
"Aina! "
aku mendengar ada yang memanggilku hendak makan siang bersama temanku Vio dan Dina ke sebrang jalan dekat kantor bea cukai.
Aku menoleh,ku pikir Jeno ternyata Marsel.
"Mau makan siang? "
"Iya mas, tu didepan" jawabku menunjuk warungnya.
"Ikut ya" aku mengangguk lagian cuma itu warung juga bukan milikku jadi bebas.
Kami makan soto berempat.
Tentu saja Vio dan Dina ngajakin kenalan Marsel.
Setelah makan Marsel membayari kami, walau sudah aku tolak tapi tetep ngotot.
"Makasih ya mas, kan jadi nggak enak kamu jadi traktir kita bertiga. Lain kali giliran aku ya yang traktir. "
"Iya gak papa, tentu saja lain kali kamu bisa traktir saya. " Marsel ramah.
Setelah itu sepulang kerja aku juga melihat Marsel sedang duduk didepan kantor ngobrol dengan ketua bagian pph.
Aku lewat dan menyapa mereka berdua.
"Aina, ini sudah ditunggu loh sama pak Marsel dari tadi kamu lama banget. " kata pak Dion
Aku kaget, bagaimana ceritanya Marsel menungguku.
"Ayo Aina" Marsel tersenyum mengajakku.
Kalau aku tolak pasti dia akan malu didepan pak Dion, lalu aku bingung mau diajak kemana.
"Maaf mas lama ya. "
Kemudian terpaksa aku ikut mobil Marsel.
"Mas Marsel kok tiba-tiba jemput aku dan mau diajak kemana ini? " tanyaku saat di mobil.
"Ya anterin kamu pulang lah, emang mau diajak kemana? " jawabnya santai.
"Sebenarnya tidak usah mas, kos ku cuma dibelakang gedung ini jadi malah jauh kalau pakai mobil. "
"Tidak apa-apa Aina. "
Dan semenjak itu setiap hari selama seminggu ini aku dijemput dan diantar kerja oleh Marsel.
Ketika sabtu sore Angel main ke kos ku.
Dia seperti biasa berkeluh kesah tentang pekerjaannya dan juga Daniel yang masih nggak mau kerja. Katanya ingin putus aja sama Daniel dan lain sebagainya.
"Terus gimana hubungan lo sama Jeno? " tanya Angel setelah dia puas cerita masalahnya.
"Ya nggak gimana-gimana. " aku jadi ingat kalau Jeno seminggu ini dinas ke kota Malang dan belum kembali katanya sebulanan disana. Hah bagaimana bisa dia ke kota asalku.
Kembali ke Angel.
"Eh bang Marsel emang jomblo? " tanyaku sebenarnya mau bilang ke dia abang lo aneh belakangan ini.
"Iya,kok lo nanyain Marsel? "
"Dia ternyata di kantor bea cukai dan gue lihat dia. "
"Ya nggak lah apaan sih. "
"Jangan sampai lo jadi kakak ipar gue, nggak bisa gue bayangin. "
Aku membatalkan cerita ke Angel karena sepertinya dia nggak akan suka kalau aku dekat dengan Marsel.
Hari minggu pun aku dikejutkan oleh Marsel yang tiba-tiba sudah nongkrong didepan kos ku saat aku hendak beli sarapan.
"Hai Aina. "
Aku membalasnya ramah tapi bingung, ngapain dia sepagi ini.
"Mau sarapan bareng? "
Yah akhirnya aku yang kelaparan ini sarapan bareng Marsel.
Kami bahkan sarapan di daerah bogor katanya biar menghirup udara segar. Yah ok, tapi aku sangat lapar tapi jauh banget makannya.
Tiba di restoran yang dituju aku langsung makan dengan lahap.
"Jadi ini nanti aku yang bayar ya mas" saranku saat kami masih makan.
Setelah makan begitu nota pembayaran tiba aku melongo melihat jumlah yang harus aku bayar.
"Sudah biar mas aja yang bayar. " Kata-kata nya manis sekali semanis dia yang nggak pelit.
"Seharusnya tadi nggak usah makan disini, udah jauh mahal lagi. " bisikku ketika Marsel sudah menyelesaikan pembayarannya.
Lalu dia mengajakku ke tepi restoran yang menyuguhkan view indah kota.
"Wah indah banget. " kagum ku.
"Pemandangan ini juga mahal loh"
Baiklah jadi tempat ini juga menjual view dan kenyamanan.
"Ai, kamu punya pacar? " pertanyaan yang sering aku dengar.
"Enggak. "
"Padahal kamu cantik. "
Aku kayanya malu dipuji Marsel.
"Mas Marsel juga kenapa nggak punya pacar? " kenapa aku harus tanya itu juga.
"Kamu mau jadi pacar saya? " pertanyaan bercanda tapi terdengar serius.
"Nggak usah bercanda mas. "
Kami diam memandang view nya lagi.
"Ai, saya nggak bercanda coba pikirkan, apa saya bisa menjadi pacar kamu." Marsel serius.
"Tapi mas? "
"Saya suka kamu sebenarnya dari dulu, saya sering memperhatikan kamu saat kamu main ke rumah tapi gengsi ku tinggi apalagi kamu saat itu masih kuliah aneh aja kalau pacaran sama anak kuliahan. "
Aku bingung, tidak ada sekalipun terlintas di pikiranku soal ini. Hanya curiga saja akhir-akhir ini tapi selalu aku tepis.