Aina

Aina
Ep 16



Beberapa hari kemudian,


aku mengajak Jeno bertemu, dan kami bertemu di restoran dekat kantorku sekalian makan siang.


Tidak aku sangka kalau ternyata Jeno bekerja dikantor beacukai sebrang kantorku, Jeno berjalan ke arahku dengan senyum andalannya. Aku sebenarnya memang selalu tersihir akan hal itu tapi selalu aku tepis, dan mengingat Jeno sebenarnya seperti apa.


"Udah lama nunggu nya? " begitu Jeno mendaratkan pantatnya di kursi depanku.


"Cuma lima menit, lagian ternyata lo di sebrang? "


Senyum lagi dianya.


"Jeno kita makan dulu atau langsung bicara? "


"Makan lah, gue laper. " Jeno memang tidak pernah basa-basi, lalu dia memesan makanan.


"Apa mereka sudah baikan? " tanyaku saat kami menunggu makanan datang.


Jeno menatapku tidak langsung paham, " Camer lo ya? hem iya mereka nggak jadi bercerai, sudah baikan. Dan mereka ada diIndo kalau lo mau ketemu, ayo" Jeno sedikit bercanda ria.


Makanan datang beberapa menit kemudian.


Lalu kami makan, dengan menikmati makanan soalnya mungkin laper juga.


Setelah makanan hampir habis, aku berkata padanya yang masih mengunyah karena sudah tidak tahan lagi.


"Gue akan mencicil uang lo, dan gue Terima kasih banget untuk itu, tapi seharusnya lo nggak usah melakukan itu Jeno. "


Jeno menghentikan makannya, " ngomong apa lo? "


"Lo kan yang minjemi 220juta? "


Kali ini dia benar berhenti makannya.


"Sudah lah Aina, nggak papa nggak usah lo ganti. Gue ikhlas dan senang karena pada akhirnya lo lepas dari mantan lo itu. "


"Lo ngejual mobil lo itu ya? duh gue kan jadi nggak enak" yah emang ternyata mobil Jeno ia jual. Gue tahu dari Angel paginya setelah dia sadar lalu aku tanyain yang sedetailnya.


"Gue nggak masalah asalkan buat elo, lagian saat itu gue mesti balik ke Korea dan juga gue bosen sama tu mobil. Lagian lo lebih membutuhkan juga. " Jeno kali ini menyentuh punggung tanganku.


"Aina, " Jeno mengambil HP ku, " Jadi emang butuh waktu lagi ya buat lo bisa cinta sama gue? padahal gue selalu sabar nungguin lo, dan akan selalu gue lakuin itu. Ok, kalau ini bisa bikin kita tetap berhubungan aku akan biarkan lo mencicilnya. Dan jangan lupa bunganya, hahahaa" endingnya Jeno bercanda lagi.


Setelah aku mendapatkan nomer rekening Jeno, aku segera membayar tagihan makanan tapi ternyata Jeno mendahuluiku dia membayar semuanya.


"Patungan aja Jeno, gue nggak enak. Utang gue banyak sama lo dan-" belum selesai aku ngomong dia sudah menggenggam tanganku dan menarik ku keluar restoran.


Kami berjalan beriringan dengan tangan masih saling bertautan. Entah kenapa aku tidak menolak kali ini.


"Hubungan lo dan Yolanda sudah berakhir? " tanyaku ragu.


"Kita nggak pernah berhubungan" jawabnya santai.


Aku menghentakkan tanganku, hingga terlepas dari tangannya.


"Apa gue juga sama seperti mereka yang hanya dekat lalu lo tinggalin tanpa kepastian? " tanyaku serius.


Jeno menatapku lekat, " Beda, mereka cuma pelarian saja, gue tulus suka sama lo. Tapi kalau ternyata saat kita dekat lo juga sama seperti mereka entah lah gue juga nggak bisa memberi kepastian."


"Brengsek"


"Gue tahu itu" Jeno menyeringai.


Aku semakin marah, dia ini sadar tapi kenapa nggak mau sadar.


"Kita belum mencoba untuk dekat, jadi lo belum tahu seperti apa gue sebenarnya Aina. " Jeno menyentuh ujung rambutku.


"Bagaimana mau mencoba dekat dengan gue? "


Saat ini tubuh Jeno semakin dekat padahal kami sedang berada di trotoar jalan, apa dia sudah gila sampai ingin mencondongkan wajahnya ke wajahku, aku yakin sekali dia hendak menciumku.


Aku mendorong dadanya menjauh.


"Jangan gila lo! "


Aku lalu pergi meninggalkan dia dengan senyum jailnya. Nyebelin!