
Begitulah seterusnya, aku dan Jeno hanya berhubungan sebatas pekerjaan saja. Setiap minggu malam dia menelpon dan aku harus menceritakan bagaimana kafe dan laporan keuangan juga.
Sudah tiga bulan lebih berlalu, aku sangat merindukan dia. Tapi tidak ada satupun pembahasan pribadi saat kami telponan. Dia juga nggak pernah bilang kalau merindukan aku.
"Ai, bulan depan kontrak lo habis. Sudah diberi tahu belum kalau bakalan diperpanjang? " suara mbak Fera mengagetkanku.
Aku jadi ingat benar bulan depan aku habis kontrak, belum ada pemberitahuan apapun dari bos.
"Belum"
"Kalau lo minta diperpanjang pasti bakalan dikasih tuh sama si bos" mbak Fera sambil senyum-senyum.
Semua karyawan perusahaan ini sudah membuat gosip kalau aku dekat dengan pak Doni. Bahkan ada yang mengira kalau aku pacarnya bos ku itu.
Rasanya sebel banget jadi bahan gosip seperti itu.
Ini berawal dari pak Doni yang sering ngajak aku makan siang dan dia bersikap aneh yaitu lebih perhatian sama aku.
Aku sih menganggapnya biasa aja karena selama ini dia bersikap sopan dan kalau untuk lebih perhatian aku pikir dia orangnya emang gitu. Tapi menurut survei ternyata dia orangnya dingin sama yang lain. Entahlah
"Sebenarnya gue capek kerja di dua tempat sekaligus mbak, setiap pulang kerja gue harus menyempatkan diri ngecek kafe bahkan weekend gue yang seharusnya buat istirahat malah kerja lagi. " keluhku.
"Kan masih bisa seimbang, nggak papa lagian lo ke kafe cuma tiap minggu doang kan? " tanggapan mbak Fera
"Jumat malam sampai minggu malam gue kesana. Karena kafe pasti ramai dan butuh bantuan gue. "
Mbak Fera diam, dia pasti bakalan ngasih solusi terbaik. Karena dia selalu begitu,ibu satu anak ini emang dewasa kalau ngasih saran. Cuma kalau masalah rumah tangganya kadang dia kaya anaknya. Aku juga nggak bisa ngasih solusi kalau dia lagi curhat masalah rumah tangganya.
"Lo pilih salah satu aja kalau berat. Lo masih muda ngapain ngoyo kerja, cuma menghidupi diri lo sendiri juga. Ya kalau gue harus menghidupi anak gue. " solusi mbak Fera yang masih belum aku terima
"Padahal mas Ibam kerjaannya bagus tapi mbak Fera juga masih ngoyo, kenapa nggak duduk manis aja di rumah? " mas Ibam nama suami mbak Fera yang merupakan seorang pengacara.
"Ya nggak bisa Ai, gue nggak mau tinggal dirumah aja. Rasanya malah stres apalagi ngelihat nakalnya anak gue" mbak Fera malah curhat.
"Padahal Rafa juga pingin ditemenin maminya "
"Sudah deh Ai, lo jangan mulai ceramah ya" mbak Fera sebenarnya sensitif kalau menyinggung anaknya.
Sebenarnya dia ingin juga mengasuh anaknya sendiri tapi dia tipe yang nggak suka sama anak kecil jadi susah jadinya.
"Eh, anaknya si bos ternyata satu sekolah sama Rafa gue baru tahu pas kemarin pertemuan orang tua. " Tiba-tiba mbak Fera cerita soal kemarin.
"Misel? " aku tahu namanya karena pernah disebut pas makan bareng pak Doni.
"Lo udah ketemu? "
Aku menggeleng, lagian ngapain gue ketemu anak si bos.
"Dan lo tahu nggak? kasihan loh kemarin dia nangis kejer,karena dia doang yang nggak ditemani ibunya. Yah mau gimana lagi mama tirinya masih otw " diakhir kalimat mbak Fera senyum nggak jelas.
Jadi sebenarnya tiga hari yang lalu aku di ajak sama si bos buat ke sekolah anaknya. Ya aku jelas nolak lah, aku tahu bakalan panjang nanti urusannya. Sedangkan aku tidak ada apa-apa sama si bos.
Dia juga nggak begitu maksa sih dan hanya sekedar menawarkan apa mau aku diajak ke sekolah anaknya.
"Emang si bos nggak pernah bilang gitu suka sama lo? " tanya mbak Fera.
Aku hanya menggeleng, " dan gue juga nggak berharap. Bakalan canggung mbak nantinya"
"Kalau dia bilang lo terima aja pasti nggak bakalan canggung, malah enak kerja di perusahaan milik pacar sendiri. " mbak Fera ngomong apa sih.
"Udah deh mbak ayo kerja lagi. " aku mengalihkan pembicaraan.
Obrolan nggak bermutu.