
Marsel tidak jadi menghampiri kami. Aku yakin dia dari tadi memperhatikan ekspresi Gres, kalau berubah emosi dia jadi khawatir.
"Sekarang aku dan mas Marsel sudah tidak menjalani hubungan lagi, jadi semoga mbak dan mas Marsel selalu bahagia." aku ingin mengakhiri perbincangan ini karena Gres sudah menunjukkan emosinya.
"Tidak Ai, gue ingin lo yang bersama Marsel. Dia pantas mendapatkan wanita baik kaya elo. " katanya yang tidak pernah aku duga.
Apa maksudnya?
"Aku dan mas Marsel tidak pernah memiliki hubungan spesial atau perasaan lebih mbak jadi tidak mungkin aku bersama dia mbak"
Gres diam, dia menatapku " Apa kamu enggak suka sama Marsel? "
"Tidak mbak, aku suka sama orang lain. Bukan mas Marsel, jadi tenang saja mbak bisa memperbaiki hubungan mbak dan mas Marsel mulai sekarang. "
Tanpa aku duga yang aku maksud tiba-tiba datang.
"Jeno? "
Yah Jeno datang, dengan ekspresi wajah cemas. Wajah dan badannya penuh keringat, apa dia berlari sampai sini?
"Lo baik-baik saja kan Na? " tanyanya khawatir.
Aku mengangguk saja karena masih tidak habis pikir kok bisa Jeno ada disini.
"Tadi gue di WA Angel lo disini ketemu Gres makanya gue langsung kesini. " jelas Jeno menjawab pertanyaan dalam pikiranku.
"Lo kesini lari? "
"Tidak, tadi gue lagi olah raga. " katanya, sepertinya benar dia memang memakai celana traning dan hudi saja.
Marsel juga mendekat semenjak Jeno datang.
"Ngapain lo kesini? " tanya Marsel dengan nada tidak enak.
"Bukan urusan lo! " jawab Jeno sama nggak enak di dengernya.
"Oh jadi ini orangnya ya Aina? bisalah, pantes aja lo su-" Gres aku bungkam sebelum dia keterusan ngomongnya. Dia bakalan bilang kalau aku suka Jeno.
Oh tidak jangan sampai Jeno tahu sekarang, nanti saja biar aku yang bilang sendiri.
"Jadi kalian sudah akrab? udah kelar masalahnya? " tanya Jeno menyadari gerak tubuhku yang seakan akrab dengan Gres karena berani menutup mulutnya dengan tanganku.
"Em iya"
"Tadi gue udah minta maaf sama Aina, gue udah lega ternyata dia nggak tertarik sama Marsel tapi sudah punya pujaan hati sendiri, gue rasa kalian cocok kok. " kata Gres yang bikin aku membelalakkan kedua mata ini.
Dia kenapa harus ngomong gitu sih, sambil memandang Jeno lagi. Kan jadi ke ge-eran itu anak.
"Ya udah ayo pergi Na, kalau udah selesai" Jeno memegang tanganku. Jadi Jeno tidak menanggapi kalimat Gres atau pura-pura mengabaikannya padahal jelas dia senang mendengarnya.
"Dan tolong kalau media ada yang tanya konfirmasi ke mereka kalau kalian sudah damai" itu pesan Marsel sebelum dia membawa Gres pergi duluan.
Menurutku Marsel masih cinta sama Gres, dia begitu khawatir walau Gres menunjukkan sikap buruknya dia masih perhatian.
Kini aku berjalan bersama Jeno.
"Lo mau ibadah dulu? " tanyanya saat kami berjalan melewati pintu greja.
"Tapi gue takut dia akan marah karena gue selalu mengabaikannya"
"Ayo gue temenin" ajaknya.
Ini nggak salah Jeno masuk greja? dia nggak sedang gila kan?
Kami duduk dipojokan biar tidak menjadi perhatian.
Apalagi Jeno, dia merasa aneh palingan.
Aku berdoa dalam diam.
Selang beberapa saat aku melihat Jeno, kok malah aneh dia menutup kepalanya dengan hudi nya.
Aku tarik penutup itu,
Dan apa yang aku dapatkan?
Telinganya terdapat headset,pantesan aja dia santai tidak terganggu dengan nyanyian puji-pujian yang menggema.
"Apa sih? lo berdoa aja udah. Nggak usah ngelihat gue" protesnya membenarkan penutup kepalanya lagi.
"Lo malah terlihat mencurigakan kalau ditutupin gini kepala lo"
Jeno membukanya, begitu juga headset di kepalanya.
"Ayo pergi saja No! "
"Udah nggak papa, gue temenin. " Jeno ngeyel.
"Lo nggak nyaman,gila aja lo disini"
Aku menarik dia keluar greja.
Tiba diluar, dia meraup udara sebanyak-banyaknya.
"Itu kan nggak nyaman tadi? "
Dia tertawa.
"Lain kali lo yang ikut gue ke pengajian" katanya dengan cengengesan.
Lalu Angel ternyata ikut keluar.
"Kok udah keluar? "
"Gue tadi lihat kalian, terutama Jeno. Gue bertanya apa Jeno pindah server ya demi Aina? " ledek Angel di kalimat terakhir.
"Gue nggak sebucin itu kali" kata Jeno yang bikin aku kok malah gimana gitu ya.
Angel tertawa, "padahal muka lo itu kristeneble jadi kalau lo disini nggak ada yang curiga kalau lo itu anak sholeh. "
"Sialan lo" Jeno mendengus.
Memang wajah kaya Jeno ini tidak akan dicurigai. Aku aja dulunya juga ngira kita satu kepercayaan kok.