Aina

Aina
Ep 56



"Gara-gara elo itu gue mesti kerja lagi cari orang buat jadi model iklan lagi. " Celoteh Zen tim marketing yang ketika aku ke ruangannya.


Anak buahnya juga melihatku aneh, kaya melihat tersangka gitu.


"Gue bisa jelasin, ini semua. Pertama gue minta maaf soal ini. Dan gue nggak tahu kalau Gres menyangkut pautkan masalah pribadi dan kerjaan. Dari awal gue juga nggak kenal dia,nggak tahu siapa dia yang ternyata dia menaruh dendam sama gue. Padahal dia salah paham juga, kalian percaya gue ngerebut pacarnya? emang siapa gue bisa berani ngerebut pacar model terkenal. "


Keempat orang tim marketing ini mendengarkan aku dengan baik.


"Gue sebenarnya juga curiga Gres yang datang kemari sendiri yang nawarin diri tapi syaratnya melibatkan Aina. Padahal Aina bukan tim marketing. " kata salah seorang anak buah Zen yang namanya Rama.


Lalu disetujui semuanya.


"Terus kita harus cari lagi model iklan kita, dan gue nggak tahu siapa" Zen nampak putus asa, padahal belum usaha.


Semua diam termasuk aku.


"Gue juga bakalan bantu kalian, apa aja kalau kalian butuh bantuan gue kalian bilang aja. "


Semua mata tertuju padaku, kan aku jadi merasa aneh.


"Folowers lo berapa Ai? " tanya Zen.


Folowers? pengikut di medsos gitu kayanya maksudnya? kok jadi nanyain itu.


"Nggak banyak, gue jarang buka medsos. " jawabku.


"Coba lihat berapa? " Zen menengadahkan tangannya.


Aku langsung membuka HP ku, dengan cepat langsung ke ig. Disitu tidak ada fotoku sama sekali melainkan kalau nggak makanan ya pemandangan.


Aku berikan pada Zen.


"Lo cakep tapi nggak pernah majang foto lo, heran dah. " Zen dengan seenaknya sendiri melihat-lihat ig ku.


"Gue ikutin lo nih, sekarang lo pasang muka lo biar banyak yang ngikutin lo. " kata Zen yang cenderung memerintah ketika dia memberikan kembali HP ku.


"Gue nggak suka pajang foto gue"


Muka mereka kecewa.


"Lagian apa hubungan ig gue sama masalah ini."


Ada seseorang yang bernama Sakir yang sedari tadi stay cool dipojokan sambil dengerin kita, dia tiba-tiba berdiri. Langsung narik aku agak menempel padanya. Dan dia mengeluarkan HP lalu 'cekrik' dia berfoto selfi sama aku.


"Hapus nggak? " aku nggak suka aja dia mengambil fotoku begitu aja.


"Ogah, bakalan gue bikin status 'pacar baru ini gaes' " Sakir lalu tertawa dengan candaan garingnya itu.


Aku kira dia pendiam ternyata sakit jiwa.


"Bener kata Sakir, lo itu cakep dan kalau lo mau bisa jadi selebgram terkenal atau model lo juga tinggi. " kata Rama memujiku berlebihan.


Tidak terpikir olehku tentang menjadi orang yang terkenal seperti itu.


"Jadi lo aja yang jadi model iklannya. Kita bisa pakai medsos perusahaan aja dulu, selama modelnya good looking bakalan menarik kok. Gimana mau kan Ai? " Zen tanpa beban bilang seperti itu.


"Kok jadi gue? gue kan nggak bisa akting "


"Ngapain mesti akting, lo pernah makan kan mie kita? ya lo bikin apa adanya kan rasanya juga enak kan? " kini Rama menambahkan.


Aku diam,kenapa malah jadi aku yang mereka tunjuk emang nggak ada yang lain.


"Kalian cari dulu aja selebgram yang lain kalau nggak nemu baru gue deh"


"Ok, deal ya! " seru Zen yang terlihat menyebalkan bagiku.


***


Sorenya ketika aku hendak pulang dihadang oleh pak Doni.


Duh apa lagi ini, masa aku dimarahin lagi.


"Kata tim marketing mereka mau makai lo buat modelnya. " kata pak Doni yang bikin aku menganggukkan kepala.


"Tapi saya belum setuju, mereka mau cari model lain dulu pak"


"Kamu aja, saya setuju banget kamu yang paling pas. Nanti kamu saya kasih bonus juga. "


Denger kata bonus aku jadi tersenyum, tapi ya jelas aku bakalan dikasih.


"Lagian ini bisa menebus kesalahan kamu, bisa meminimalkan bajet juga. " pak Doni ternyata menyalahkan aku masalah kemarin.


"Baik pak saya akan kerja sama dengan tim marketing saya akan jadi modelnya, tapi saya nanti kalau bikin kesalahan lagi gimana pak? saya kan nggak jago didepan kamera? " aku putuskan itu tapi masih ragu juga.


"Gampang itu, kamu ikutin arahan mereka nanti bisa"