
Gue ngikutin Aina,ternyata beneran bikin minuman di bar.
"Espresso? tadi lupa saat lo datang belum ngopi kan? " tanya dia.
"Boleh,dibawa ke atap. Kita ngobrol di sana"
Gue pingin ngobrol sama dia. Pokoknya kangen banget ngobrol pribadi sama wanita ini.
Di lantai atas memang ramai, tapi untungnya masih ada sisa tempat duduk tapi dipinggir itupun cuma kursi panjang yang menghadap ke pagar.
Sesaat kemudian datang lah Aina.
"Nggak ada kursi kosong No, ayo ke bawah aja" ajak Aina sambil membawa nampan berisi dua minuman.
"Di sini bisa" gue tepuk kursi besi ini sambil bergeser sedikit.
Aina nggak nurut, dia malah membawa nampan itu turun kembali.
Wah,gue ditolak lagi.
Emang sih kursi itu kalau buat berdua bakalan berdempetan. Tapi masih muat kok kalau berdua.
Ya sudah gue ngalah, ngikutin dia turun ke bawah.
Aina duduk di bangku bar terus pindah karena ada pelanggan datang. Dia pindah ke ruangan karyawan. Gue dengan bodohnya ngikutin kemana Aina pergi.
"Ngapain sih kalian nggak jelas banget,mau cari tempat berduaan gitu? tuh di hotel banyak" itu suara Abi yang kelebihan mulutnya.
Disini memang adanya Abi dan Bayu yang senior. Tio di kafe cabang, sedangkan Raka dan Fian mereka sudah tidak kerja lagi disini karena sudah lulus dan menjalani profesi sesuai jurusannya. Karyawan lainnya tidak terlalu kenal sama gue.
Gue sama Aina tidak memperdulikan ucapan Abi. Kami duduk di sofa panjang itu berdua.
"Bos,mau makan juga nggak nih? " itu suara Bayu yang muncul dari dapur.
Dia bukan satu-satunya koki disini sekarang tapi sudah punya beberapa asisten bahkan yang cuci piring ada sendiri.
"Enggak, tadi di rumah udah makan."
"Weih,tumben ada makanan di rumah elo? " Bayu agak kaget kayanya dengan jawaban gue.
Sepertinya dia nggak tahu kalau Aina tinggal di rumah gue selama ini. Gue melihat Aina, dia sempet juga melihat gue buat ngasih kode jangan bilang apapun kayanya.
"Ada lah, kan ada yang masakin" gue malah ngelirik Aina.
Aina otomatis melotot.
"Weih, cewek yang mana tuh" Abi nimbrung. Kini dia duduk di dekat gue.
Aina diam aja. Dia berlagak sok nggak mau denger obrolan kami.
"Ada Aina woi! gila lo bi" Bayu yang masih berdiri mukul Abi pelan.
"Yaiyalah, emang siapa anda?" Aina mengeluarkan kata-katanya.
Lalu Abi dan Bayu ketawa.
"Heh, bukankah kafe sedang ramai kalian berdua bukannya kerja malah ngecengin gue. Sana lo berdua"
"Idih baperan,udah lama banget kita nggak ngobrol bos. " Abi emang benar.
"Benar juga sih,kangen juga gue sama kalian. "
"Najis, gue mah enggak. Yang gue kangenin bonusnya doang sih" canda Abi lagi.
"Seharusnya lo ikut kita besok liburan" Bayu menyarankan.
"Yah, apalah daya gue cuma seorang kacung negri ini.hhhhh"
"Apa kita ganti hari sabtu aja biar si bos bisa ikut" ide gila Abi.
"Enggak bisa, kita nggak bisa tutup weekend. " Aina yang sedari tadi diam tiba-tiba nimbrung kalau sudah menyangkut kafe.
"Canda mbak bos" Bayu dan Abi kompak.
Lalu kami tertawa.
Tak lama karena emang ramai banget di luar Abi dan Bayu akhirnya bekerja.
Tinggal gue dan Aina.
"Besok mau naik apa? "
"Kereta" jawabnya sambil main HP.
"Tumben lo main HP waktu sama gue? "
"Lihat chat grup karyawan kafe mereka udah pada heboh buat besok lihat deh" Aina memperlihatkan HP nya yang menunjukkan obrolan grup para karyawan.
Mereka rata-rata membicarakan gimana pas di sana nantinya. Lalu gue salah fokus sama yang namanya Jamal mau bersedia bawa motor Aina ke Malang
"Motor lo mau di bawa si Jamal? "
"Hem, dia bakalan berangkat sama Dino motoran gitu. Terus kebetulan, dia juga mau ambil motor di Blitar tempat asalnya. Jadikan enak bisa sekalian gitu" penjelasan Aina yang masuk akal.
"Lo kok jadi suka motor sih Na? "
Gue beneran penasaran tentang itu.
"Suka aja"