Aina

Aina
Ep 75



Aku jadi ingat kalau dia sedang di skor, atau apa dia sudah dipecat? aduh sayang sekali pekerjaannya sangat bagus. Tapi dia kadang seenaknya emang anaknya seperti tidak menghargai pencapaiannya itu. Diluar sana banyak yang mengidamkan profesi itu termasuk aku, nah ini si Jeno santai gitu kalau harus dipecat.


"Lo jadi pecat? " tanya penasaran.


Jeno yang sedari tadi tidak melihatku langsung menoleh sebentar mendengar suaraku.


"Putusannya hari senin besok. " jawabnya singkat.


"Oh, Mudah-mudahan lo nggak sampai dipecat deh"


"Filing gue sih gue bakalan di buang ke mana gitu. Tapi entahlah gue mah pasrah aja. " katanya santai.


Jeno hidupnya lancar tanpa beban dia selalu terlihat begitu.


"Makanya kalau bertindak itu dipikirin dulu"


Jeno melirik ku lagi, "gue nggak menyesal mukul bang Marsel, dia waktu itu terdengar menghina lo."


Haduh, aku jadi nggak enak.


"Jadi gara-gara gue?gue jadi nggak enak"


"Enggak juga, dia emang sengaja memprovokasi gue soal lo. Ya udah lah jangan dipikirin. Gue baik-baik saja kok. " diakhir kalimat Jeno menyentuh lenganku.


Lalu kami diam sampai depan kosan ku.


"Jeno, maafin gue ya. Gue banyak bersalah sama lo. Dan gue sangat berterima kasih banget sama lo. "aku sambil melepas sabuk pengaman ku


Jeno menatapku.


" Sudah ya, sekarang lo istirahat aja. Jangan mikir macam-macam. Masuk sana! " suaranya menenangkan jiwa.


"Mau mampir? " kenapa aku tanya itu.


Jeno melebarkan matanya. "Kosannya bebas? "


Aku mengangguk.


Tentu saja Jeno menyetujui, di mengikuti aku masuk kedalam kamarku.


Sepanjang perjalanan masuk dia clingukan nggak jelas, kaya mengamati situasi gitu.


Begitu masuk Jeno aku persilahkan duduk di tempat tidur, karena nggak ada kursi di kamarku.


Aku biasanya lesehan kalau melakukan aktifitas seperti makan atau mengerjakan tugas kantor yang aku bawa pulang.


"Ya udah gue pulang aja ya, lo istirahat aja biar cepat pulih. " katanya terdengar canggung.


Aku sebenarnya menyuruh dia masuk karena aku masih saja takut berada di ruangan sendiri. Entahlah padahal aku tadi sudah bisa masuk kamar mandi sendiri yah karena aku yakin diluar ada Angel.


"Kenapa?" tanya Jeno seakan tahu kalau aku nggak mau dia pergi.


Aku hanya menggeleng. Lalu duduk juga di samping Jeno.


Jeno memiringkan badannya, dia kemudian menyentuh pipiku yang ada lukanya yang kini di masih diplester.


"Sakit banget ya? " tanyanya lembut.


Aku menggeleng.


Dia menyentuh dahi ku yang masih ada perban kasa.


Lalu aku memeluk dia, dan air mataku jatuh.


Dia yang aku abaikan selama ini tapi selalu ada buat aku. Rasa bersalah kini menyelimuti ku.


"Kenapa nangis? " Jeno membalas pelukanku, bahkan dia mengelus punggungku.


"Maaf"


Beberapa saat setelah puas aku memeluk tubuh hangat yang selalu aku rindukan ini, aku lepaskan. Jeno mengusap pipiku yang terkena air mata dengan perlahan.


"Gue minta maaf. "


"Dari tadi minta maaf terus."


"Ya gue merasa bersalah karena udah berpikir buruk tentang lo, padahal terakhir bertemu di Solo kita baik-baik saja pasti lo kaget banget setelah itu kan" aku menjelaskan kesalahanku.


Jeno malah tersenyum nggak jelas kan ini bocah.


"Oh, gue tahu. Terakhir kita bahkan ciuman terus habis itu lo malah jadian sama cowok lain. Lo merasa bersalah itu ya? " tanyanya santai.


Padahal emang itu maksudnya tapi aku nggak berani omongin.


Aku mengangguk dengan polosnya.


"Santai aja, gue udah biasa kok kaya gitu. Ciuman bukan hal istimewa buat gue. " Jeno seenak jidatnya bilang kaya gitu.


"Beda, biasanya lo yang ninggalin si cewek kan? "


Jeno tertawa nyaring entah terdengar menyebalkan. Aku bahkan memikirkan ini dan merasa bersalah tapi nyatanya buat dia ciuman itu tidak berarti apapun. Yah dia sering berciuman dengan cewek tanpa arti khusus hanya sekedar ciuman saja.


"Mau ciuman lagi? " godanya.


Aku tabok lengannya.


"Gak! "


Habis itu dia agak risau melihat terus jam tangannya dan HP nya.


"Angel lama banget sih" gerutunya pelan.


"Lo buru-buru? ya udah pergi aja No"


"Iya nih udah jam 11 lebih gue belum ganti baju juga" jawabnya yang dia maksud adalah mau jum'atan.


Kebetulan ada yang datang, jadi pintu dari tadi aku biarkan terbuka ternyata. Jadi tadi kami berpelukan terus apa ada yang lihat?


Yang datang gerombolan teman kantorku.


"Weih ada cowoknya nih" suara cempreng mbak Vera langsung terdengar jelas.


Belum juga aku sangkal Jeno sudah berdiri pamit.


"Ya udah gue balik ya, ada banyak temen lo kan" dia mengelus lenganku sebelum pergi.


"Cie, nggak mau dikenalin nih"


Aku nggak menanggapinya.


Kemudian pada merusuh di kosan ku.