
Selama seminggu aku berada di Malang untuk merawat bapak.
Aku juga mencari tahu soal Kalvin dari Dito kebetulan bertemu dia dikampung. Ternyata Kalvin itu orang kaya,dia dulu pindah karena ada masalah dengan orangtuanya hingga dia ikut orang tua Dito yang dulu pernah kerja dirumahnya.
Saat bapak sudah membaik dan bisa pulang aku kembali ke rutinitas ku seperti biasanya, lagian aku harus segera menyelesaikan kuliahku.
Dikampus aku tidak melihat Jeno, mungkin dia belum kembali. Duh kenapa juga aku mikirin tu anak?
***
Sudah lebih dari sebulan dia tidak kelihatan batang hidungnya.
Saat ini kami berkumpul ada aku, Angel, Sonya, Daniel, Alex dan Ken yang biasanya Jeno ini yang jadi bahan dan menghidupkan suasana tidak hadir.
"Jeno belum balik? " tanyaku tiba-tiba dan bikin semua orang kaget bahkan semua mata tertuju padaku.
"Weih ada yang kangen nih? " Daniel meledek.
"Idih enggak juga, cuma tumben aja lama padahal ini bukan musim liburan juga emang nggak kuliah"
"Jeno mah santai kuliahnya dia juga udah jarang ada kelas,dan kalau ketinggalan pun dia bisa ngejar. " itu suara Alex
"Gue juga heran Jeno pinter, tapi nunda-nunda gitu buat lulus pokoknya nyantai anaknya. " Kini Angel.
"Ya soalnya dia nggak perlu mikirin uang kuliahnya jadi mau kuliah terus juga nggak masalah" cibir Sonya.
Tuh kan malah kita gosipin Jeno.
"Jeno mau lulus bareng Aina woi" Daniel menimpali sambil cekakakan dan seketika aku pukul kepalanya pelan.
"Dia sebenarnya udah balik kemarin tapi lagi ada urusan gue juga nggak tahu. " Ken ternyata tahu faktanya.
Setelah jam menunjukan pukul 2 siang aku pamit karena mau berkerja.
Tiba di kafe tempatku bekerja aku sudah disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan mulai dari membersihkan meja dan melayani pelanggan. Juga disaat sekitaran menjelang malam aku disuruh menjaga sementara warnet.
Dan apa yang aku lihat,
"Jeno? " aku memanggilnya.
Jeno menoleh kaget, aku juga kaget ternyata dia bersama wanita. Yah ini emang biasanya bilik buat pasangan atau yang ingin privasi.
"Aina? " Jeno terlihat panik.
"Maaf lanjutin aja anggap gue nggak lihat. " aku jadi nggak enak sendiri apalagi mereka terlihat dekat. Aku salah fokus sama pewarna bibir si wanita yang belepotan dan bibir Jeno ada sedikit merah. Wah otakku langsung traveling kesitu.
Itulah yang bikin aku selalu ilfil sama Jeno, besok bilang sayang besok sama cewek lain bagaimana bisa aku akan tertarik sama manusia itu.
***
Aku menginap ditempat Sonya karena harus mengerjakan tugas kemarin besok sudah dikumpulkan. Padahal badanku capek banget.
"Kenapa lo? " tanyanya saat lihat aku terlihat lesu.
"Capek aja"
"Enggak sedang hamil kan? " pertanyaan Sonya bikin aku melotot.
"Gue lagi haid sekarang woi"
"Sebenarnya tante Meri selalu bilang kalau orang itu nanyain lo terus bahkan dia ngerayu tante setiap hari cuma biar bisa dapet alamat lo. " celoteh Sonya yang langsung bikin aku teringat Kalvin.
"Jangan, gue nggak mau ketemu Kalvin. Gue malu" tapi sebenarnya aku juga merindukannya. Bahkan beberapa tahun aku nggak bisa move on dari dia cuma gara-gara sibuk belajar aja aku bisa lupa.
"Sepertinya kalian harus menyelesaikan yang belum selesai deh. "
Aku berpikir memang benar tapi aku sangat tidak percaya diri karena setelah mengetahui fakta dia orang kaya raya. Bahkan dia suka sekali bermain wanita, dan sekali bermain ratusan juta pun dia sanggup.
Oh aku jadi ingat berapa yang dia bayar atas kesucianku.
"Hari Sabtu ada acara tuh katanya Daniel mau traktir kita diklup. Lo ikut aja, kerja shift pagi gitu." Sonya mengubah topik sebelum aku mulai mewek. Aku yakin tadi mereka menyepakati ini saat aku berangkat kerja tadi.
"Lo pasti nggak bisa ikut? " yah aku sudah tahu weekend ini waktunya om dia nginep.