
Diperjalanan aku kebanyakan diam masih shok soal Jeno. Aku masih heran bagaimana bisa aku tidak tahu kalau kami beda.
"Aina, lo kebanyakan diamnya apa sesedih itu ya nggak keterima jadi PNS? " Jeno yang peka bertanya sambil tetap fokus mengemudi dengan santai.
"Cuma heran aja gue nggak tahu kalau kita ini ternyata beda. Gue selama ini selalu membangun tembok besar dari elo, tapi ketika tembok itu sudah mulai runtuh ternyata ada tembok yang lebih besar dan tinggi bahkan kuat yang membatasi kita. "
Jeno diam dia sedikit melirik ku.
"Jadi selama ini lo nggak tahu agama gue gitu maksud lo? "
"Hemm,"
"Yah mungkin karena kelakuan gue nggak mencerminkan gue seorang muslim kali ya? "
Sepertinya begitu, dia emang suka bergaul dengan Daniel dan Alex yang Kristen, aku pikir cuma Ken aja yang muslim ternyata Jeno juga. Kalau Ken aku tahu dia muslim karena pernah melihat dia sholat jumat di kampus nah kalau Jeno kapan? aku saat itu mikirnya dia dan teman yang lain cuma nongkrong aja biar dapat jumat berkah. Ternyata dia juga ikutan masuk masjid. Lagipula geng mereka itu bisa dibilang nakal, suka pesta, main perempuan,suka minum dan bahkan pernah makai walau sudah tidak lagi kecuali Daniel aku tidak tahu bagaimana dia lebih susah dibilangin.
"Jadi lo udah ngaku juga cinta sama gue?dan lalu hari ini lo mulai bingung lagi cuma karena kita beda? "
"Apa lo bilang cuma? ini agama Jeno? hal penting dalam suatu hubungan. " aku dan dia sedikit berdebat.
"Hubungan apa Aina? kita bahkan cuma teman? lo mau lebih dari itu? . "
Aku makin emosi, sebenarnya aku sudah mulai membuka hatiku tapi katanya kita cuma teman.
"Lagi pula kalau kita pacaran emang lo mau? lo nggak pernah mau pacaran dan kita ini beda bakalan rumit nantinya. "
"Gue udah pernah bilang kalau wanita nya itu elo bisa dipertimbangkan kalau untuk pacaran, tapi lo nya yang nggak pernah mau dan nggak mau membuka hati buat gue. " Jeno sedikit emosi, lalu dia menghentikan mobil ketepi jalan sesaat.
Kira-kira lima menitan dia berhenti lalu jalan lagi hingga rest area dia tidak bicara sama sekali.
Aku turun ke toilet.
Rasanya aku butuh ketenangan.
Aku lihat ini tengah hari sudah jam duaan. Area resto sedikit sepi, hanya beberapa pemudik yang singgah.
Ketika hendak masuk mobil Jeno tidak ada, aku yakin dia mungkin juga ke toilet. Tapi hampir lebih dari satu jam dia tidak kunjung datang, padahal sudah masuk sore hari. Kemana ini orang, apa aku ditinggal disini?
Akhirnya Jeno datang, dengan rambut sedikit basah dan menggunakan pakaiannya tadi pagi bedanya sarungnya tenteng. Begitu masuk dia membuka baju koko menyisakan kaos hitamnya.
"Habis darimana kok lama banget? "
"Istirahat sebentar tadi sambil nunggu waktu ashar sekalian tadi di mushola. " kemudian Jeno mulai mengemudi lagi.
"Kalau capek gue bisa kok gantiin lo"
Jeno tidak langsung menjawab.
"Gue nggak akan capek nungguin elo Aina, terserah lo mau nerima gue itu kapan gue tunggu kok. " haduh mulai deh Jeno asli keluar.
"Sudah lah No, nggak usah bahas perasaan lagi. Kita cerita yang lain aja yah"
"Padahal mau bikin cerita cinta kita, eh elo nggak mau yah? gue kira gue udah dapetin hati lo. "
"Kalaupun gue suka sama lo kita juga nggak mungkin bersatu Jeno, kita ini beda udah deh yah kita tetap berteman ok. "
Jeno tersenyum riang menandakan kalau dia setuju.