
Gadis kecil itu lalu mendekatiku meninggalkan mainan rumah-rumahannya.
"Apa tante ini mama baruku? " pertanyaan yang membuat aku kaget.
Seharusnya aku tidak ikut pak Doni ke rumahnya tadi. Duh, kenapa sih aku jadi orang baik banget. Entahlah antara baik sama bodoh.
Aku melihat pak Doni,karena aku butuh bantuan dia untuk menjelaskan pada anaknya ini. Tapi dia diam saja.
"Bukan sayang, tante karyawan di kantornya papa. " jawabku jujur.
"Oh, jadi kalian kenal di kantornya papa? " lah kok dia malah nanya gini.
"Iya, karena tante karyawan di sana."
Mata anak ini yang tadinya gelap berubah bersinar setelah melihatku.
"Pasti Misel belum makan ya? " gini pak Doni mengalihkan perhatiannya.
Misel mengangguk.
"Ayo makan sama papa dan tante Aina" ajak pak Doni.
Putri kecilnya itu menurut, dia mendahului kami pergi keluar kamar.
"Pak Doni, kayanya anak bapak salah paham deh."
"Saya minta tolong kali ini untuk makan bersama di rumah saya." pak Doni memohon.
"Bapak seharusnya bilang dulu tadi, sayakan jadi kebingungan. Terus Misel malah ngiranya saya mama barunya lagi. Kan jadi nggak enak. "
"Ya sudahlah, ayo. " pak Doni lalu mengajak ku untuk mengikuti menuju ruang makan.
Tiba di ruang makan, Misel sudah duduk manis disana.
Ibu yang tadi sedang menyiapkan makanan dimeja.
"Non Misel sudah nggak marah lagi ya? " kata ibu itu.
"Iya, soalnya aku bakalan punya mama. Lihat bik, tante nya cantik banget kan" Misel dengan polosnya mengira aku calon mamanya.
Aku kira ini bakalan jadi bencana besar kalau tidak segera diluruskan.
Pak Doni bahkan bersikap manis terhadapku, dia memundurkan kursi buatku dan mempersilakan aku untuk duduk.
Aku tetap mengulum senyum, karena emang nggak tega sama anak manis itu.
Makanan sudah tersaji dengan berbagai menu. Entah kapan ibu itu memasaknya.
"Ayo makan Ai, nggak usah sungkan." pak Doni menyuruhku makan.
Aku hendak makan, tapi aku perhatikan Misel kesusahan memotong makanannya. Dan cara dia memegang sendok pun salah. Aku dengan reflek membantu anak itu dan juga memberi tahu cara makan yang benar.
"Biasanya Misel sama pengasuhnya tapi setelah kami pindah dia berhenti karena agak jauh dari rumahnya. " Pak Doni memberi info yang buatku nggak penting juga.
"""""
Setelah makan malam selesai aku pamit pulang. Misel setelah makan langsung tidur jadi aku tidak bisa pamit anak itu.
Pak Doni mengantarkan aku kedepan.
"Terima kasih Aina, Misel jadi mau makan. Dia sejak kemarin ngambek." pak Doni terdengar tulus.
"Gara-gara pertemuan orang tua ya pak? "
Pak Doni nyengir, " iya kok tahu, pasti Fera ya. " ya siapa lagi.
"Sayakan juga bingung waktu itu Ai, Tiba-tiba dia pingin ada mamanya. Padahal selama ini anak itu ngerti kalau nggak punya mama. "
Curhat deh jadinya.
"Mungkin kepingin teman-temannya. Makanya bapak cari mama buat Misel biar dia senang. "
Pak Doni malah tersenyum malu, dia kenapa ya?
Ternyata pak Doni mengantarkan aku sampai depan kosan.
"Ai, minggu mau nggak kali ini temenin saya ke sekolah Misel? " pertanyaan pak Doni yang aneh lagi.
Jadi tebakan mbak Fera bener tadi.
"Minggu saya kerja pak"
"Kamu kerja dimana hari minggu? "
Waduh keceplosan aku. Selama ini nggak ada yang tahu cuma mbak Fera aja yang tahu kalau aku kerja di kafe.
"Di kafe pak" terpaksa deh aku bilang.
"Sebentar saja, nanti aku bayar deh dua kali lipat gaji kamu di kafe. " tawar pak Doni.
Sebenarnya aku nggak mau. Kayanya akan semakin jauh nantinya.
"Demi Misel Ai, saya bingung nanti kalau anak itu ngambek lagi. Cuma datang sama saya nonton pertunjukan udah paling cuma sejam dua jam. " pak Doni maksa.
"Baiklah pak tapi jangan bilang saya mamanya Misel ya. "
"Ok, deal. " pak Doni tertawa. Dia nampak manis yang jarang ia perlihatkan pada pegawainya.
Lalu dia balik kerumahnya.
Aku pun masuk ke kosan dengan perasaan aneh, dan cemas. Takut hati ini bakalan nggak kuat kalau terus berhadapan dengan duda keren tersebut.