Aina

Aina
Ep. 103



"Sorry Aina" gue minta maaf setelah memaksa Aina.


Aina keluar dari dapur.


Gue menyusulnya,sebelum dia naik ke atas.


"Na, gue minta maaf. Ya udah lo lanjutin masaknya. Gue sudah laper ini "


Aina menurut, dia kembali ke dapur tanpa kata sedikitpun.


"Boleh tahu alasannya?kenapa lo menolak gue sentuh? " gue masih penasaran.


Aina menarik nafas.


"Emang lo siapa gue? apa kita ini bisa bersentuhan? bukankah agama lo mengajarkan untuk menghargai wanita dan menjaganya." Aina menjawab dengan tegas.


Yah gue lupa itu.


"Sifa yang bilang? "


"Sudah jelas di kitab lo kan"jawabnya yang bikin gue tercengang.


Lalu gue nggak tanya lagi habis itu.Pasti dia diberi tahu Sifa.


Makanan sudah tersaji di meja makan.


"Senang sekali ada yang masak di rumah ini dan ada makanan enak tersaji. Kita jadi kaya suami istri ya Na"


Aina tidak merespon. Dia malah sibuk mengambilkan nasi ke piring gue.


Waduh kenapa lagi ini cewek? padahal gue ngajak bercanda.


"Gue bakalan menetap di Malang, jadi berhubung elo sudah dinas disini lo bisa urus semuanya. Gue nggak perlu bolak-balik lagi." dia tiba-tiba bilang gitu saat kita makan. "Kalau gue dibutuhkan gue bakalan datang kok tenang saja. "


"Apa nggak bisa lo tinggal disini saja? lagian lo menempati kamar atas juga? "


"Tidak Jeno, itu tidaklah baik." jawaban tidak bikin gue puas.


"Aina, boleh tahu alasan pribadi kenapa lo menghindari gue? "


"Bukankah sudah jelas di Alquran ya No? kenapa harus diperjelas? " dia malah nanya.


Dan apaan coba? kenapa dia pakai bilang Alquran segala? emang dia tahu isinya?


Aina pergi ke atas setelah kami selesai makan dan membereskan meja makan.


Gue mengikuti dia ke atas. Gue belum puas bersama Aina. Setidaknya kalau dia nggak mau disentuh gue bisa mandangi dia terus.


Aina masuk kamar dengan segera menutup pintunya. Sialan gue nggak boleh masuk nih.


Tak lama dia keluar. Dia kini rapi menggunakan jaket.


"Mau kemana? "


"Ke kafe" jawabnya melewati gue.


Gue mengekorinya menuju garasi rumah, di sana sudah tidak ada lagi mobil. Mobil gue sudah gue jual karena tidak ada yang mau pakai dan gue sudah bosen sama modelnya.


Di garansi masih ada motor matic gue sejak kuliah dulu, yang gue beli kredit. Lalu ada satu lagi motor sport gede warna pink. Bukan milik Aina kan? kok dia mengendarai motor sport?


Namun perkiraan gue benar, Aina naik motor itu setelah memakai helmnya.


"Seriusan lo punya motor gini Na? "


"Kenapa? emang nggak boleh? " tanyanya sambil menghidupkan motornya.


"Wahhhh, keren sih. Ya udah tungguin gue dong. Gue nebeng"


Gue langsung lari ke kamar buat ganti baju dan ngambil HP juga dompet gue.


Namun saat gue balik, Aina sudah tidak ada. Dia meninggalkan gue, sialan itu cewek.


Gue makin tertarik sama Aina, dia tidak terduga pikirannya. Aina itu wanita lembut dan manis kok bisa ya milih mengendarai motor sport gitu. Ya kalau dia tomboy, gue nggak heran lah ini dia tetap pakai rok loh mengendarai motornya.


Gue berusaha menghilangkan rasa gue tapi nyatanya tidak bisa. Walau kami berjauhan dan jarang komunikasi rasa cinta gue tetap ada.


Sejak gue pindah ke Batam, gue berusaha tidak membahas masalah pribadi kalau sedang telponan. Kami hanya membahas masalah bisnis kami. Kami berdua sangat profesional, tidak pernah mencampur adukkan. Tapi itu nggak berhasil bikin gue menganggap Aina cuma rekan kerja gue.


Rasa yang gue miliki sudah terlanjur dalam.


Mungkin kalau belum melihat dia menikah gue juga nggak akan menikah.


Dulu pernah juga gue dapat kabar kalau dia dideketin sama bosnya dulu, waktu itu gue berusaha merelakan dan ikhlas kalau dia berjodoh sama bosnya itu.


Tapi sepertinya mereka tidak berjodoh, buktinya tak ada kabar buruk yang muncul. Alias pernikahan mereka.