
Kami turun ke lantai satu, sebelumnya Sifa memakai kerudungnya dulu. Entahlah padahal tadi diatas dia tidak memakai kerudungnya. Lalu dia segera membuka makanan itu diatas meja satu-satunya yang terlihat olehku dirumah ini.
"Ayo mbak makan" ajaknya Sifa yang sekarang duduk dikarpet, siap memakan makanannya.
"Ini rumah kamu Sifa? " tanyaku sambil membuka bungkusan makanan. Yang ternyata nasi goreng
"Mbak Aina belum pernah kesini? " tanyanya malahan.
Aku menggeleng.
"Rumah mas Jeno, aku kira mbak Ai sudah tahu. " jawabnya yang menjawab kebingungan ku dari tadi.
Luar biasa Jeno sudah bisa punya rumah bagus di usianya yang masih muda.
"Rumah orang tuanya gitu? "
"Bukan, bude nggak punya rumah di Indonesia. Ini rumah pribadi mas Jeno, dia yang beli sendiri dan aku cuma numpang sedangkan Viola ngekos karena aku ajakin biar ada temannya. Mas Jeno jarang pulang, dia kan tugasnya di Surabaya bahkan nggak pernah pulang akhir-akhir ini. " jawab Sifa panjang. Yang bikin takjub adalah kalau menjawab pertanyaan dia berhenti makannya.
Aku jadi tidak enak mengganggu dia makan.
Setelah makan selesai Sifa dengan sigap merapikan kembali sisa bungkus dibuang dan merampas sendok yanga aku pakai tadi untuk ia cuci.
Benar ada dapur disini, tapi dapurnya tidak banyak berabotnya hanya berisi kompor dan kulkas saja.
Kami keluar dari dapur, lalu hendak menaiki tangga. Ada sebuah pintu berkode disamping tangga.
"Ini kamar Jeno? " tanyaku
"Iya mbak" jawab Sifa sambil naik.
"Ada kode nya gitu? "
"Hem, biar tidak akan ada yang bisa masuk kedalam kamarnya. " jelas Sifa.
Lalu kami tiba dikamar Sifa.
Tadi aku dijalan merindukan Jeno, sekarang aku ternyata ada di rumahnya. Yah walau nggak bisa bertemu dia tidak apalah jadi aku sudah tahu dimana biasanya dia akan pulang.
"Mbak Ai, kayanya hujan lagi. Lebih baik mbak nginep ya? " tawar Sifa.
Aku melihat jendela, memang dibalik nya hujan mulai deras lagi padahal tadi sempat reda. Jam juga sudah menunjukkan pukul 9 malam jadi mungkin Sifa ada benarnya juga.
"Iya, mbak nginep. Kamu tidur aja dulu"
Sifa akhirnya tidur.
,,,,
Aku tidak bisa tidur padahal sudah jam 11an biasanya jam segini aku sudah bisa tidur. Lalu aku memutuskan keluar kamar dan ingin mencari minum di dapur.
Aku turun tangga, aku melirik pintu kamar yang katanya kamar Jeno. Akan sangat menyenangkan kalau yang punya ada disini. Aku bisa melepas rinduku.
Sesampainya di dapur aku hanya mendapati air putih baiklah aku suka.
Setelah minum aku hendak naik tangga tapi aku malah salah fokus sama pintu berkode itu.
Orang ini aneh banget, kamar aja pakai di kode segala. Kira-kira apa ya kodenya, huh jadi penasaran.
Terus aku coba mendekat, dan mencoba apa kira-kira kodenya. Aku coba tanggal lahir dia tidak bisa, nomer HP dia tidak bisa, nomer rumah dia tidak bisa. Apa dong? apa tanggal lahir orang tuanya? hah mana aku tahu.
Hah apa aku coba tanggal lahir aku? tapi masa pakai tanggal lahirku, sebucin itukah dia? tidak mungkin jadi geer kan akunya.
Dan aku dengan percaya diri mencoba tanggal lahir ku, ternyata bisa terbuka. Astaga Jeno bisa-bisanya pakai tanggal lahirku buat kode pintu.
Baiklah, karena bisa kebuka jadinya aku penasaran dong sama dalamnya.
Aku masuk, kamarnya layaknya kamar cowok pada umumnya cenderung warna gelap. Ada rak buku besar dipojokan dekat meja belajarnya.
Kamarnya cukup rapi,mungkin karena tidak ditinggali jadi rapi coba ada orangnya aku yakin bakalan berantakan.
Aku lalu menghempaskan diriku ke tempat tidur.
Enak juga kasurnya empuk, dia memiliki selera tempat tidur bagus.
Aku hirup bantalnya tercium aroma parfum Jeno, walau sedikit pudar. Tapi ini sangat menenangkan dan aku suka aromanya.
Apa tidak apa-apa aku tidur disini? kayanya bakalan nyenyak deh.
Benar aku tidur,
Hingga memimpikan Jeno datang, dia memandangiku saat aku tidur. Dan aku tidak mau bangun kalau bisa bertemu Jeno walau hanya didalam mimpi.