
Minggu ini aku ijin bakalan telat ke kafe karena ternyata acaranya siang hari, aku pikir pagi.
Aku dijemput Pak Doni, tanpa Misel.
"Misel mana? " tanyaku begitu aku masuk mobilnya.
"Sudah di sana. Tadi saya antar duluan karena harus persiapan buat pentas nya. " jawab pak Doni sambil mengemudi.
Selama perjalanan kami hanya diam. Lalu kami berhenti dikawasan pertokoan.
"Kita mampir dulu Ai, ayo. " ajak Pak Doni.
Ternyata kami masuk ke sebuah butik.
"Kamu pilih dress yang bagus" pak Doni mengagetkan aku.
Dia ingin membelikan aku baju gitu maksudnya?
"Emm, nggak usah pak. Saya masih punya banyak baju. "
"Buat hari ini saja kalau begitu. " dia agak dingin.
Kenapa sih ini orang.
Aku hanya diam,tapi dia yang mondar-mandir melihat lihat pakaian wanita yang berderet-deret.
"Aina,kalau begitu pakai ini saja" pak Doni mengambil sepotong baju.
Aku tidak bergeming, karena aku nggak mau menerimanya.
"Ai, kamu lihat deh. Kamu mau ke sekolah anak tapi pakai celana jeans gitu?terus lihat saya, apa serasi sama saya nantinya? kamu mau nanti ada yang bilang pak Doni datang sama anak SMA, gitu? " pak Doni panjang lebar, dan malah bikin aku kesal.
"Lalu ngapain bapak ngajakin aku? udah tau aku kaya anak SMA? " mungkin nadanya agak sengit.
Pak Doni memaksa, dia menyuruhku untuk ganti baju.
"Maaf Aina, bukan gitu maksud saya. Biar agak sopan saja, saya mohon jangan salah paham. "
Aku menarik nafas, berusaha agar tidak emosi.
Memang benar kata duda satu ini, pakaian ku agak kurang pantas kalau buat acara resmi. Tadi aku asal pakai aja, karena biasanya aku ke kafe juga pakai pakaian santai.
Setelah itu aku memakai pakaian pilihan pak Doni. Dress selutut polos berwarna putih tulang yang nampak anggun di tubuhku. Aku suka,selera pak Doni memang bagus. Senada dengan kemeja pak Doni.
***
Tiba di sekolah Misel, acara sudah dimulai. Untungnya pertunjukan yang ditampilkan Misel belum mulai.
"Menari, kamu lihat saja pasti dia bakalan senang" pak Doni tersenyum lagi.
Senyum pak Doni emang manis tapi masih kalah sama senyum Jeno yang bikin hati nggak karuan. Waduh kenapa jadi Jeno? Kira-kira dia lagi ngapain.
Hari ini waktunya dia telpon, jam nya tidak pasti. Selalu dia yang telpon dulu, aku tidak pernah telpon dia sama sekali.
"Aina! " ada yang memanggil.
Aku mencari sumber suara, ternyata mbak Fera.
Ya ampun aku lupa kan pasti bakalan ketemu emak yang satu ini.
Mbak Fera mendekat, dia bersama mas Ibam.
"Siang Pak Doni" sapa mbak Fera pada pak Doni. "siang nyonya" dan kalimat berikutnya ditujukan padaku untuk menggoda.
Bikin aku kesel.
"Siang, Hai Fera. Hallo pak Ibam, apa kabar? " pak Doni lalu bersalaman dengan mas Ibam.
Sepertinya mereka saling kenal, karena sedikit ngobrol.
Sedangkan mbak Fera udah heboh duduk di sebelahku.
"Jadi? " pertanyaan nggak jelas keluar dari mulut mbak Fera.
"Jadi apa mbak? "
"Jadi ini mamanya Misel? " pertanyaan nggak masuk akal kali ini.
"Apaan sih mbak, gue cuma menemani pak Doni aja. Lagian dia bakalan bayar gue kok"
"Sudahlah, nanti dibayar dengan cinta habis ini. " goda mbak Fera yang garing.
Lalu kami duduk bersebelahan menikmati pertunjukan anak-anak tk yang lucu lucu. Aku sangat terhibur, baru kali ini nonton pentasnya anak-anak.
Tiba giliran grupnya Misel,anak itu pandai menari dan ceria. Dia juga memberi kode padaku untuk menyapa.
Entah kenapa aku dan anak itu kaya dekat, padahal baru kemarin lusa kami bertemu.
"Misel seneng banget, makasih Aina" pak Doni memegang tanganku.
Terima kasih sih boleh pak, tapi ya nggak usah pegang juga.
Aku melepaskan tangannya.