
“Aku nggak mau ketemu papa,” ucap Rina disela isak tangisnya. Gadis itu ada di pelukan Diah yang terus mencoba menenangkan dan memberi pengertian.
“Papa sudah menyesal, sudah minta maaf,” jawab Diah sambil mengusap punggung gadis kecil tersebut.
“Tapi ingatanku tidak bisa hilang begitu saja, Oma.”
Kirana memberikan kode untuk tak lagi mengajak sang anak bicara. Membiarkan gadis kecil itu menangis menumpahkan kemarahan.
Ingatan seorang anak itu sangat kuat. Tidak akan mudah menghapus ingatan buruk itu begitu saja.
“Lina mau mampir beli ice cream?” tanya Kirana mengalihkan perhatian.
“Enggak, Ma. Pulang saja. Kasihan kakak,” sahut Lina menatap saudara perempuannya.
“Rina mau beli sesuatu dulu nggak?” tanya Kirana lagi yang tidak mendapat jawaban apa pun.
Wanita hamil itu hanya menghela napas pelan dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Mobil melesat kembali ke rumah. Sepanjang jalan tidak ada yang bersuara, mereka saling diam dengan pikiran masing-masing.
Sesampainya di rumah kedua anaknya langsung pergi ke kamar tanpa mau mendengar penjelasan apa pun darinya.
“Apalagi ini, Tuhan,” keluhnya sambil memijat pelipis yang berdenyut pusing.
“Jangan terlalu dipikirkan, Kiran. Mereka sebenarnya rindu, tapi ada juga perasaan sakit yang dirasakan,” jawab Diah.
Kirana pamit kembali ke kamar. Dia butuh istirahat, kepalanya benar-benar dilanda pusing yang luar biasa.
Di sisi lain, Zidan kembali pulang ke rumah setelah menenangkan diri. Seperti sebelumnya, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman, kini seperti neraka baginya.
Istri yang tidak bisa diatur, orang tua yang selalu menekannya. Kehidupannya sangat berbanding terbalik dengan mantan istrinya yang hidup dengan baik.
“Dari mana saja kamu, Mas?” sentak Luna sambil berkacak pinggang.
Zidan tak menjawab dan melewatinya begitu saja. Di dapur, dia berpapasan dengan sang ibu yang tersenyum sambil menyodorkan segelas air.
“Makasih, Bu.”
Ajeng tersenyum dan mengangguk.
“Gimana dengan Kirana? Kamu harus segera menyelesaikan urusan dengan orang itu supaya kita dapat pembayaran terakhir.”
Zidan diam. Dia masih ingat apa yang dimaksud oleh ibunya. Kebebasannya harus dibayar mahal dengan menghancurkan kehidupan Kirana dan suaminya. Tidak mungkin dia bebas begitu saja jika tidak ada yang menjaminnya. Bibirnya tersenyum miris, di dunia ini memang tidak ada yang gratis.
“Masih sulit, Bu. Kita sendiri tahu bagaimana suami Kirana melindungi wanita itu,” sahut Zidan beralasan.
Ajeng maupun Luna tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Zidan telah mengatakan semuanya kepada Kirana tentang siapa yang telah membebaskan dan apa tujuan mereka.
“Uang kita sudah hampir terpakai sebagian untuk biaya pengobatan Nina,” ujar Ajeng menghela napas pelan.
“Lebih baik ibu hentikan saja pengobatan Nina. Kita nggak bisa terus-terusan mengeluarkan biaya untuk mengurus Nina.”
“Kalau Nina sembuh dia bisa cari suami kaya dan semua yang telah kita keluarkan akan kembali,” bentak Ajeng marah.
Zidan menggeleng pelan. Hanya itu saja yang ada di pikiran ibunya. Tak ingin berdebat, pria itu memilih pergi dan masuk ke kamar.
Zidan menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan mata terpejam. Setitik air mata kembali jatuh melewati pipinya.
“Aku dan Nina sudah hancur karena ambisi dan keinginanmu, Bu,” bisiknya pelan.
...✿✿✿...
Sepanjang makan malam, Rina dan Lina tak banyak bicara. Setelah makan pun, mereka berdua langsung kembali ke kamar.
“Ada masalah apa Kiran?” Beralih menatap sang istri yang tampak tak bersemangat.
“Rina menolak bertemu dengan Zidan dan ya begitulah. Ingatan anak-anak itu sangat tajam, mereka mengingat semua perlakuan Zidan sebelumnya.”
Kendrick mengangguk mengerti. Walaupun dia hanya ayah tiri, tetapi rasa sayangnya sangat besar. Dia sudah menganggap mereka seperti anak kandung.
“Nanti aku bantu kasih mereka pengertian.”
“Makasih, Ken,” ucap Kirana dengan senyum tipis.
Mereka berpindah ke ruang keluarga dan membicarakan banyak hal. Salah satunya terkait dengan keberadaan Rajendra yang memilih menetap di Jakarta.
Namun, Kendrick meyakinkan bahwa Rajendra tidak akan melakukan apa pun. Dia paham betul karena dirinya sendiri memiliki sikap yang sama dengan sang ayah.
Semakin diancam, digertak dan ditekan, mereka akan semakin menjadi-jadi. Sama-sama memiliki sikap keras yang menurun.
Setelah bicara panjang lebar, mereka masuk ke kamar dan istirahat.
Kirana masih bersandar di ranjang sambil mengeluh pelan, menimbulkan tanya bagi sang suami yang langsung mendekat.
“Ada apa?”
“Nggak apa-apa, kakiku sedikit sakit.”
Kendrick membuka selimut dan berniat memijat kaki sang istri, tetapi matanya membulat saat melihat kaki itu membengkak sedikit kemerahan.
“Ini kenapa kok gini? Ayo ke dokter saja.”
“Nggak apa-apa. Minta tolong suruh Wina ambilkan air hangat dan garam untuk merendam kaki.”
“Lebih baik ke dokter,” ujar Kendrick keukeh. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada sang istri.
“I’m okay. Nggak perlu cemas, ini hal yang biasa yang dialami sebagian ibu hamil.”
“Aku panggil Mama Diah, ya.”
Kirana menggeleng pelan. Ini sudah terlalu larut untuk menganggu Diah yang tengah istirahat.
“Panggil Wina saja.”
Kendrick langsung bergegas memanggil asisten rumah tangga kesayangan istrinya. Tak lama wanita itu datang dengan membawa seember air hangat yang telah dicampur garam.
“Sini, Bu, masukkan ke sini kakinya.” Wina meletakkan ember di samping ranjang.
“Makasih, Mbak.”
Kirana bangun dibantu sang suami. Lalu mencelupkan kakinya di air hangat. Rasanya nyaman sekali.
Kendrick meminta Wina kembali ke kamar. Biar nanti dia yang membereskan sisanya.
“Sudah mendingan?” tanya Kendrick mengusap bahu istrinya.
“Lumayan. Kamu sudah selesai? Jika sudah istirahat saja, aku nggak apa-apa. Nanti kalau sudah aku langsung tidur,” ucap Kirana.
“Aku temani,” jawab Kendrick tidak mau dibantah. Mana mungkin dia bisa tidur jika tidak memeluk sang istri.
Empat puluh menit setelah selesai merendam kaki dan mengeringkannya. Sepasang suami istri itu mulai membaringkan tubuh sambil saling mendekap satu sama lain.
Kirana menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami sambil berkata, “Ken, aku takut.”
To Be Continue ....