Aina

Aina
Ep.92



Sudah genap lima hari Jeno pergi. Tapi tak sekalipun dia memberi aku kabar. Dia emang gila benar-benar gila. Kok bisa ya ada manusia seperti itu.


Sekarang waktunya aku mengunjungi kafe di hari jumat sore sepulang ngantor.


Aku memang ke kafe cuma waktu weekend saja ketika kafe ramai akan pengunjung. Dan aku juga bisa bantu-bantu sekalian merekap hasil penjualan.


"Lo ditelpon sama Jeno yo? " tanyaku pada Tio yang berada di bar. Dia sedang meracik minuman.


"Ngapain dia nelpon gue? " jawabnya agak kaget.


Iya juga yah ngapain dia telpon Tio?


"Ya siapa tahu pingin tahu keadaan kafe gitu? "


"Pastinya nelpon elo lah, sebagai bos kafe sekarang gimana sih" Tio kenapa nyebut aku bos segala?


Lalu muncul suara Bayu, dia dari dapur sedang membawa makanan pesanan pelanggan kayanya.


"Kenapa? dighostingin Jeno lagi ya?" tanya Bayu sambil meletakkan pastry berupa pisang coklat nampak enak ke nampan.


"Ish, kok tahu"


Lalu muncul Abi yang akan mengambil nampan tadi.


"Sudah rahasia umum si bos tukang ghostingin cewek. Lo mending hidup damai tidak usah mikirin cowok kaya dia. " celoteh Abi dengan nada bercanda.


Lalu dia pergi membawa pesanan pelanggan tersebut.


Aku kok jadi aneh ya berasa curhat gitu sama mereka dan terlihat menyedihkan gitu kesannya.


Bayu mau balik ke dapur, lalu aku ngikutin dia.


"Mas bisa buatin gue juga nggak yang kaya tadi? "


Bayu tersenyum dan mengangguk tanda dia mau.


Lalu kami masuk dapur.


Dia lalu membuatkan aku pisang coklat tadi. Aku menunggunya sambil melihat cara membuatnya


"Tenang saja Ai, lo itu spesial kok buat Jeno. Dia itu suka cerita sama gue tentang lo sejak dulu. Cuma lo satu-satunya cewek yang selalu dia ceritakan dari waktu yang lama." Bayu menenangkan aku ceritanya.


"Berapa banyak cewek yang dia ceritain? "


Bayu nampak berpikir.


"Emm, nggak bisa dihitung Ai. Tiap hari beda nama. Gue juga bingung kalau pas diajak cerita. " jawaban yang sudah aku duga.


"Gue udah tahu kok."


Pisang coklat sudah jadi, aku bawa ke depan untuk dinikmati. Sebelumnya aku juga mengucap Terima kasih pada yang bikin.


***


Minggunya ditempat yang sama aku sedang berada di kafe saat mau tutup.


Aku baru mendapat telpon dari Jeno. Jadi sudah seminggu ini dia baru ada kabar.


"Kok nelpon? " begitu tersambung dengan dia.


"Nggak boleh? " katanya dari sebrang kedengarannya sedikit kecewa.


"Mau tahu keadaan kafe? "


"Iya, terus apa lagi? " dia menyebalkan.


"Baik, penjualan seminggu ini meningkat. " jelasku. "nanti habis ini gue transfer keuntungannya ke elo"


"Jangan, taruh aja di rekening kafe. Lo urus semuanya. "


"Baiklah"


Lalu hening tidak ada suara.


"Aina, gue disini sibuk banget karena gue masih baru dan harus menyesuaikan sama keadaan disini. Yang anak baru cuma gue, jadi kedepannya mungkin gue nggak bisa selalu kasih kabar sama lo. Tolong urus semuanya di sana, dan jagain juga semuanya. " akhirnya Jeno menjelaskan keadaannya di sana dan berpesan dengan serius.


"Hem, tapi enak kan di sana? "


"Enak, gue tugasnya di kapal. Setiap hari gue berlayar keliling laut dong." ceritanya.


"Bagus, jadi lo cuma bisa ngelirik lumba-lumba aja"


"Anjrit, itu yang bikin gue sedih," dia tertawa.


Tadinya aku sebel tapi setelah tahu kabar itu cowok jadi seneng banget. Padahal rencananya mau ngomel tapi nggak jadi.