Aina

Aina
Ep.108



Kafe sudah buka,gue baru kesana hari jumat malam. Karena habis pulang kantor gue capek, langsung tidur beberapa hari ini.


"Kenapa bos? " tanya Abi saat lihat gue duduk di bar depan dia yang lagi sibuk bikin minuman.


Padahal gue nggak kenapa-kenapa ngapain dia tanya gitu.


"Enggak, emang kelihatan aneh? "


"Yoi, seharusnya lo kemarin pas ke Malang ikut. Di sana kita seru-seruan gitu. " Abi memberi gue es kopi.


Gue langsung seruput minuman itu, tahu aja ini orang gue lagi haus.


"Gue tahu kalau ada gue pasti anak-anak yang lain agak jaim. Ya gue kan ngasih kesempatan kalian buat menikmati liburannya. "


Yah, para karyawan yang nggak begitu kenal gue. Mereka bakalan jaga image dan nge hormati gue.


"Tapi mbak Ai ada,mereka tetap enjoy kok"


"Ya kan kalian deket sama Aina, dan Aina juga care banget sama kalian."


Entahlah gue kurang hangat sama orang sekarang. Padahal dulu gue selalu hangat sama siapapun.


"Oh, ya lokasi kafe baru yang dipilih mbak Ai itu keren banget bos. Bisa dijadikan destinasi wisata juga, pemandangannya bagus pokoknya. Jadi pokoknya mbak Ai pinter banget milih tempat. Kemarin aja pas opening banyak banget yang datang, sampai kita bantuin juga." cerita Abi tentang kafe yang baru yang ada di Batu.


"Masa, gue pernah lihat sih digambar Aina. Coba lihat foto-foto lo pas disana"


Abi mengeluarkan HP nya.


"Nih, lihat. Kita padahal niatnya liburan eh kerja juga disana. Tapi enjoy sih habis itu" Abi memberikan HP nya.


Gue lihat beberapa foto nggak jelas, tapi berlatar bagus. Jadi didalam grup chat banyak banget foto disana.


"Kok gue nggak masuk grup chat kafe? "


"Mau gue masukin? "


"Masukin aja"


"Tapi jangan baperan, Anak-anak takut sama lo. Jadi nanti kalau ada lo di grup entar mereka nggak bebas lagi nyampah nya. " Abi nggak jelas


"Itu Aina kok masuk? "


"Ya kan mbak Ai, bos terbaik didunia jadi kita mah santai gitu." jawab Abi.


"Kebalik dodol, lo nggak tahu ya Aina kalau mode Elsa? bakalan jadi es semua lo pada"


"Itu kan sama elo, sama kita mah beda. " Apa Abi bener.


"Kok nggak ada foto Aina? "


"Ada kok, itu pas bareng-bareng. Itu yang ditengah sendiri. Wah mata lo rabun ya bos" tunjuk Abi pada salah satu foto.


Gue nggak merasa ini Aina. Emang mirip, tapi beda. Yang difoto pakai jilbab, dia emang cantik kaya Aina. Tapi nggak mungkin dong dia pakai hijab?


"Lo ngarang mana mungkin Aina pakai hijab?"


"Lah emang dia sekarang berhijab bos" pernyataan Abi bikin gue kaget.


Gue sampai berdiri.


"Lo bercanda?sejak kapan dia berhijab? "


"Nggak tahu, nggak ingat sejak kapannya. " jawab Abi bercanda sambil ngambil HP nya yang ada ditangan gue.


"Bentar" gue rebut lagi HP itu. Dan gue zoom foto itu.


Memang Aina, tapi mana mungkin dia berhijab.


Gue masih syok. Antara percaya dan tidak.


Lalu pegawai kasir, namanya Hana yang sekarang diganti Lita karna sudah habis shif nya. Tiba-tiba ngajak bicara Abi.


"Mas Abi, itu mukena mbak Ai aku pakai boleh nggak ya? soalnya aku lupa bawa tadi. Mau sholat dulu biar nyantai pas dijalan"


Kaya di samber petir gue,


Gue langsung masuk ruangan karyawan dan segera membuka loker Aina.


Di sana tidak hanya terdapat mukena tapi juga tasbih dan Alquran kecil juga.


"Pak Jeno? " suara Hana mengagetkan gue.


"Hana, lo yakin ini punya Aina? "


"Iya Pak, terus bapak pikir itu milik siapa? itu loker mbak Ai." jawab Hana.


"Lo pernah lihat dia sholat pakai ini?"


"Iya bapak, dia sholat ya pakai mukena masa sarung. Bapak kenapa sih kaya aneh banget tahu mbak Ai sholat pakai mukena. " Hana pasti nggak tahu kalau Aina non muslim tadinya.


Dan kenapa si Hana manggil gue bapak sih.