
Marsel segera membawaku pergi dari acara tersebut.
Malam semakin dingin pahaku merasa kedinginan. Apa gunanya memakai jaket dibadan sedangkan kaki ku kedinginan, sepertinya baju rekomendasi dari Angel ini tidak sesuai dengan keadaan.
Aku ingin sekali memeluk Marsel dari belakang tapi aku malu, tidak semestinya kaya gitu juga.
Setiba di kosan aku segera turun.
"Kamu sudah lupain itu anak kan? " pertanyaan tiba-tiba dari Marsel muncul saat aku memberikan helm padanya.
Aku bingung yang dimaksud anak itu siapa?
"Apa terlalu sulit? " tanya dia lagi.
Apa yang dia maksud Kalvin?
"Maksud mas Marsel itu Kalvin? "
"Emang siapa lagi mantan kamu? " pertanyaan lagi.
Yah cuma Kalvin aja, nggak ada yang lain
"Aku lihat tu anak masih belum bisa lupain kamu" tepak Marsel.
"Itu bukan urusan aku, aku sudah nggak ada rasa kok sama dia mas"
"Terus kenapa kamu masih ngebelain dia tadi? seharusnya biarin aku pukul dia sampai mampus. Kamu juga sama aku cuma gitu-gitu doang nggak mau deket-deket ke aku. Deket cuma karena akting aja. " Marsel kenapa sih kok ngomong gini.
"Mas Marsel ngomong apaan? ya emang kita cuma bohongan kan? jadi apa aku salah? "
Marsel menghidupkan motornya. "Ah sudah lah aku balik ya" langsung pergi deh.
***
Tiba didalam kamar aku langsung menelpon Angel memberitahu kejadian tadi ke dia.
"Seriusan dunia sesempit ini? lo ketemu Kalvin? " Angel malah tidak percaya.
"Heh, bukannya hotel king juga bekerja sama dengan perusahaan lo ? "
"Iya tapi ini itu klub motor, dia ada juga disana? hebat benar itu anak" Angel masih tidak percaya.
Setelah obrolan panjang dengan sahabatku itu aku merenung tentang Kalvin.
Apa dia yang udah nyebarin gosip itu?
***
Rasa penasaran ku membuatku tidak bisa fokus kerja.
Saat masih kerja aku bersantai sejenak ke ruang pantry sambil membuat teh. Aku menelpon Bunga dia mungkin tahu sesuatu.
"Apa ada yang nyariin aku Bunga? " tanyaku setelah berbasa-basi sebelumnya.
"Iya beberapa bulan lalu, katanya namanya Jeno dia ganteng banget Ai. Aku rasa dia yang datang waktu itu menemui bapak kamu. Tapi bukan dia yang menyebarkan gosip. Aku sudah tanya ke suamiku yang juga ikut ngobrol dengan Jeno. Dia ternyata waktu itu cuma membeli kopi saja. " cerita Bunga yang bikin aku lega memang bukan Jeno.
"Terus kamu dapat info apa lagi? "
"Tidak ada nanti kalau ada aku kasih tahu. " jawabnya, " eh tapi aku bertemu Dito dengan pria yang mirip Kalvin tapi entahlah aku nggak yakin itu Kalvin mantan kamu yang jelek itu. Karena dia terlihat tampan. "
Jadi beneran Kalvin pelakunya?.
Rasanya ingin sekali minta maaf pada Jeno tapi entahlah aku juga bingung sudah lama aku membuka blokiran nya tapi dia tidak menghubungi aku.
Mungkin karena yang dia tahu aku berada didalam suatu hubungan dengan orang jadi dia tidak akan menggangguku. Seperti dulu saat aku berpacaran dengan Kalvin dia juga tidak pernah mendekatiku sama sekali.
Prinsipnya sudah benar, tapi aku merasa kehilangan dia. Ingin sekali aku bilang ke Jeno kalau aku tidak pacaran beneran sama Marsel tapi kontrak ku dengan Marsel melarangnya. Bahkan Angel saja tidak aku beritahu, sebagai sahabat baikku.
"Ehm, ngelamun aja. Kerja sana! " suara itu mengagetkan aku, itu suara pak Doni direktur perusahaan ini. Aduh gawat ini...
"Iya Pak, ini lagi bikin teh. Bapak mau saya bikinkan juga? " aku berusaha tenang.
"Nggak usah, saya bisa bikin sendiri." katanya sinis.
"Ya sudah saya permisi ya bapak" aku hendak keluar.
Tapi dia bersuara lagi, " Aina kamu sudah punya pacar belum? " pertanyaan aneh, ngapain juga dia tanya itu.
"Emm belum pak, permisi" jawabku segera aku pergi.
Ketika berada di ruangan ku mbak Vera sibuk mengetik tapi dia berhenti ketika aku masuk.
"Tadi dicariin pak Doni,Ai" katanya.
Apa coba? tadi ketemu dia nggak bilang apa-apa. Malah nanya yang nggak penting.