Aina

Aina
Ep 28



"Mau denger kisah cinta antara dua insan yang berbeda? "


Aku mengiyakan Jeno yang mau mendongeng, biar perjalanan ini tidak membosankan juga.


"Ini tentang gue sih" Jeno nyengir nggak jelas.


Apaan juga gue harus tahu kisah cinta dia dengan mantannya.


"Bukan juga sih"


Enggak jelas ni anak.


"Tentang kedua orang tua gue, biar bisa jadi contoh karena mereka bertemu disaat mereka berbeda. Beda negara, beda budaya, beda agama, beda bahasa, beda musim dan masih banyak lagi tapi mereka bisa bersatu. Yah walau kadang bertengkar nggak jelas juga tapi itu juga hal biasa dalam suatu hubungan."


Aku mulai tertarik mungkin ini sangat menarik aku juga penasaran dengan kisah orang tuanya itu.


"Terus bagaimana mereka bisa saling jatuh cinta? " tanyaku.


"Eomma kuliah di Korea dan bertemu dengan appa, mereka saling jatuh cinta saat itu lalu ketika sudah lulus eomma kebetulan bisa bekerja di kedutaan hingga sekarang. Kalau appa sering pindah hingga akhirnya bisa bekerja di kepresidenan. Mereka tidak bisa menikah karena beda dalam segala hal apalagi keluarga appa sangat menentang, eomma seorang muslim yang taat jadi tidak gampang dipengaruhi kepercayaan yang dianut keluarga appa. Akhirnya appa memutuskan menjadi mualaf dan menikahi eomma di Indonesia. Setelah menikah mereka kembali lagi ke Korea dan gue lahir. Berhubung eomma wanita karir jadi gue dititipkan pada nenek gue di Korea yang satu-satunya keluarga yang mau menerima gue. Nenek cuma nerima gue aja karena emang gue cucunya bukan eomma yah.


Kemudian saat gue umur 9 tahunan nenek meninggal dan gue selalu ditinggal sendiri dirumah hingga pernah gue sempat mau diculik. Lalu akhirnya nenek gue yang dari eomma menjemput gue untuk dibawa ke Indonesia. Dan gue tinggal di Solo, nah di Solo ini gue kaya di apa yah istilahnya kaya dibedain gitu. Karena mata gue agak sipit dan bahasa gue aneh karena masih belajar. Katanya gue cindo yang nggak punya toko, hahahaha yah kebanyakan mungkin disini cindo punya toko kali yah"


Aku ikut tertawa dengan akhir cerita Jeno ini.


"Belum berakhir, gue SMA memutuskan hidup sendiri di Jakarta padahal gue nggak punya siapapun disana. "


Yah aku juga nggak punya.


"Dan gue itu kalau di Korea mata gue paling lebar, disini gue paling sipit. "


Aku otomatis memandang mata Jeno.


"Enggak sipit banget sih No, lo punya kelopak mata ganda kok kaya gue. Cuma muka lo aja yang ke koreaan. "


"Pasti bakalan cantik yah anak kita nantinya. " Jeno dengan cengengesan nya.


Kumat deh.


***


"Sekarang lo? gimana tentang lo Aina? " tanya Jeno.


Aku diam, nggak banyak yang bisa aku ceritakan.


"Nggak ada yang menarik, gue sejak lahir udah tinggal sama bapak tanpa ibu karena beliau sudah meninggal dan gue rasa lo udah tahu banyak tentang kehidupan gue yang nggak menarik. "


"Lo tahu nggak pas gue dinas di Malang waktu itu gue mampir ke rumah lo bertemu bapak lo. "


Fakta yang belum aku tahu, lagian ngapain.


"Ngapain? "


"Gue bisnis dong sama bapak, dia sekarang menjadi pemasok kopi di kafe gue, makannya kafe gue sekarang ramai kan? kopinya enak soalnya. " jelas Jeno.


Aku bukan pecinta kopi jadi tidak akan bisa tahu itu ternyata kopi dari perkebunan tetangga gue. Bukan punya bapak gue ya.


"Oh, bagus dong gue kira mau ngapain"


"Bapak lo dan teman-temannya welcome gue dapat ilmu banyak tentang kopi saat itu. " lanjut cerita Jeno.


"Kapan-kapan gue akan kesana lagi kalau libur. "


Aku menoleh ke Jeno.


"Bulan depan gue dinasnya di Surabaya jadi kita deket dong kalau lo memutuskan tinggal di Malang. "


Emang sebagai karyawan BC kadang dipindah-pindah kaya gitu.


"Kita bisa bertemu kalau libur kan? "


Aku tidak menjawab pertanyaan itu.


"LDRan berarti nanti kita. "


Hadeh Jeno ini emang kita pacaran?


"Lo tahu kepanjangan LDR itu apa? " tanyaku dingin.


"Tahu"


"Dan kita nggak pacaran Jeno" aku memperjelas.


"Yah baiklah nggak usah ngegas, suatu hari gue bakalan lamar lo langsung nggak usah pacar-pacaran. " kata Jeno yang bikin aku malah naik darah.


"Jeno, kita nggak mungkin bersatu ya Lee Jeno! " teriakku


"Kita lihat aja nanti bagaimana, masa depan masih panjang woi Lee Aina, calon jodoh gue. aamiin. " Jeno tak mau kalah.