Aina

Aina
Ep. 104



Gue buru-buru mengejar Aina dengan menaiki ojek yang mangkal di pojok perumahan.


Abang ojek yang gue sewa ternyata nggak bisa mengejar Aina.


"Bang cepetan dikit dong"


Dia hanya mengangguk.


Setibanya di depan kafe, Gue lihat Aina masih ada diparkiran. Dia barusan turun dari motornya.


"Na, lo cepet banget naik motornya" gue mendekat setelah membayar ojek ku tadi.


"Ya kali, gue kan bukan siput" dia sambil merapikan hudi yang dia pakai.


Lalu kami masuk ke dalam kafe.


Hari ini hari sabtu,jadi kafe di sore hari seperti ini lebih ramai. Dan akan ramai hingga nanti malam sebelum tutup.


"Cieeee couple kita sudah datang nih" suara ricuh terdengar menggelegar menyambut gue dan Aina. Itu suara Abi, sang manager baru kita.


"Halah kapel apaan, nggak di nikah-nikahin aja" itu ledek Bayu.


"Anj**"


Mentang-mentang sigembul itu sudah nikah jadi gampang banget ngeledekin orang tentang nikah.


Aina cuek, dia langsung melakukan pekerjaannya.


Lalu dari dalam ruangan khusus karyawan muncul cewek pakai seragam karyawan kafe.


Gue rasa dia pegawai baru, gue belum pernah lihat.


Dia nampak menatap gue yang sedang asik ngobrol dengan Abi dan Bayu.


"Wao siapa ini?ganteng banget? " puji dia tentu saja buat gue.


"Siapa? abang Abi ya?" Abi yang kepedean.


"Ish, bukan itu yang kaya Lee jong suk" cewek itu ngebandingin gue sama aktor Korea lagi.


"Ini siapa? cantik juga, baru ya mbak nya? " gue rasa dia cantik juga.


"Ehm, iya enggak juga sudah dua bulan lebih sih. Masnya karyawan baru hari ini? " wanita itu ngira gue karyawan baru lagi. Dan nada bicaranya kaya betina gatel. Pasti seneng gue puji tuh.


"Istighfar bos, nyonya melotot loh dari tadi" Abi niatnya memperingatkan gue.


Bener sih Aina kaya pura-pura cuek. Tapi mata dan telinganya kayanya ngawasin gue.


"Loh, maaf apa mas nya pacar mbak Aina? mas Abi kok nggak bilang sih. Maaf ya mbak saya nggak tahu loh." kasir itu mendekat ke Aina yang duduk di meja kasir yang tadi menggantikan jadi kasir.


Aina tersenyum,


"Bukan kok Lita, dia bukan pacar gue. Tenang aja. Tapi lo harus hati-hati dia itu bos besar kafe ini" kata Aina dengan lembut.


Yang dipanggil Lita langsung menutup mulutnya.


Lalu dia mendekati gue lagi,


"Maaf maaf Pak bos, saya nggak tahu. Sejak kerja disini cuma dengar tentang anda doang. " Lita minta maaf.


"Enggak papa, lagian lo juga muji gue dan itu fakta bukan ngeledek. Ya udah lo kerja lagi aja. "


Aina pergi ke ruangan khusus karyawan.


Gue nyusul dia.


Disini ada sofa panjang dan lemari loker buat para karyawan istirahat dan juga sholat juga bisa disini. Ini ide Aina dulunya hanya gudang nggak jelas.


Kafe sangatlah maju ditangan Aina, yang tadinya cuma kecil sekarang sudah menjadi kafe terkenal yang diminati oleh berbagai kalangan.


"Besok gue berangkat ke Malang pagi, dan lusa ada peresmian kafe di Batu,terus semua karyawan kesana sekalian buat liburan. Nah gue masih mikir apa nggak papa kita libur 2 harian." Aina mulai bicara.


"Nggak masalah, kan libur di hari senin dan selasa aja kan. "


"Rencananya anak-anak malah berangkat besok malam. Jadi habis tutup langsung berangkat biar nyampai sana senin pagi. Lalu sorenya acara opening. Dan habis itu mereka liburan hingga selasa. Malam rabu baru kembali dan sore kerja lagi. Apa mereka nggak capek apa?" Aina menceritakan jadwal para karyawan selama libur.


Dia ini tipe bos yang selalu memperhatikan para karyawannya. Makanya banyak yang betah kerja di kafe ini.


"Lo udah bikin kesepakatan sama mereka? "


"Udah, justru itu yang mereka minta." Aina menyenderkan badannya ke sofa. Dia bersikap manis dan sedikit manja bikin gue gemes.


"Ya sudah bukan masalah kan" tangan gue terulur mengelus kepala Aina yang tertutup jaket hudi itu.


Dia menghindar. Dan duduk tegak lagi, agak salah tingkah.


"Mau gue buatin minum? " dia berdiri dan lalu kabur.


Manis banget itu anak.