Aina

Aina
Ep 94



Habis diomongin orangnya nongol seketika. Dia suka sekali seperti ini, padahal ruangan kami tidak dekat sama sekali.


Setelah mengetuk pintu yang hanya sebagai formalitas pak Doni langsung menatapku.


"Nanti pulang bareng saya ya Ai" katanya seenaknya.


"Hah? " aku bingung ditanya spontan seperti itu.


Mbak Fera menyenggol lenganku, "iya Pak nanti Aina pulang bareng bapak"


"Oh iya, pentasnya anak-anak hari minggu ini ya Fer? " kini pak Doni ngajakin mbak Fera ngomong.


"Iya Pak, jangan lupa bawa mama baru buat Misel biar nggak ngambek lagi" mbak Fera bilang gitu sambil ngelirik aku.


Lalu pria itu pergi.


"Pasti nanti lo diajak ke sekolah anaknya" celoteh mbak Fera.


Waduh, ngapain.


"Kenapa gue? "


"Lihat aja nanti" mbak Fera percaya diri.


Aku juga khawatir. Karena emang dia kan pernah ngajak juga. Ah sudahlah nggak usah dipikirin.


***


Sepulang kerja, aku enggak nungguin pak Doni. Seperti biasa aku berjalan menuju kosan aku. Ketika baru sampai ujung jalan hendak mau nyebrang, ada seseorang yang berlari dari belakangku.


Pak Doni, ternyata.


"Kok saya ditinggal? " tanyanya sambil mengatur nafas.


"Rumah bapak kan nggak searah kosan saya"


"Siapa bilang? "


Apa yang dia maksud? apa dia pindah di daerah kosan aku?


Kami berjalan beriringan sambil nyebrang jalan yang cukup padat kendaraan.


"Enak ya ternyata pulang pergi kantor jalan kaki. " katanya begitu kami berhasil menyebrang.


"Bapak pindah ke daerah sini? "


"Hem, kemarin"


Lalu kami hanya berjalan hingga masuk gang.


"Kenapa lewat gang sepi sih Ai? kamu tiap hari lewat sini? " tanyanya saat kami menyusuri gang yang emang agak sepi kalau sudah habis magrib.


Emang tadi aku lembur sejam karena gara-gara kebanyakan ngegibah sama mbak Fera jadi keteteran.


"Biasanya ramai kok pak"


"Kalau udah agak malam gini lebih baik lewat jalan besar, biar aman" ceramah deh dia.


"Jauh bapak, harus muter. "


"Ya kan bisa naik ojek atau saya antar mungkin"


Aku nggak menanggapi kalimatnya. Begitulah aku kalau ucapannya nggak jelas aku males menanggapi.


"Itu rumah saya di ujung, sudah terlihat. Kosan kamu dimana? " katanya begitu kami sudah sampai depan kosan ku.


"Ini" tunjuk ku


"Oh dekat ya, kita bertetangga"


Yah kebetulan yang aneh.


"Kamu mau mampir ke rumah saya?" tanyanya mengagetkan.


Apaan coba? dia ini duda masa ngajakin aku mampir.


"Tidak pak, lain kali saja" tolak ku.


Aku hendak masuk kosan, tapi ditahan sama dia.


"Sebentar saja Ai, saya butuh bantuan kamu" dia agak memaksa ternyata.


Entah dia butuh bantuan apaan coba.


"Baiklah Pak"


Akhirnya aku menuruti kemauan tetangga baruku ini.


Kawasan perumahan ini memang kawasan atas. Rumahnya besar-besar, ada yang ditinggali sendiri ada yang buat kos-kosan ada juga yang buat usaha seperti penginapan, kafe dan restoran.


Rumah pak Doni tergolong besar, pagarnya tingga hingga bagian dalam tidak terlihat. Jadi aku bahkan nggak tahu sebelum pak Doni siapa yang menempati.


Ketika masuk kedalam, sudah berjejer dua mobil milik bos ku itu yang biasanya ia pakai.


"Ayo" pak Doni menarik lenganku.


Kemudian dia membuka pintu, lalu aku lihat rumahnya masih agak kosong belum begitu banyak perabotan. Justru yang ada banyak mainan berserakan kesana kemari.


Ini pasti ulah anaknya.


"Misel" pak Doni memanggil putri nya" papa pulang sayang"


Tidak ada sahutan, malah yang muncul wanita paruh baya.


"Non Misel ada di kamarnya tuan, dia masih ngambek. " tutur wanita itu dengan sopan, nampaknya dia seorang art.


"Ya sudah biar saya kesana saja. Tolong buatkan minum buat tamu saya" pak Doni menyuruh art nya tersebut.


"Baik tuan" kemudian berlalu ke belakang.


Pak Doni mengajakku ke atas, entah kenapa aku nurut aja.


Kami memasuki sebuah kamar. Lalu nampak gadis cantik yang berumur sekitar 5 tahunan sedang bermain sendiri.


"Misel, papa pulang nih" pak Doni dengan senyum senang.


Misel tidak memperdulikan papanya, dia tetap bermain.


"Lihat, ada tamu nih. Masa Misel nggak mau menyapa tamunya. " kata pak Doni sambil berjongkok menyejajarkan tubuhnya agar sama dengan anaknya.


Misel akhirnya menoleh. Dia melihatku.


Lalu anak itu tersenyum padaku, memperlihatkan giginya yang gigis.