
Ternyata bapak pindah agama sudah empat bulanan.
Terlihat pak kyai dan rombongan datang ke rumah untuk bela sungkawa dan mengaji untuk bapak setelah bapak dikebumikan.
Aku tidak tahu tapi entah kenapa banyak sekali yang datang untuk mengaji ke rumahku untuk bapak.
Hanya tetesan air yang terus menetes. Hatiku bergetar hebat mendengar lantunan ayat-ayat suci itu. Dan juga kata mereka ada yang disebut tahlil. Aku nggak tahu apa itu.
"Bapakmu dekat dekat dengan pak kyai, katanya kalau sedang bersama beliau jadi tenang dan bisa melupakan rasa bersalahnya. Tapi ya kalau sudah sendiri balik lagi melamun memikirkan kamu. Bulek juga nggak nyangka dia jadi mualaf katanya sebutannya kalau pindah agama islam. Bulek saat tahu juga sedikit marah, tapi bapak kamu sudah tua jadi ya terserah lah. Agama apapun pasti menuju kebenaran. " Bulek Rina panjang lebar ceritanya.
Aku juga pernah punya keinginan pindah tapi aku nggak tahu harus kemana dan waktu itu cuma biar bisa bersama Jeno saja. Ternyata niat itu tidak boleh.
***
Selama seminggu tiap malam ada yang tahlilan.
Ini sudah berganti tahun. Rencanaku aku akan kembali ke jakarta bulan depan saja. Aku juga bilang ke para karyawan, mereka ingin sekali kesini tapi tidak aku ijinkan.
Dan seminggu ini Jeno kata Bayu tidak bisa dihubungi. Jadi mungkin dia tidak tahu kabar duka ini.
Padahal disaat seperti ini aku membutuhkan dia yang aku rindukan.
Ah sudahlah,
***
Sudah sebulan lebih, ternyata kata pak kyai besok ada tahlilan lagi buat 40 harian bapak.
Aku pasrahkan segala hidangan untuk para tamu pada bulek Rina tinggal aku kasih uangnya saja.
"Aina" ada suara yang sangat aku rindukan.
Akhirnya suara itu datang dan memanggilku.
Yah, Jeno datang.
Dia langsung memelukku.
"Maaf, maafin gue Aina. Gue nggak tahu." Jeno merasa menyesal. " Gue baru pulang dari Korea. "
Aku hanya menggeleng tanda tidak masalah dan mengangguk tanda mengerti.
"Lo pasti sedih sendirian ya? " Jeno berbicara lembut dan mengusap rambutku setelah selesai berpelukan.
"Tidak, ada bulek Rina dan kemarin ada Angel juga datang kesini kok"
Angel setelah aku kabari langsung bergegas kemari tapi aku kasih tahu setelah tahun baru. Agar dia bisa merayakan tahun barunya dulu tanpa beban. Dia disini selama seminggu lebih.
Lalu Jeno mengajakku untuk ke kuburan bapak. Dia berdoa disana.
Besoknya Jeno juga ikut tahlilan bersama orang-orang. Semalam Jeno menginap di rumah juragan kopi yang selama ini kopinya yang didistribusikan ke kafenya Jeno. Kebetulan mereka punya tempat untuk disewakan sebagai kos-kosan anak sekolah.
"Itu siapa Aina? " tanya bulek ketika kami sedang menyiapkan hidangan untuk para tamu. Ternyata bulek Rina penasaran karena ada orang asing yang ikut tahlilan.
"Teman Aina bulek, sejak kuliah dulu"
"Kok ganteng banget? bukan pacar kamu? " bulek ternyata mengagumi Jeno.
"Bukan bulek cuma teman saja"
"Bulek tidak percaya, masa cuma teman mau jauh-jauh ke sini. " bulek curiga.
"Memang cuma teman bulek, Jeno juga kenal bapak. Dulunya bapak jadi pemasok kopi buat usahanya Jeno. Lalu bapak lempar ke pak Gino juragan yang kopinya sama persis sama kaya punya bapak. " aku menjelaskan.
"Ohhhh gitu. Sudah ganteng pengusaha lagi" bulek tidak henti-hentinya memuji Jeno.
"Dia bahkan pns bulek" imbuhku biar makin klepek-klepek itu emak-emak.
"Ha? serius? bulek kalau masih muda mau loh sama dia" tuhkan bulek menggila.
Aku hanya tersenyum saja.
"Ai, kok bulek lihat dia kaya pemain drakor yang bulek lihat ya? " bulek masih mengamati Jeno dari jauh.
Aku yakin kuping Jeno panas.