Aina

Aina
Ep 32



Matahari sudah muncul dengan sinar yang indah, aku selalu bertanya bagaimana Tuhan menciptakan matahari yang besar itu?.


Aku selesai mandi dan aku bingung karena lupa mengeluarkan baju ganti dari koper yang masih ada didalam bagasi mobil.


"Mbak" suara Sifa mengagetkan ku. Apalagi Sifa muncul dengan gaya yang berbeda dia memakai jilbab dengan sangat cantiknya. Aku masih memakai lilitan handuk jadi sangat terkejut kalau saja bukan Sifa yang masuk kamar.


"Kaget ya? tenang saja mas Jeno nggak bakalan berani masuk kok. " apaan coba.


"Tadi aku udah ketemu dia, lihat aku dapat thr ini. " dia menunjukkan sebuah amplop kecil.


Lalu dia membukanya, "duh cuma selembar, tapi yah Alhamdulillah deh. " mimik wajahnya berubah-berubah benar-benar lucu ini anak.


"Sifa, boleh nggak mbak minta tolong bilang ke Jeno buat mengambilkan bajuku dimobil. "


"Oh, ya Allah mbak maaf, ini mbak pakai ini ya." Sifa memberiku totebag besar yang sedari tadi dia pegang.


Aku menerimanya.


"Itu yang ngasih mas Jeno tadi"


Aku membuka, didalamnya adalah dress panjang berwarna biru muda lembut.


"Habis ini ada acara halal bihalal keluarga besar jadi ini sangat cocok buat acaranya mbak, ayo pakai mbak"


"Apa? acara apa itu Sifa? "


Aku bingung, bisa-bisanya aku akan terjebak di acara keluarga juga. Ini tidak bisa dibiarkan, apa mending aku kabur aja ya?


"Acara lebaran saling minta maaf dan makan-makan. Semuanya baik kok mbak, kalau mbak pakai ini apalagi sekalian jilbabnya nggak ada yang tahu kok. "


Aku terpaksa memakainya, karena tidak mungkinkan aku memakai bajuku kemarin.


"Sifa acaranya selesai kapan? " aku bertanya pada Sifa yang dari tadi menungguku pakai baju.


"Belum juga mulai, tapi sudah banyak yang kumpul diluar " jawabnya yang tidak terdengar baik.


Mampus aku terjebak gara-gara si kadal Jeno.


"Ayo, kita sarapan dulu. Embah putri sudah nunggu dari tadi penasaran sama mbak Aina. " hah?


Aduh aku lupa kalau ada nenek Jeno yang harus aku sapa, kemarin ibu bapaknya baik sekarang neneknya bagaimana ini?


Kemudian kami keluar, aku selalu mengapit lengan Sifa benar-benar membuatku jantungan.


Sifa langsung mengajakku ketempat makan, yang sudah banyak makanan tersaji disana.


"Kita sarapan dulu, tadi sudah pada sarapan tinggal kita berdua. " ajak Sifa mengambilkan aku piring.


Aku lihat emang tidak ada orang disini, sepertinya semua orang ada diruang tamu karena terdengar suara hiruk pikuk dari sana.


"Dirumah ini biasanya yang tinggal ada nenek, aku, adikku, dan ibuku kalau ayahku biasanya bolak-balik dia kerja di Papua yah semacam penambang gitu. Terus mbak tahukan kalau bude dan pakde di Korea. Jadi itu yang diruang tamu pasti mereka lagi kumpul. " jelas Sifa saat tahu aku sedikit melirik ke ruang tamu.


Ketika aku dan Sifa makan datanglah si kadal yang menyebalkan dengan memakai gamis panjang senada dengan dress ku aduh apalagi ini anak.


"Makan yang banyak ya sayang" celoteh Jeno tanpa dosa dan tidak tahu situasinya ada Sifa.


"Cuih, disayang-sayang nggak berani ngelamar. Mbak Aina jangan mau tuh" Sifa meledek Jeno.


"Apaan, lo anak kecil nggak tahu diem aja deh. "


Kemudian Jeno duduk disamping kursiku.


"Nanti sore aja Na"


"Nggak bisa pokoknya habis ini. "


"Ehem, masih ada aku kelesss jadi berasa jadi setannya deh akuh" Sifa berdiri, dia sepertinya sudah selesai makan.


Lalu aku menyusul Sifa membawa piring ku kedapur karena sudah habis juga.


"Biar aku yang nyuci aja mbak" Sifa mengambil piring ku.


"Oh, makasih Sifa. "


Lalu aku menghampiri Jeno. Hendak menarik paksa tangan Jeno untuk mengantarku ke terminal. Tapi belum juga aku tarik sudah ada seorang nenek yang sudah renta masuk mendekati kami.


Aku yakin dia nenek Jeno.


Aku tersenyum langsung menyalami tangannya dan mencium punggung tangannya.


"Pacarnya Jeno? " pertanyaan nenek dengan senyum ramah.


"Bukan nek, saya temannya"jawabku


"Iya nek, kita nggak pacaran nanti bakalan langsung nikah. " celetuk Jeno.


Nenek memukul lengan Jeno, "baiklah kali ini nenek ijinkan kamu sudah besar. "


Jeno terlihat sangat senang sekali.


"Tuh kan kita sudah dapet restu Na."


Nenek bilang seperti itu karena tidak tahu kalau ada dinding besar diantara kami.


Nenek juga sangat baik tapi ketika aku bertemu dengan tantenya Jeno alias ibunya Sifa ini beda dia menunjukkan raut wajah tidak suka terhadapku.


Aku terpaksa ikut acara keluarga ini, karena ternyata cuma bersalaman dan tersenyum lalu makan-makanan.


"Kalau tidak suka kamu ke kamar aja Aina. Tante tahu kamu tidak pernah seperti ini. " kata tantenya.


"Tidak apa kok tante. "


Aku lihat Jeno sibuk bercengkrama dengan saudara-saudaranya. Mereka nampak akrab sekali.


"Tante tahu Jeno itu dikeluarga saja menjadi anak baik, sedangkan diJakarta dia anak nakal. Kamu tahu tidak dia bahkan hampir dibunuh orang karena menghamili perempuan?" kata tante yang bikin aku melotot.


"Bukankah bukan Jeno yang menghamili nya tante? "


"Tapi dia mau menikahinya, jadi dia juga ikut bikin anak dong? " duh kalimat tante ini kok gini ya.


"Itu sudah masa lalunya tante. "


"Dia nggak berubah, pergaulannya bebas punya pacar aja, maaf kamu nggak seiman dengan kami kan? "


Aku merasa kesal," saya bukan pacarnya kok tante. "


"Oh baguslah, lalu kenapa kamu mau diajak kesini? "


"Maaf tante saya juga terpaksa ini tidak seperti yang direncanakan. Saya hendak pulang ke Malang tapi berhubung kemalaman jadi saya nginap dulu. Maaf kalau tante keberatan dengan keberadaan saya disini. " aku jadi merasa nggak enak.


"Emm nggak papa, tante nggak keberatan. Kamu ternyata sudah tahu bagaimana Jeno yang sebenarnya. Mudah-mudahan kamu mendapatkan hidayah ya nak, agar bisa berjodoh dengan keponakan tante. " Tiba-tiba tante ini jadi lembut, aku jadi bingung.