Aina

Aina
Ep 54



Mimpi semalam seperti nyata, mungkin efek dari aku sangat merindukannya.


Aku bangun, dan aneh nya aku selimutan. Semalam kayanya aku nggak pakai selimut? apa mungkin tanpa sadar aku bangun lalu mengambil selimut. Sudahlah ini sudah pagi, aku akan kerja.


Aku keluar kamar, dan melirik ada seseorang yang sedang tidur menutupi wajahnya dengan lengan di sofa. Seorang pria? hah?


Jeno?


Aku ragu hingga aku pastikan dengan sedikit mendekat, benar dia.


Haduh gimana ini? kok bisa dia tiba-tiba pulang? Terus pasti tadi dia masuk kamar dan ada aku lalu dia tidur disini gitu?


Ah aku jadi merasa nggak enak dan malu ketahuan tidur dikamar orang tanpa minta ijin dulu. Bagaimana ini?


Aku coba naik saja, sepertinya lantai atas adalah kawasan terlarang bagi Jeno karena diatas berisi para cewek.


"Mbak sudah bangun dari tadi? aku kira sudah pulang? " Sifa mengagetkan aku.


"It-itu Jeno tiba-tiba pulang? " aku menunjuk bawah.


"Iya kayanya, tadi pas subuh aku denger suara mobilnya masuk. " Sifa lalu mau menuju kamar mandi.


"Sifa biar aku dulu ya yang mandi,aku buru-buru. Tolong jangan bilang ke Jeno kalau aku disini ya"


"Mas Jeno nggak bakalan naik keatas kok mbak, dia bisa jaga batasan gitu. Tenang saja, mandi yang bersih. " kata Sifa sesuai dugaan ku.


Aku nggak bisa mandi lama-lama lalu aku bergegas pakai bajuku yang sudah kering. Lalu berpamitan pada Sifa kalau mau pulang, sebelum Jeno bangun aku harus pulang. Aku nggak tahu harus ngomong apa sama dia kalau bertemu apa lagi kami bertemu dengan cara aneh gini.


Aku turun perlahan memastikan dia nggak akan dengar suara langkahku. Jeno masih terlelap, kasian juga dia pasti capek, ditambah harus tidur di sofa yang kakinya tidak bisa lurus karena nggak muat. Untungnya aku lewat samping, jadi tidak harus melewatinya.


Setelah aku berhasil keluar, aku memakai sepatuku. Melewati mobil Jeno yang terparkir didalam garansi. Lalu aku membuka garansi, dan sialnya dikunci dan kuncinya nggak ada.


Aku yakin ini pekerjaan Jeno siapa lagi kalau bukan dia.


Lalu aku balik lagi ke dalam, terpaksa deh lewat pintu utama yang harus melewati Jeno.


Sepatu aku tenteng bersama tas ku, dengan pelan aku membuka pintu. Duh ini juga dikunci, bagaimana ini?


Aku tengok kanan kiri, dan ke arah Jeno yang masih pulas tidurnya. Siapa tahu dia pegang.


Ternyata kunci ada diatas meja, hah akhirnya ketemu.


Aduh


Jeno bangun,


Aku hanya bisa nyengir kuda, karena rasa maluku.


"Aina? ngapain lo? " tanya Jeno masih nggak gerak dari sofa.


"Mau pulang dan mau ambil kunci pintu. " jawabku tanpa dosa.


Jeno duduk,


"Buru-buru pergi dari gue? " tanyanya yang ingin mengiyakan tapi kayanya mengandung maksud lain.


"Iya, maaf gue harus berangkat kerja." dengan tidak tahu malu juga aku ambil kunci itu.


Tanganku dicekal Jeno.


"Gue kaget ada elo dikamar gue tadi, gue kira hantu yang cosplay jadi elo. Tapi ternyata nyata beneran " kata Jeno santai tapi tanpa melihatku.


"Iya maaf, kemarin gue nggak sengaja bertemu Sifa terus diajakin ke sini. Terus kemalaman terus hujan ya udah deh gue terus nginep. " jelasku gugup sekali.


Jantungku ku mohon jangan lebay tolong. Telapak tanganku kini dingin juga, aku remas-remas nggak jelas. Sepatu dan tas ku sudah tergeletak sejak tadi saat aku kesandung.


"Terus lo masuk kamar gue seenaknya gitu" cibir Jeno santai. Santai sebenarnya tapi kenapa aku gugup gini yah.


"Maaf, gue cuma iseng terus ketiduran. "


"Dari tadi lo minta maaf mulu banyak salah ya sama gue? " masih ada nada bercanda.


Yah kaya Jeno biasanya gitu tapi gue yang aneh, entahlah.


Baiklah, Jeno memang seperti ini jadi santai saja.


Jeno berdiri lalu hendak melangkah tapi sebelumnya dia tersenyum menyeringai sadis. Aduh aku takut kalau udah mode kaya gini.


"Jangan lupa tutup lagi kalau udah keluar. " begitulah kalimat terakhirnya sebelum ia masuk kamarnya.