Aina

Aina
Ep 31



Aku sudah berada di dalam rumah bergaya Jawa modern yang luas. Tidak ada yang menyambutku karena memang ini sudah malam jadi mungkin sudah pada tidur, yah bagus deh. Tapi entah kemana Jeno menyebalkan itu, aku ditinggal sendirian disini, duh.


Sesaat kemudian muncullah wanita cantik tersenyum riang menggunakan baju tidur, yah dia ibunya Jeno aku ingat.


Aku membalas senyumnya, lalu mengulurkan tanganku dia membalas bahkan ditambah dengan pelukan hangat darinya.


"Apa kabar Aina? "


"Baik tante, tante juga bagaimana? kapan tiba? "


"Tiga hari yang lalu baru tiba"


Lalu kami bercengkrama sedikit, sambil minum teh hangat yang disajikan seseorang tadi.


"Maaf tante, mengganggu tadi dadakan rencananya saya nggak ikut mampir langsung ke Malang eh malah diseret masuk kesini tadi. " aku berusaha menjelaskan.


"Bagus dong, kalau tidak mampir malah nggak baik itu. "


Ibu Jeno kelihatannya sangat baik dia langsung welcome terhadapku.


"Ya sudah ayo kita istirahat saja, Jeno sudah langsung tidur kayanya. " Ibu Jeno mengajakku.


Dan buat Jeno, dia bikin aku sebel, bisa-bisanya tidur duluan ninggalin aku. Untung ibunya baik, kalau tidak? mending aku kabur deh.


Kami tiba dikamar yang bernuansa pink, terlihat ada perempuan sudah tidur membelakangi kami.


"Itu sepupu Jeno, kamu tidur disini saja ya. " hah? duh aku jadi sungkan gimana gitu. Gimana dong aku harus tidur dengan orang yang tidak aku kenal.


Tiba-tiba perempuan itu bangun.


"Bude?siapa dia bude? " tanyanya dengan nada lembut.


"Pacar ah bukan teman mas Jeno. " jawab Ibu Jeno yang ragu-ragu diawal.


"Ohhh, ayo sini mbak. Kenalkan aku Sifa" perempuan itu memperkenalkan diri dengan ramah.


"Ya sudah aku tinggal ya" ibu Jeno pergi, tidak lupa menutup pintu.


Aku mendekati Sifa yang menyuruhku duduk ditempat tidurnya.


"Siapa nama mbaknya? "


"Aina mbak"


"Jangan panggil mbak, tapi adik karena aku anak adiknya ibunya mas Jeno. mbak Aina" jelas Sifa.


"Mas Jeno sudah bilang tadi kalau nyampe sini malam dan akan ada temannya yang mau nginep, dan bakalan tidur bareng aku. Aku sudah paham kalau ternyata pacarnya. "


Jadi Jeno sudah menghubungi keluarganya dan merencanakan keberadaan ku disini. Menyebalkan!


Lalu aku ijin untuk mandi, badanku lengket sekali seharian tidak mandi.


Setelah mandi aku mengganti baju dengan baju tidur punya Sifa. Kemudian aku tidur, lebih tepatnya aku memaksakan diri untuk tidur karena capek banget.


Saat aku masih tidur Sifa menyalakan lampu, otomatis aku kebangun dan melirik jam dinding ternyata jam setengah lima pagi. Padahal kayanya aku baru saja tidur, huh nyenyak ternyata.


Sifa ternyata sedang beribadah. Aku perhatikan dia sangat tenang dan konsentrasi melakukan gerakan-gerakan yang tidak aku mengerti ngapain itu. Sifa nampak cantik dengan mukena warna salem itu.


Ketika selesai,


"Mbak Ai, sudah bangun? mau sholat? " pertanyaan Sifa mengagetkan ku.


"Nggak Sifa, mbak nggak sholat "


"Oh lagi haid? " Sifa melepas mukena itu, melipatnya rapi dan meletakan di keranjang.


Jadi wanita haid nggak boleh sholat ya?


Kemudian Sifa mengambil penutup kepala, katanya namanya jilbab. Dia mengambil kitab tebal warna pink, dia menggila pink ternyata lalu duduk di kursi. Kemudian membacanya, dengan sangat indah Sifa melantunkan bacaan kitab itu. Sifa sedang mengaji, dia sangat pandai membuatku bergetar hebat.


Aku menikmati lantunan ayat-ayat yang dibaca Sifa sungguh sangat menyejukkan hatiku.


Setelah selesai Sifa meletakan kembali kitab itu.


"Mbak kok nangis? " Sifa bertanya, aku bahkan tidak sadar kalau meneteskan air mata.


Aku mengusap air mataku.


"Enggak,mbak cuma merasa tenang dan mengagumi apa yang kamu baca tadi walau nggak ngerti apa yang kamu baca tapi terasa sejuk dalam hati. " jawabku seadanya.


Sifa diam, dia sepertinya mengamati ku.


"Mbak Ai,tadi siang mas Jeno chat Sifa katanya nanti nitip teman ya tolong dijaga dan dihormati karena dia nggak merayakan lebaran. Aku pikir karena keluarganya jauh jadi karena mbak Ai ini-? " Sifa tidak melanjutkan perkataannya.


"Iya Sifa aku nggak merayakan aku nggak sholat nggak ngaji dan kita beda Sifa. "


Sifa menghela nafas, lalu duduk disampingku yang masih berada diatas tempat tidur.


"Maaf ya mbak"