
"Sekarang lo mau langsung pulang atau mau kemana? " tanya Jeno saat kami di dalam mobilnya sambil menjalankan mobilnya ini.
Aku sangat jenuh berasa didalam kamar beberapa hari ini tanpa keluar kamar bahkan. Angel selalu menemaniku dan mengurus ku dengan baik.
"Kalau lo mau kemana? " aku balik nanya. Siapa tahu tujuannya menarik dan aku bisa ikut.
"Lo mau ikut? " malah nanya balik lagi.
"Bosen gue beberapa hari dikamar terus,dan nggak ngapa-ngapain. "
"Namanya juga orang sakit" ngomong kaya gitu dengan fokus mengemudi. "masih sakit kan? " baru deh nengok sedetik.
"Sebenarnya nggak begitu sakit,udah sembuh.Kepala gue udah nggak diperban nggak pusing juga. Tinggal luka yang di paha aja."
"Mau lihat dong? " godanya.
Aku melotot, " enak aja! "
"Pantesan pakai rok gitu" sambil melirik rok yang aku pakai.
Aku memang memakai rok model A agak di atas lutut beberapa senti tapi masih aman. Karena kalau pakai celana panjang akan kena luka dan agak sakit.
"Biasanya gue juga pakai"
Jeno tertawa.
"Gue mau ke kafe mau ikut gue apa pulang aja" katanya menerangkan tujuannya.
"Boleh ikut? "
Lalu Jeno membawaku ke kafe miliknya.
Ini masih jam 11 an tapi kafe ini sudah buka.
Pengunjung memang tidak begitu ramai, hanya beberapa saja. Mungkin mereka lebih memilih nongkrong di kafe pada sore atau malam harinya.
"Weih si bos bawa cewek cakep nih" itu suara salah satu karyawan yang sedang berada di dekat pintu.
Aku jadi agak malu, entar para karyawan pada ngegosip lagi.
Ekspresi Jeno cuma cengar-cengir ?
nggak jelas.
"Nggak usah ngiri lo" candanya.
Lalu Jeno menyuruhku untuk duduk di salah satu kursi.
Sedangkan dia masuk ke area bar, lalu terlihat menatap layar kasir. Entahlah.
Jadi aku disini cuma di kacangin, cuma disuruh duduk diam nggak ngapa-ngapain.
Apa ini salah aku sendiri ikut Jeno? padahal dia ke sini jelas mau kerja.
Tak lama datanglah seorang karyawan laki-laki meletakkan minuman di meja ku.
"Silahkan mbak diminum. " dia mempersilahkan.
"Makasih."
"Mbaknya pacarnya pak bos ya? " tanyanya dengan ingin tahu.
Aku mengambil minuman strawbery tersebut yang nampak menggoda.
"Sudah saya duga, pak bos emang selalu gitu. Setiap bawa cewek pasti bukan pacarnya, terus mana pacarnya. Kita jadi penasaran. " dia menceritakan fakta yang sudah aku ketahui emang Jeno nggak mau pacaran.
Tapi berapa banyak sih cewek yang pernah diajak kesini.
"Ya sudah saya permisi ya mbak. " dia pergi.
Aku akhirnya mendekati Jeno yang masih sibuk memeriksa layar komputer. Kayanya memeriksa hasil penjualan, atau stok bahan atau apalah.
"Duduk aja, gue cuma bentar kok. " katanya sambil tersenyum.
"Emang ada masalah? "
"Sedikit, emang kadang suka gini. Bahan habis dibiarin aja,terus penjualan sedikit menurun. " cerita Jeno yang menunjukkan raut serius agak sedikit emosi.
"Oh,gitu.Sabar aja"
Jeno tidak menanggapi, dia masih terus sibuk dengan laporannya.
Melihat Jeno yang serius kaya gini jadi merasa aneh. Dia bisa juga serius, padahal biasanya cengengesan terus.
"Gue kayanya mesti mengadakan rapat bentar. " katanya menegakkan badannya.
"Ya udah, gue bantu jaga disini deh"
Lalu Jeno mengumpulkan karyawannya di balik meja bar tersebut. Aku menunggu di meja kasir.
Untungnya pelanggan cuma sedikit jadi tidak sibuk.
Karyawan Jeno ada lima, mereka cowok semuanya. Jeno memimpin rapat yang diadakan secara berdiri.
Jeno menjelaskan permasalahan tadi pada mereka. Dia terlihat wibawa dan serius. Ini beneran sosok Jeno yang beda. Terlihat para karyawannya sangat menghormatinya kalau lagi mode serius kaya gini.
Setelah selesai Jeno menghampiriku.
"Kenapa? sejak tadi mandangin gue terus sampai gue grogi mimpin rapatnya. " bohong dia, jelas dia biasa aja bahkan tidak menghiraukan aku eh dia bilang grogi.
"Ih siapa juga "
"Na, lo mau kopi? " Jeno sedang ingin menyedu kopi dengan alat kopi.
"Gue nggak suka kopi"
"Tapi gue suka, mau belajar bikin? " terus apa peduliku dia suka atau enggak.
Ajakan Jeno mengajariku membuat minuman kopi emang menarik.
Lalu Jeno mengajariku dari kopi paling sederhana yaitu kopi hitam lalu kebetulan ada pesanan es kopi. Kemudian minuman lainnya yang masih berbahan kopi dan susu juga dijadikan rasa buah-buahan.
Tak terasa hingga menjelang sore aku menikmati kegiatan ini. Kalau Jeno sedang istirahat ada karyawannya yang menggantikan, akupun selalu memperhatikan cara membuatnya.
"Menyenangkan sekali ya jadi bartender tadi. Makasih ya Jeno sudah membagi ilmunya ke gue" ucapku saat kami sedang makan siang di sore hari.
Karena ke senengan aku nggak mau makan tadi.
Padahal Jeno beberapa kali istirahat, makan, sholat bahkan mandi juga.
"Mau kerja di kafe gue? " tanyanya dengan wajah serius.
Aku hanya menggeleng.