Aina

Aina
Ep.111



"Jangan lanjutkan sekarang, berhenti disini saja kalimat lo" kata Aina yang membuat gue bingung.


Apa dia nggak mau menerima gue kalau gue beneran ngelamar dia.


"Beberapa waktu yang lalu gue dilamar sama anaknya pak kyai, namanya ustad Haidar. Dia lulusan al azhar, seorang hafidz dan pengusaha di bidang perhotelan bahkan di Mesir dia juga punya hotel. Gue kenal dia, dia dulu satu SMP sama gue." cerita Aina yang membuatku patah hati kali ini.


Jadi tidak ada lagi gue di hati wanita ini.


"Gue belum kasih jawaban, katanya kalau laki-laki baik dan sholeh datang melamar sebaiknya jangan ditolak. Apa gue harus menerima dia No? " dia pakai tanya lagi.


Ya jelaslah jangan.


Aina suka bikin gue sakit hati, tapi gue selalu menerimanya. Apa kali ini gue juga harus menerima sakit ini lagi. Padahal kami sudah bisa melanjutkan hubungan kami.


Namun, benar kata Aina. Dia bisa dapatkan pria yang lebih baik dari gue. Gue tidak sebaik ustadz itu, dia jauh banget dibanding gue. Gue cuma meyakini agama gue tapi tidak selalu berbuat maksiat.


"Lo bisa menerima dia, pria itu akan menyempurnakan agama lo. Dia akan membimbing lo menjadi wanita sholehah. "


"Apa gue pantas buat dia? " dia masih nanya lagi.


"Hem, lo pantas"


"Iya, mungkin lo benar kalau gue menikah dengan seorang ustadz gue bisa belajar banyak sama dia. Gue masih belajar, jadi dia akan jadi guru gue yang baik. " perkataan Aina semakin membuat hati gue sakit.


Gue berdiri,


"Gue mau balik ke Jakarta langsung. Jadi lo bisa kan balik sendiri. "


Lalu gue tinggalkan Aina sendiri.


***


Rasanya ingin menangis, gue lama tidak menangis. Tapi apa pantas gue nangis hanya karena ditolak cewek?


Kebetulan ketika gue ke terminal ada bis jurusan ke Jakarta. Gue hubungi pihak rental motor buat ambil motor di terminal. Lalu gue pulang ikut bis tersebut.


Besoknya gue sudah sampai di Jakarta.


Dan gue tidak bisa menangis tapi badan gue sakit semua. Rasanya lemas sekali buat beraktifitas.


***


Ternyata sakit hati bisa bikin tubuh ini sakit juga.


Tiba di kantor gue dapat kabar buruk juga.


"Jeno, kamu diskors" Tiba-tiba gue dibilang gitu.


"Apa kenapa pak? "


"Kamu dalam penyelidikan, kamu pns tapi kekayaan kamu banyak apa bisa dibilang wajar. " pak kepala marah besar.


Emang pns nggak boleh punya usaha gitu.


Gue pulang cepat, lalu ada bang Marsel.


Hah, ini dia. Dia juga pns kaya raya tapi aman-aman saja.


"Gue udah denger, seharusnya lo pisah kekayaan lo jangan dicampur" katanya memberi saran sambil jalan.


Hah gue baru ingat, semua uang gue Aina yang ngurus. Gue bahkan tidak tahu jumlahnya, yang gue tahu ya makai gitu aja.


Tapi apa gue harus tanya Aina disaat seperti ini.


Gue dengan berani menelpon Aina.


"Aina"


"Ya Jeno, ada apa?kata Abi lo sakit sudah sembuh? " dia malah nanya keadaan gue.


"Udah, gue diselidiki perihal uang gue. " cerita gue singkat.


"Tenang saja, lo pasti aman. Karena semuanya atas nama gue, lo tidak akan kena masalah. Kita kan tidak punya hubungan apapun. " entah kenapa perkataannya bikin gue berpikir buruk sama wanita ini.


"Aina, lo bikin gue berpikir buruk tentang lo"


"Terserah lo, emang lo suka kaya gitu kan." dia lalu menutup telponnya.


Anj*** itu cewek. Gue kayanya dimanfaatin sama dia.


Tapi dengan itu gue aman dari tuduhan kasus gue. Gue masih bisa jadi PNS berkat itu.