Aina

Aina
Ep 67 Jeno lagi



Aina sudah dipindahkan keruangan pasien. Setelah tadi divisum juga buat bukti laporan polisi. Tapi dia belum sadarkan diri, kata dokter mungkin dia lelah dan tidur sebentar lagi akan bangun karena masa kritisnya sudah berakhir.


Gue lihat tangan Aina diinfus dan kepalanya diperban, pipi kanannya juga lalu entah bagian mana lagi yang terluka dia terbungkus selimut. Gue emang menemukan dia dengan kening dan pipi berdarah. Yang penting dia sudah melewati masa kritisnya.


Gue duduk di sofa yang ada dipojokan. Angel yang sudah dari tadi datang masih cemas berada di samping sahabatnya itu. Tadi dia juga marah-marah karena gue nggak kunjung menjawab telponnya.


Angel datang sendiri dengan paniknya.


"Gue nyariin kalian ke seluruh rumah sakit terdekat, tadi gue udah kesini dan nggak ada yang tahu. Terus gue balik lagi, apa yang gue tanyain ke suster?" ceritanya.


"Apa? "


"Mbak lihat idol k-pop bawa pasien nggak? " katanya bikin gue melotot.


"Terus mbaknya bilang, oh yang tadi telanjang dada itu ya? aduh kami semua nggak kuat lihatnya." dengan muka dibuat-buat. " lo gila kenapa nggak pakai baju heh? "


Gue ceritain kejadian saat gue nemuin Aina hingga sampai rumah sakit.


"Wahhh lo so sweet banget sih Jeno, pasti Aina kalau denger ini bakalan seneng banget. " katanya tanpa beban.


"Sweet apaan, gue malu banget dan gue juga kedinginan bego! "


Lalu apa yang gue lihat ternyata Aina membuka mata, walau belum sempurna gue rasa tadi dia denger apa yang gue bilang.


"Aina? lo udah sadar? " Angel bahagia.


Aina mengangguk lemah.


Angel berdiri, "gue panggil dokter dulu ya" lalu pergi.


Gue mendekat


"Gimana masih sakit? " kenapa gue tanya itu? ya jelaslah sakit.


Aina menggeleng lagi, " makasih Jeno lo udah nolongin gue. "


Gue duduk di kursi sebelah Aina.


"Iya udah kewajiban gue buat nolongin. "


"Gue nggak tahu apa yang akan terjadi kalau lo nggak datang tepat waktu, gue kayanya bakalan mati" katanya lebih bersemangat dari pada tadi.


"Nggak boleh ngomong gitu, udahlah sekarang lo istirahat biar pulih."


Lalu dokter datang bersama satu suster dan Angel. Gue bangkit dari duduk, memberi sela pada mereka.


Dokter langsung memeriksa Aina.


"Iya dok, makasih dokter ganteng" itu suara Angel, karena dokternya masih muda. Gatel!


"Iya sama-sama" dokter itu kemudian meninggalkan ruangan.


Lalu kata suster harus mengurus administrasi, Angel langsung mengikuti suster itu.


"Lo tidur lagi aja, kalau butuh sesuatu bilang aja. "


Gue lalu duduk di sofa, rasanya ngantuk banget. Hah, gue dari tadi malam ketemu malam lagi nggak tidur dan nggak mandi. Rasanya letih sekali.


Ya udah gue nyender siapa tahu gue bisa tidur.


Baru memejamkan mata, udah ada yang datang. Ternyata tante Mery dan om Dewa.


Setelah menyapa gue balik ke sofa tadi.


Mereka bercakap-cakap menanyakan kondisi Aina.


"Jeno dari kemarin kamu nggak istirahat, lebih baik kamu pulang saja biar tante yang jagain Aina." kata tante Mery.


Gue sih nggak keberatan kalau harus disini tapi sudah ada mereka yang juga peduli dengan Aina. Apa gue pulang aja?


Lalu setelah Angel balik gue pamit pulang, om Dewa juga ikut sama gue.


Di saat kita udah di luar ruangan om Dewa mengajak gue buat ngobrol sambil minum kopi di dekat rumah sakit. Ini gue nggak butuh kopi om, tapi butuh tidur. Ya udah lah gue anak baik jadi nurut lah.


"Tadi om ditelpon Angel, Aina sudah ketemu katanya dia diculik sama mantan pacar Marsel, om masih nggak ngerti kok bisa kaya gitu? " om Dewa mulai bicara saat kami mulai duduk.


"Kalau masalah itu saya kira om tanya sama bang Marsel, saya nggak ngerti juga om. Saya cuma mau menolong Aina aja udah. " jawab gue. Gue nggak mau jadi tukang ngadu, biarin bang Marsel yang jujur.


"Marsel sekarang sedang mengurus mantan pacarnya itu. Dia nggak mau lapor polisi, om jadi bingung padahal ini kriminal" gue denger itu langsung agak emosi.


"Jadi Gres nggak dipolisikan? tadi saya juga minta agar Aina divisum buat laporan ke polisi, tapi bang Marsel malah membiarkannya gitu aja? hah"


"Om juga bingung, Marsel seolah melindungi perempuan ini. " om Dewa juga bingung ternyata.


Sialan itu Marsel!


Kopi datang.


Gue langsung menyerup mesti panas. Gue butuh energi buat berpikir bagaimana baiknya. Gue sih nggak menerima kalau orang yang buat Aina sampai hampir mati dibiarkan gitu aja. Kalau dia cowok udah gue bikin mampus. Sayang sekali cewek.


"Kita laporan aja om, saya nggak terima kalau si pelaku tidak dihukum. "


Om Dewa setuju, "kita tanya Aina juga apa dia mau melaporkannya. "