
Pagi hari setelah subuh aku sudah sampai di desa ku. Tadi saat nyampe terminal kota Malang aku langsung memesan taxi menuju kampung halamanku. Udara sejuk yang cenderung dingin ini yang sangat aku rindukan menyeruak menyejukkan hatiku.
Aku sangat bersyukur akan nikmat yang diberikan Tuhan atas kebahagiaanku saat ini. Walau aku sebenarnya sekarang menjadi pengangguran, heh.
Ketika membuka pintu dengan kunci yang aku punya, aku mendapati rumah sepi mungkin bapak sudah pergi ke tegalan. Aku juga tidak memberi kabar kalau aku akan pulang karena bapak juga beberapa hari bahkan minggu mungkin bulan susah sekali dihubungi.
Ternyata bapak masih tidur, aku langsung meletakkan barang-barangku dikamar lalu menuju dapur untuk membuat minuman dan sarapan.
Setelah jam tujuh bapak bangun, aku sangat senang tapi sepertinya beliau kurang sehat. Nampak dari wajahnya sedikit pucat dan matanya yang sembab.
"Bapak, Aina pulang. Maaf nggak ngasih kabar. " aku ingin memeluknya tapi memang kami tidak pernah melakukan itu sejak aku sudah dewasa.
Hubunganku dengan bapak memang dekat tapi karena waktu kebersamaan yang sedikit menjadikan kami agak jauh.
"Bapak mau kopi? " aku hendak membuatkan tapi bapak merampas toples kopi tersebut duluan.
Aku merasakan ada aura yang tidak enak. Tidak biasanya bapak seperti ini, kasar tanpa sebab. Bapak juga tidak berkata sedikit pun, apa beliau tidak suka aku pulang?
"Bapak biar Aina saja yang bikin, bapak tunggu. " saranku, tapi tidak direspon.
Setelah kopi jadi bapak langsung melewati ku menuju ruang tamu. Aku mengekorinya.
"Pak, Aina ada salah sama bapak? " aku memberanikan diri bertanya karena begitulah bapak kalau tidak ditanya tidak akan bicara.
Byurrrr
Kopi panas yang belum diseruput bapak melayang ke badanku. Bapak menyiramnya dengan wajah memerah, aku sangat terkejut.
Panasnya kopi mengalahkan rasa terkejut ku. Aku sudah lama tidak dihajar oleh bapak, terakhir saat aku SMP ketika aku pulang telat dan aku kedapatan pulang bersama teman lelaki dalam keadaan basah kuyup karena kehujanan. Bapak memang orang yang keras dan tegas bahkan terkenal kejam diantara para petani.
Lalu kesalahan apa yang kali ini aku buat?
"Pak? " aku berjongkok dikaki bapak, meminta penjelasan apa salahku kali ini.
Tapi bapak malah menendang ku. Hingga aku terjungkal membentur meja, membuat dahi ku sedikit terluka.
"Maaf Pak, apa salah Aina? "
Bapak berdiri, dia menatapku seperti memancarkan laser merah.
"Jangan lagi kamu jadi anakku, kamu bikin malu bapak! dasar wanita murahan! " sarkas bapak sambil menunjuk-nunjuk dengan telunjuknya.
"Bapak? "
"Heh, ngakunya kuliah terus kerja dikantor perpajakan dan mau jadi PNS tapi kamu malah jadi psk?bikin malu aku saja! Pergi kamu, jangan pernah kembali kerumah ini lagi! " teriak bapak.
Bagaimana bapak bisa berpikir seperti itu? aku anaknya dikatain psk?
"Maaf Pak Aina memang tidak lolos jadi PNS tapi Aina bukan psk Pak" jelasku sambil menangis sesenggukan.
"Apa bapak pernah mengajarkan kamu buat jual diri heh? kamu jauh dari bapak aku ijinkan karena percaya sama kamu tapi apa? kamu bahkan rela jadi wanita bayaran Aina!!! "
"Bapak salah, Aina nggak seperti itu Pak"
Kopinya bapak sudah jadi kali ini, lalu beliau kembali lagi ke kursi tadi.
"Pergi kamu! jangan muncul di hadapan ku! kamu cuma seperti ibumu wanita murahan hingga matipun dia tetap seperti itu! PERGI!!! " bapak berteriak menyuruhku pergi. Tapi bapak memegang dada sebelah kirinya, nafasnya tersengal. Kopi itu tumpah lagi tapi ke lantai.
Aku segera menahan tubuh bapak ketika beliau hendak tumbang.
"Pak, Aina bukan seperti itu pak Aina bersumpah. " aku meyakinkan bapak. " bapak jangan mikir macam-macam percaya Aina. "
Bapak aku papah ketempat tidurnya. Lalu membaringkan dia agar bisa lebih tenang, dan aku juga memberinya air putih.
"Itu semua bapak denger dari mana? Aina benar-benar bukan wanita seperti itu pak, sumpah! "
Bapak agak tenang.
"Aku denger dari teman kamu, kalau kamu jual diri demi uang untuk operasi bapak. Tahu kalau uang itu hasil dari jual diri lebih baik bapak mati saja saat itu Aina! " bapak mengeluarkan air mata.
Bagaimana bapak bisa tahu?
"Enggak pak, bapak salah dengar. Ini aku saja masih nyicil buat bayar hutang itu kok" kataku agar bapak percaya,lagian aku juga masih nyicil ke Jeno.
"Aku nggak mau punya anak kamu, para tetangga sudah tahu kamu wanita murahan. Pergi saja dari sini, jangan kembali lagi! " bapak masih ngotot dengan itu.
Aku harus bagaimana? masa aku harus pergi ninggalin bapak sendirian?
Aku menelpon bulek Rina untuk minta bantuan agar merawat bapak.