika selesai ibu Jeno lanjut ngomong.


"Aina sudah tahu kalau tante ini juga suka sama pria yang beda keyakinan dulu? "


"Iya, Jeno pernah menceritakan kisah cinta tante dan om"


"Dan kami bisa bersatu, dulu tante sangat ragu tapi tante mengabaikan itu,tante hanya melihat ketulusan dan cintanya appa Jeno saja. Yah semua tidak bisa berjalan mulus juga sih sangat berat. Jadi saya mengerti kamu kalau menolak anak tante. " ibu Jeno memelukku hangat.


"Sayang sekali, padahal tante sangat menyukaimu Aina. Jadi jangan putus silaturahmi ya walau nggak jadi menantu tante. "


Kemudian beliau melepaskan pelukannya. Aku mengangguk dan sedikit meneteskan air mata.


***


Sore harinya aku sudah berganti dengan pakaianku sendiri yang aku ambil dari koper. Sedangkan dress gamis ini aku hendak kembalikan pada Sifa.


"Kan sudah aku bilang kalau itu dibelikan mas Jeno bukan punya aku mbak. Jadi simpan saja. " itu katanya.


Aku menanyakan keberadaan Jeno katanya dia berada dikamarnya yang terletak di lantai dua. Rumah ini besar dibagian bawahnya sedangkan lantai atas hanya satu kamar dan balkon untuk menjemur pakaian saja. Semua kamar dan ruangan ada dibawah. Aku terpaksa menghampirinya soalnya mau minta dia untuk mengantarkan aku ke terminal. Bisa-bisa kalau aku diam saja dia akan pura-pura lupa dan menahanku disini.


Aku mengetuk pintu yang sedikit terbuka, terdengar suara orang mengobrol.


"Aina? " suara Jeno saat melihat ku dari celah pintu.


"Weih ada calon istri nyamperin " salah satu dari mereka menggoda Jeno.


"Masuk mbak, ayo kalian keluar ganggu aja" satu lagi ngerusuh.


"Iya ayo" satunya lagi langsung berdiri dan keluar menyeret keduanya.


Aku rasa mereka tadi sedang menonton film dan merusuh dikamar ini. Terlihat kamar Jeno yang kotor, beberapa toples kue ada disini dan kulit kacang berserakan juga bekas minuman soda menggeletak nggak jelas.


"Ada apa Na? " tanya Jeno menepuk pinggir tempat tidur sebelah dia duduk, tanda aku disuruh duduk disana.


Aku duduk,


"Jangan amnesia ya, ayo anterin gue ke terminal."


"Nanti malam Na, ini udah gue pesenin bus yang langsung nyampe malang dan berangkatnya jam setengah sembilan malam. " Jeno kasih tunjuk HP nya.


Aku lebih tenang sekarang akhirnya aku pulang juga, yah walau disini juga bikin aku senang tapi aku sudah rindu bapakku.


"Ya udah kalau begitu. "


"Oh ya, gamis yang tadi gue tinggal ya soalnya gue nggak bisa kayanya nggak bakalan pakai lagi deh. Gue tahu itu couplen sama punya lo, hah norak. " aku mengingat gamis yang aku letakkan dikamar Sifa.


"Iya, biar dicuci nantinya. " jawabnya tenang. " nanti kalau kesini bisa lo pakai lagi "


Aku memandangi seluruh penjuru kamar ini, tidak banyak barang cuma tempat tidur lemari dan TV berserta peralatannya. Mungkin karena memang Jeno tidak tinggal disini.


"Jeno, makasih ya buat hari ini berkat lo gue bisa merasakan hari raya."


Jeno menatapku, dia bergerak mendekatiku. Lama kelamaan jarak diantara kami makin menipis, dan ternyata Jeno mencium bibirku. Aku kaget hingga jantungku begitu berdetak hebat. Seluruh tubuhku bereaksi hingga suhunya meningkat. Aku bahkan membalas ciuman lembut itu.


"Terima kasih Aina, sudah membalas perasaanku. " Jeno menghentikan ciuman kami.


"Bagaimana lo tahu? " ya yang Jeno bilang adalah benar aku menyadari kalau aku suka sama ini cowok.


"Tanpa lo bilang gue bisa merasakannya. " Jeno membelai rambutku.


"Tapi kita nggak bisa jadian. "


"Gue tahu, tidak masalah asal didalam hati lo ada gue sekarang. "


Kemudian Jeno mengajakku jalan-jalan berkeliling kota Solo sebelum dia mengantarku ke terminal.