
Tadi makan malam di kafe dengan makanan pesan dari luar bersama semua karyawan Jeno, lalu habis itu aku diantar pulang.
"Setelah hari ini hingga berangkat ke Batam gue jemput pulang kerja. " kata Jeno sebelum aku masuk kosan.
Aku hanya diam, mungkin dia mengira aku setuju saja.
Tiba di kamar sudah ada Angel. Dia memang punya kunci kamarku.
"Kemana aja sih lo Ai? " Angel terlihat khawatir.
"Ke kafe nya Jeno. Lo ngapain disini? " aku merebahkan diriku.
"Lo balikan sama Jeno? " pertanyaan aneh.
"Sejak kapan gue jadian sama dia? "
"Habisnya tumben banget lo jalan sama dia hingga larut malam gini? " Angel ikut merebahkan diri.
"Gue ditawarin buat kerja di kafe nya dia.... " dan seterusnya aku menceritakan pada Angel.
"Dia cuma mau memanfaatkan lo aja" tanggapan Angel yang bikin aku kesel, mana mungkin Jeno seperti itu.
"Gue pikir enggak juga, dan kafe sebenarnya butuh perhatian lebih eh malah dia harus pergi. "
"Tapi lo masih dalam masa pemulihan Aina, bukannya istirahat malah udah kerja e malah mau kerja juga di kafenya Jeno? " Angel terlihat peduli emang.
"Gue udah sembuh Angel"
"Tadi gue juga udah mengkonfirmasi ke wartawan kalau masalah ini udah selesai dan hanya salah paham saja.Tapi gue merasa nggak ikhlas karena Gres dibiarkan gitu aja. " cerita Angel mengenai hari ini.
Aku memeluk sahabatku itu, "sudah tidak apa-apa nanti biar Tuhan yang membalasnya. "
Angel mengangguk. Lalu kami tidur.
***
Pagi harinya aku berangkat ke kantor seperti biasanya berjalan kaki, tadi Angel belum bangun katanya mau berangkat siang. Tidak heran orang dia anak pemilik perusahaan jadi terserah dia mau datang kapan ke kantornya.
"Pagi Aina, tidur nyenyak tadi malam? " suara itu mengagetkan aku.
Itu suara pak Doni ketika aku baru sampai ruangan ku, dia berada ternyata ada di belakangku.
Haduh, kenapa sih ni orang pakai nanya segala.
"Iya tentu saja pak" aku hendak masuk tapi dihalangi olehnya.
"Yang kemarin bukan pacar kamu? " dia kepo lagi
"Beneran? " dia ngeyel
"Bukan bapak" aku merasa kesal.
"Terus siapa? " lagi
"Teman"
"Teman apa? " waduh kenapa sih ini orang.
"Ehm, maaf Pak saya mau lewat. " kini datang mbak Fera penyelamat aku.
Lalu pak Doni memberi jalan aku segera masuk bersama mbak Fera.
Pak Doni menyerah, dia lalu pergi ke ruangannya.
"Ada apa lo sama pak bos? " tanya mbak Fera dengan nada menggoda.
"Tidak ada apa-apa mbak" jawabku sambil duduk.
"Kemarin diajak makan siang bareng, sekarang pagi-pagi udah ngobrol asik" waduh
"Asik apaan mbak, dia agak aneh. "
"Nggak aneh sih wajar aja, dia sendiri lo sendiri jadi kalau mau jadi berdua juga nggak masalah. " mbak Fera ngelantur.
"Dia ada anaknya mbak"
"Duren menggoda lebih tepatnya" mbak Fera ada-ada aja.
"Gue nggak bisa jadi ibu tiri yang baik mbak, jadi dari pada nambah dosa. "
"Waduh, sudah jauh yah pemikiran lo Ai? gue cuma godain lo eh malah lo nya kepancing. Apa si bos suka sama lo? " kayanya tadi kalimat ku salah. Ini malah membuat mbak Fera berpikir ke situ.
"Enggak, dia nggak suka tapi agak aneh aja. "
"Hem, dia lagi ngedeketin lo. Dan mencoba mengenal lo lebih dekat siapa tahu cocok jadi ibu tiri anaknya. " mbak Fera menyimpulkan demikian.
"Terserah dia deh" yang penting aku harus bisa jaga hati ini.
Hati ini sudah ada yang menempati walau entah bagaimana nanti endingnya kita karena masih ada dinding yang tinggi.
Apa aku terjang saja dinding itu? biar roboh? tapi masa aku?