
Kami sudah tiba di apartemen Gres, tapi begitu kami mengetuk pintu tidak ada yang membukanya.
Kemudian bang Marsel minta petugas apartemen, kebetulan orang itu mengenal bang Marsel kalau dia pacar pemilik unit itu.
Bang Marsel berhasil mendapatkan kunci, dan membukanya.
Namun, kosong tidak ada orang sama sekali.
Gue bingung mau mencari dimana lagi Aina.
Lalu datanglah Angel, dia juga ikut kecewa tidak menemukan Aina.
"Gue mau tanya sama lo bang, gimana bisa Gres menculik Aina. Bukankah lo dan Gres sudah berakhir? " tanya Angel yang emosi.
"Gue sama Gres belum putus."
Angel marah, "bisa-bisanya lo mendua kaya gini? ya jelas lah Gres marah karena Aina lo jadikan selingkuhan! "
"Gue dan Aina nggak pernah pacaran, dia cuma gue bayar buat ngaku pacar gue agar mama papa seneng gue punya pacar baik. "Bang Marsel ngaku.
" Brengsek lo! " Angel semakin marah.
Angel memang bukan wanita baik-baik tapi gue akuin dia sahabat Aina yang baik. Dia nggak pernah ngajak Aina kejalan sesat, kalaupun ngajak Aina ke klub dia nggak pernah maksa Aina yang nggak doyan minum untuk minum. Dulu Angel juga yang sangat melarang Aina untuk dekat dengan gue, karena Angel tahu gue cuma mau mainin Aina aja sama kaya cewek yang lain.
Tapi ketika gue terlihat tulus Angel ngedukung gue buat ngedeketin Aina, dia tahu perasaan tulus dan tidak.
Kasihan juga dia pernah diselingkuhin Daniel, makanya dia tahu seberapa sakit hati Gres saat tahu bang Marsel menduakan dia.
Kami kemudian berpencar, gue sendiri Angel dengan bang Marsel.
****
Hingga pagi menyingsing gue nggak bisa menemukan Aina. Gue sudah cari dia ditempat kerja dan beberapa tempat yang dia suka kunjungi.
Lalu gue balik lagi ke hotel tadi malam.
Gue balik ke ruang CCTV ditemani petugas.
Gue putar ulang dan gue ulang lagi.
Akhirnya hingga siang gue dapat petunjuk ternyata Gres tidak pernah meninggalkan hotel ini.
Gue lalu menyelusuri rekaman setiap CCTV hotel.
Dan ketemu juga Gres memasuki sebuah kamar.
Gue langsung bergegas, tapi gue menghubungi bang Marsel dulu. Walau bagaimanapun cuma dia yang bisa membujuk Gres nanti.
Ketika kami sudah diluar kamar hotel Gres, bang Marsel mengetuk tapi tidak dibuka.
Kemudian gue nggak sabaran, gue panggil petugas kamar buat membukanya.
Dan
Hanya Gres yang ada di dalamnya.
"Hai sayang, aku kira siapa makanya aku nggak bukain. " dengan santainya Gres menyambut bang Marsel.
Bang Marsel lalu mencengkeram tangan Gres,
"Dimana Aina? " tanyanya.
Gue yang nggak sabaran langsung masuk ke penjuru kamar, menggeledah semua ruangan.
"Heh siapa itu beraninya masuk tanpa ijin! " teriak Gres yang tidak gue pedulikan.
Lalu
Gue mendapati kamar mandi terkunci rapat.
"Ada yang mandi teman gue, masa gue harus buka" Gres masih tenang.
"Gue mau mastikan ada Aina atau tidak"
"Ngapain Aina ada disini? siapa sih elo? korban Aina juga? hah tampan sih tapi bodoh kaya Marsel mau aja sama Aina yang murahan itu" Gres malah ngelantur nggak jelas.
Gue lalu berusaha mendobrak pintu kamar mandi itu. Gue yakin Aina ada didalam.
"Gres, please bukain pintunya ya? aku nggak akan menyakiti kamu kalau kamu mau menyerahkan Aina" bujuk Marsel.
Kemudian Gres malah tertawa. Emang gila ini cewek.
"Aku nggak percaya, kamu pasti bakalan ninggalin aku dan bersama wanita itu lagi. Sama kaya semalam kamu memamerkan Aina didepan keluarga kamu, padahal seharusnya aku yang berada diposisi itu. Kamu itu jahat, tapi Aina lebih jahat jadi dia pantas dihukum. " celoteh Gres yang bikin gue yakin sekali Aina ada didalam kamar mandi.
Kemudian gue keluar, minta bantuan petugas hotel lagi.
Gue bilang kalau ada penculikan didalam kamar itu.
Seketika beberapa para karyawan dan petugas keamanan datang bersama gue. Lalu pintu dibuka oleh petugas.
Apa yang gue lihat?
Aina terikat didalam bak mandi, terendam air yang sudah berubah menjadi merah karena ada beberapa luka di tubuh Aina.
"Aina! "
Gue menepuk Aina. Dia tidak sadarkan diri. Tubuhnya kaku, bibirnya sudah membiru.
Gue seketika menangis melihat apa yang gue lihat.
Semuanya membantu gue, melepas ikatan dan mengangkat Aina.
Kemudian, gue lepas kemeja yang gue kenakan karena tidak ada handuk atau kain disana. Gue gendong Aina keluar dengan paniknya.
"Aina gue mohon bertahanlah" gue rebahkan tubuh Aina diatas ranjang tidur. Lalu gue bungkus tubuhnya dengan selimut.
Kemudian gue bawa dia menuju rumah sakit.
Aina didalam perjalanan sempat sedikit sadar tapi seperti kehabisan nafas, dia menggigil sejak tadi. Mungkin dia hipotermia,
Ya Allah selamatkan Aina, walau dia bukan umat muslim tapi dia ciptaan Engkau yang begitu indah.
Lalu gue berhenti, memberikan pertolongan pertama, yaitu nafas buatan. Beberapa kali Aina bisa sadarkan diri, tapi tidak sepenuhnya.
Begitu tiba di rumah sakit dia langsung ditangani.
Gue masih panik, berpikir negatif terus saat menunggu diluar ruangan. Karena gue lihat Aina sangat lemah sekali.
Beberapa telpon gue abaikan, karena saking paniknya.
Sejam kemudian dokter keluar,
"Dia baik-baik saja, untung mas nya bisa cepat tanggap memberikan pertolongan pertama. " jelasnya yang bikin gue sedikit lega.
Kemudian suster juga keluar,
"Ini baju mas nya ya? silahkan dipakai nanti masuk angin, itu juga tadi sudah saya keringkan sedikit basah tadi. " suster itu memberi gue kemeja gue tadi.
"Saya baik-baik saja kok Sus"jawab gue menerimanya.
" Warga rumah sakit yang tidak baik-baik saja mas. Lihat banyak yang ngiler lihat badan masnya. "
Gue lihat, banyak yang memperhatikan gue ternyata.
Gimana tidak, gue rajin olahraga pasti mereka kagum sama bentukan badan gue.
Haduh jadi malu.