
Saat ini sudah setahun aku dan Marsel berpura-pura pacaran. Selama ini sih dia baik, perhatian dan kadang sok jadi pacar beneran. Tapi dia masih wajar lah tidak yang neko-neko gitu.
Sepulang kerja aku janjian sama dia tapi anehnya biasanya dia datang tepat waktu eh ini lama banget aku nunggunya.
Rasanya udah capek habis kerja dan sekarang nungguin orang yang bahkan bukan siapa-siapa aku lama banget.
Hingga sudah lewat sejam aku nungguin dia, bahkan sudah terdengar suara adzan yang aku sukai walau nggak ngerti artinya apa. Namun setiap mendengarnya aku kadang bergetar.
Karena sudah lama aku memutuskan untuk jalan ke kosan, namun sebelumnya aku sudah chat Marsel kalau aku tunggu di kos aja.
Baru nyampe pagar kos Marsel datang dengan mobilnya, dia terlihat kacau.
Pakaiannya berantakan, aku nggak pernah lihat dia seperti ini. Dia selalu rapi dan harum.
"Ai" panggilnya begitu sudah ada didepan ku seketika dia memelukku.
Pelukannya erat, mungkin dia lagi ada masalah. Baiklah aku ijinkan dia memelukku.
"Sebentar, cuma sebentar Aina" pintanya ketika aku berusaha melepaskan diri karena sudah agak lama bagiku.
"Ada apa? " tanyaku
Dia tidak jawab, hanya diam malah membenamkan wajahnya kedalam ceruk leherku.
Ada apa ini orang?
Setalah dirasa puas, dia melepaskan pelukannya. Tapi dia malah hendak mencium bibirku.
Aku berhasil menghindar, apa coba dia ini? mau mencium ku?
Aku keberatan, dia bukan siapa-siapa aku bagaimana bisa ingin melakukan itu.
"Kalau mas Marsel lagi ada masalah kita bicara besok saja aku mau masuk, capek"
"Ayo kita bicara" dia menarik ku kedalam mobil.
***
Marsel membawaku ke hotel, katanya agar lebih nyaman dan privasi gitu.
"Aku nggak mau ke kamar kita bisa bicara di cafe nya saja" aku menolak ketika Marsel hendak memesan kamar.
Gila aja, aku yakin aku nggak aman nantinya. Tadi aja dia mau mencium aku. Sekarang dia mau bawa aku ke ke kamar hotel? pasti bakalan minta dan ngerinya memaksa lebih dari itu.
"Baiklah" dia menyetujuinya ternyata.
Namun dia memilih privat room didalam cafenya.
Sialan, ini sama aja dia bakalan bisa mengurung ku nantinya.
Ketika masuk, pintu aku buka lebar.
"Tutup Ai, nanti kalau ada yang denger gimana? "Marsel sudah duduk di sofa.
" Enggak, nggak ada juga yang bakalan denger. " aku ngeyel.
"Mau makan dulu? " Marsel membolak-balikkan buku menu.
Dia sudah terlihat baik-baik saja,sudah bisa tersenyum.
Kayanya setan yang merasuki Marsel tadi sudah pergi.
"Kenapa? takut aku apa-apain? "ledek Marsel seperti tahu isi kepalaku.
" Enggak"
Kemudian kami memesan makan malam.
"Lagian kita ini kan pacaran masa nggak pernah ngapa-ngapain selama setahun ini? " kata Marsel santai, sambil melipat kedua tangannya lalu nyender di senderan sofa.
"Itu tahu kita udah setahun, jadi kita bakalan berhenti pura-pura nya. "
Ketika menunggu makanan datang Marsel malah sibuk dengan HP nya katanya harus memeriksa pekerjaan yang selain di Bc.
Dia walau pns tapi usaha yang lainya banyak. Sama kaya Jeno, cuma bedanya Marsel versi dewasa Jeno versi urakan. Marsel sudah sukses sedangkan Jeno masih merintis.
Loh kok jadi bandingin Jeno sih?
Ketika pesanan datang aku langsung memakannya,emang sudah sangat lapar aku.
"Kelaparan neng? " ledek Marsel.
"Hem, nungguin kamu lama banget."
"Cieeee yang nungguin" ledek nya lagi.
Aku nggak peduli, dia emang kadang iseng. Jadi tadi ketika dia mau nyium aku rasa karena sifat iseng nya dia. Bukan yang apa-apa.
Setelah aku menghabiskan makanan ku.
Aku segera memulai pembicaraan.
"Jadi besok kita udah nggak pacaran lagi ya mas, udah habis kontrak nya. " aku langsung ke intinya.
"Seminggu lagi, sabtu ada acara anniversary papa mama, mereka mau ada pesta gitu. Nggak mungkin kan aku kasih tahu mereka kalau aku putus dengan mantu kesayangannya saat mereka lagi bahagia gitu? " Marsel menunda waktu putus kami.
"Baiklah, tapi beneran ya habis pesta ! "
"Iya, iya. Lagian Gres udah balik dia aku kasih tahu tentang kamu. Dan dia ngerti dan memberi waktu. Nanti kita kasih tahu bersama-sama kalau kita putus karena kamu mau fokus ke karir dulu dan aku bakalan bilang kalau aku sudah punya pengganti kamu. Gimana? " penjelasan Marsel yang tidak aku mengerti.
"Jadi Gres ada di Indonesia? "
"Yah, tadi sempet berantem gitu kami. Karena dia salah paham tentang kamu, ada yang ngefoto kita saat acara klub motor lalu dikirim ke Gres. Aku coba jelaskan ke dia lalu akhirnya ngerti. "Marsel akhirnya cerita tentang keadaanya tadi saat terlihat kacau.
Dia bisa cepat langsung tenang.
"Aku pikir kamu udah cerita ke dia dari dulu"
"Dia tipe posesif"