Aina

Aina
Ep. 91 Aina lagi



Senin yang melelahkan karena aku harus menyelesaikan laporan mingguan ku. Untung saja sekarang sudah selesai,walau aku harus melewatkan makan siangku.


Ditambah lagi suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja.


Kemarin setelah mengantar Jeno aku langsung kembalikan mobilnya di rumahnya. Pertama sih aku tertarik mau pakai tapi setelah dipikir lagi dan setelah bicara sama dia kemarin tentang perasaan kita aku jadi berubah pikiran.


Aku menjauhkan diri dari kesan cewek yang mau hartanya doang nggak mau sama pemiliknya.


Alangkah baiknya aku seharusnya tidak punya perasaan terhadapnya, itu akan jauh lebih baik. Aku putuskan hubungan ku sama dia cuma teman dan tekan kerja saja. Kalau untuk perasaan, mungkin nanti akan mulai hilang toh dianya jauh juga.


"Ehm, ngelamun. Udah selesai dikirimkan laporannya? " itu suara mbak Fera mengagetkan aku dari lamunan nggak jelas tadi.


Dia tadi habis dari luar untuk makan siang.


"Udah mbak, barusan gue kirim. " iya aku sudah kirim file ke pak Doni.


"Terus kenapa? kok meng sedih gini? " mbak Fera meletakkan roti dan jus alpukat di depanku, karena tadi aku nitip.


"Enggak papa"


Aku segera meminum minuman dingin tersebut dan membuka roti isi coklat itu.


"Ada masalah? " mbak Fera kini duduk di bangkunya.


Aku hanya menggeleng, lalu makan roti ku. Bukannya nggak mau cerita tapi aku bingung ceritanya dari mana soalnya hubungan ku sama Jeno sedikit rumit. Kami saling suka tapi enggak bisa jadian lalu nggak mau ngakuin perasaan masing-masing juga.


"Sama yang ganteng banget pegawai BC itu ya? " mbak Fera masih belum menyerah ingin tahu dan tebakannya benar.


Aku cuma mengangguk sambil mengunyah roti ku.


"Kenapa? " masih ingin tahu dia.


"Ditugaskan ke Batam" jawabku agar mbak Fera nggak nanya lagi. Pikirku itu sudah jelas menunjukkan kesedihan karena harus jauh.


"Aelah masih satu negara ini, nggak usah drama deh Ai. Hah heran,gue kira lo tipe cewek yang nggak bisa bucin ternyata sama aja nggak bisa LDR an. " mbak Fera malah menanggapi demikian.


Padahal aku pun juga nggak masalah sama LDR, tapi ini bukan LDR an mbak Fera. Karena hubungan kami bukan R.


"Tenang saja disini masih banyak cowok ganteng kok" kalimat mbak Fera yang bikin aku keselek jus aku.


Lalu pintu ruangan kami diketok, muncullah sosok yang tadi aku kirimi file laporan.


"Sudah dikirim laporannya Aina? " tanyanya.


Aku yakin pak Doni juga baru balik dari makan siang lalu nggak lihat dulu komputernya langsung mampir keruangan ku.


"Sudah pak" jawabku berdiri untuk menghormatinya.


"Sampe Aina melewatkan makan siang loh pak" mbak Fera ngapain juga bilang kaya gitu.


Ini juga salahku karena tadi pagi harusnya bisa selesai tapi belum selesai karena kadang nggak fokus kerja.


"Loh kok gitu? ayo makan siang dulu kalau begitu" pak Doni menyarankan aku buat makan siang lagi.


"Sudah pak, ini tadi sudah makan roti. "


"Emangnya kenyang roti doang?Mau saya pesankan makanan? atau saya suruh anak kedai kirim mie kesini. " Pak Doni kenapa sih kok bersikap kaya gini.


"Tidak usah pak, nanti kalau saya lapar saya bisa pesan sendiri. "


"Ya sudah" lalu dia pergi.


Dan apa yang aku dapat dari ekspresi wajah mbak Fera, dia senyum-senyum enggak jelas.


"Cie, yang dapet perhatian dari si bos?" mbak Fera ngeledekin


Aku hanya menghela nafas kalau ditanggapin bakalan panjang ibu-ibu yang satu ini.


"Enggak papa Ai, duren yang satu ini enggak kalah sama oppa Korea lo itu. " tuhkan dia tambahin.


Padahal beda jauh loh,masa Jeno dibandingin sama pak Doni.


Yang nggak bisalah.