
Besok paginya aku pamit pada Angel untuk kembali ke kost lagipula aku masih punya sisa juga.
"Kenapa nggak tinggal disini saja Ai? lo lihat kan gue nggak ada temannya, mama dan papa masih pergi liburan. " cegah Angel sambil mengunyah makanannya karena kami sedang sarapan.
"Kan ada kakak lo? "
"Marsel? "
Aku mengangguk ringan.
Lalu muncullah orang yang kita bicarakan. Marsel datang dengan keringat yang penuh, dia mungkin habis berolah raga.
"Pagi Aina? " sapa Marsel.
"Pagi mas" jawabku.
Angel sepertinya melihat aku dan Marsel secara bergantian.
"Kenapa cuma Aina yang disapa? " tanya Angel sinis.
"Yang nampak cuma Aina disini. " jawab Marsel bercanda lalu minum air putih yang ada digelas dengan sekali teguk.
"Tuh kan Ai, lebih baik lo tinggal disini aja deh, setidaknya sampai lo dapat pekerjaan dan bisa bayar kosan gitu gimana? " Angel membujuk ku lagi.
Aku berpikir, memang benar aku tidak banyak uang kalau sisa kos ku juga tinggal satu bulan kalau dalam satu bulan ini aku tidak punya pekerjaan dan uang mau makan apa dan tinggal dimana aku.
"Bener kata Angel Aina, kamu bisa tinggal sementara disini. Nggak usah sungkan juga. " Marsel membujuk ku juga.
"Baiklah"
***
Setelah itu aku berusaha mencari pekerjaan di media sosial, aku juga segera mengirim lamaran ke semua lowongan yang sesuai kriteria ku.
"Sayang banget ya di perusahaan gue belum ada lowongan, entar kalau gue udah baikan sama Daniel gue tanyain deh ke dia. " Angel yang selalu membantuku.
"Kalian berantem lagi? "
"Hem, lo tahu Daniel itu kalau bekerja suka seenaknya sendiri nggak pernah serius, proyeknya selalu gagal papanya selalu marah gue juga. Dia masih belum bisa berubah dan belum dewasa Aina. " cerita Angel yang menggebu-gebu.
"Mungkin suatu saat nanti juga berubah, sabar aja" saranku.
"Eh lihat Jeno ngechat gue nanyain lo terus, gue harus gimana kali ini? kemarin kemarin gue kadang nggak bales dan kalau ditelpon gue alasan sibuk. Nah ini kan akhir pekan pasti tahu gue nggak sibuk" rengek Angel yang kebingungan untuk menghindari Jeno.
Memang aku meminta dia untuk tidak bilang tentang keberadaan ku. Aku memblokir kontaknya dan aku memutuskan untuk tidak mau berurusan lagi dengan dia.
Tapi hatiku sakit saat berusaha melupakan dan mengabaikan Jeno. Tak lupa juga aku masih punya hutang banyak padanya, jadi itu tujuan utama ku melunasi hutang ku.
Kalau aku pinjam Angel, itu tidak mungkin karena Angel sudah sangat baik padaku.
"Ya sudah gue tidur dulu. " Angel naik ke atas ranjang.
Aku tidak bisa tidur hingga aku memutuskan pergi keluar kamar.
Mencari udara segar di balkon kayanya enak.
Angin malam ini cukup tenang tidak dingin juga.
"Ehm, kok belum tidur? " suara dari belakangku mengagetkan.
Aku menoleh ternyata Marsel.
"Iya belum ngantuk mas"
"Mau kopi? " Marsel mengangkat mug berisi kopi menawari ku.
"Nggak aku nggak suka kopi. "
Lalu kami duduk dikursi besi yang menghadap ke langit.
Pikiranku masih tentang bagaimana cara melunasi hutang ku agar aku terlepas dari Jeno.
"Kenapa ngelamun malam-malam? " tanya Marsel.
"Nggak kok"
"Apa ada yang bisa saya bantu buat menyelesaikan masalahmu? " sambil menyeruput kopinya.
"Nggak kayanya"
"Serius? " Marsel menatapku.
Aku memandangi Marsel, mungkin dia bisa bantu aku.
"Tawaran mas Marsel masih berlaku? " gila aku bertanya itu, maksudnya tawaran jadi pacar sewaan nya waktu itu.
"Masih, kamu mau jadi pacar saya? Kebetulan banget lusa orang tua saya pulang pasti menanyakan itu lagi. Dan saya nggak bisa bujuk Gres untuk balik ke indo. " Marsel juga nampak frustasi.
Jadi nama pacarnya adalah Gres.
"Kita bicara ditempat aman aja, aku nggak mau Angel denger. "