
Keesokan paginya, Kirana benar-benar mengantar kedua anaknya ke rumah orang tuanya di kota sebelah.
Ditemani oleh Wina mereka berangkat pagi-pagi sekali. Dan di sinilah mereka sekarang, duduk di ruang tamu rumahnya bersama dengan kedua orang tuanya.
“Ma, Pa, aku mau ngomong,” ucap Kirana ragu.
“Ngomong aja. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?” sahut Rahma lembut.
“Aku mau bercerai dari Zidan,” suara Kirana terdengar menahan diri.
Kedua orang tuanya tak sama sekali tak terlihat terkejut. Justru wanita yang telah melahirkannya itu tersenyum penuh kasih sambil menggenggam tangannya.
“Kami nggak bisa melarang jika itu udah jadi keputusanmu. Kamu yang menjalani dan tahu mana yang terbaik.” Rahma seperti mencoba menguatkan.
“Aku mulai muak dengan hubunganku dengan Zidan, Ma. Aku lelah dan ingin mengakhirinya,” keluh Kirana pelan.
“Kamu udah dewasa dan tahu mana yang baik, kami sebagai orang tua hanya mampu mendukung.” Abdillah tersenyum hangat dan penuh pengertian.
“Kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Jika memang ini udah jadi keputusan final, maka setelah ini kamu harus bisa melanjutkan hidup.”
“Aku tahu, Ma. Makasih.” Kirana memeluk sang ibu, menumpahkan segala keluhan di bahu wanita yang telah melahirkannya.
“Tapi aku takut jika apa yang pernah terjadi pada kita, akan dialami kedua anakku.” Ucapan Kirana sontak membuat kedua paruh baya tersebut menegang.
Memori ingatan mereka kembali pada kejadian puluhan tahun yang lalu.
“Itu nggak bener, jangan terjebak oleh masa lalu yang belum terjadi.”
“Tapi ini ketakutan yang wajar, Mama.”
“Itu nggak wajar karena jika kamu ingat-ingat terus itu bakal jadi trauma buatmu!” seru Rahma dengan napas naik turun.
“Udah jangan dibahas lagi jika itu hanya akan menyakiti kalian.” Abdillah segera melerai.
Kirana masuk ke dalam kamar setelah pembicaraan dengan kedua orang tuanya. Ingatan buruk yang pernah terjadi dan dialami kini mulai menghantuinya lagi.
Matanya memanas hingga terdengar isak tangis lirih. Tangannya mencengkeram sprei dengan begitu kuat, entah mengapa tiap kali ingatan itu muncul ada ketakutan yang selalu hadir baik dalam hati dan pikirannya.
Kirana segera menghapus air mata ketika pintu kamarnya diketuk. Sosok pria paruh baya muncul dan langsung menghampiri.
“Kirana,” panggilnya.
“Ada apa, Pa?” tanya Kirana dengan suara serak.
“Apa kamu masih mengingat kejadian itu?”
Kirana hanya mengangguk.
“Kamu masih takut?”
“Aku sudah coba menghilangkannya, tapi terkadang ketakutan itu muncul dan membuat keraguan.”
“Papa tahu, kita memang nggak bisa mengubah apa yang telah terjadi di masa lalu. Tapi semuanya sudah jadi kenangan.”
“Papa juga nggak bisa paksa aku buat melupakan sesuatu yang udah terpatri dalam ingatan.”
“Papa nggak minta kamu buat lupain. Tapi cobalah berdamai agar kamu tak dihantui rasa takut itu.”
Kirana mengangguk lemah. “Aku akan mencobanya. Terima kasih, Papa.”
“Terima kasih karena telah menjadi papa terbaik yang selalu melindungi kami.”
“Kamu putriku. Jadi jangan katakan itu lagi, Nak. Kamu menyakiti hati pria tua ini.”
Kirana mendongak demi bisa menatap wajah pria paruh baya yang mulai menua seiring umur yang semakin bertambah.
“Maaf.”
“Papa hanya ingin kamu dan anak-anakmu hidup bahagia.”
Kirana semakin erat memeluk pria paruh baya tersebut. Abdillah bukan ayah kandungnya tetapi kasih sayang dan cinta yang diberikan begitu besar melebihi ayah kandungnya sendiri.
...✿✿✿...
Dua puluh lima tahun yang lalu ....
Rahma dan Ardian adalah sepasang suami istri yang telah dikaruniai putri cantik yang diberi nama Aiza Kirana Mirabelle yang saat itu baru berusia lima tahun.
Usia pernikahan mereka baru menginjak tujuh tahun tetapi hubungan keluarga tersebut memang sejak awal tidak berjalan baik.
Rahma yang pendiam dan Ardian yang tempramen. Setiap hari selalu ada keributan yang terjadi dan itu selalu disaksikan oleh bocah kecil yang diam-diam selalu mengintip dibalik pintu.
Hingga kejadian itu bermula pada saat Rahma sudah tak tahan lagi dengan sikap Ardian yang ringan tangan, mulai melawan dan berulang kali meminta cerai.
Bukannya permintaan tersebut ditanggapi dengan kepala dingin, Ardian semakin kalap, pria itu memukuli Rahma hingga wanita itu hampir meregang nyawa andai saja tak ada para asisten rumah tangga yang membantunya.
Kemudian semuanya dimulai saat Rahma kabur saat dirinya berada di rumah sakit. Meninggalkan Kirana kecil bersama dengan sang ayah yang pikirnya tak mungkin menyakiti anaknya sendiri.
Semua perkiraan itu salah. Justru Ardian menjadikan Kirana sasaran pelampiasan amarah. Bahkan pria itu tak segan melakukan kekerasan fisik maupun psikis pada bocah kecil berusia lima tahun yang belum mengerti apa-apa.
Dalam pelariannya Rahma bertemu dengan Abdillah yang membantunya. Menampung dan mencoba mencarikan solusi untuk masalahnya.
Satu bulan kemudian saat Rahma ingin mengambil Kirana, yang ditemukan justru rumah mereka sudah kosong. Ardian menghilang bersama dengan sosok putri semata wayangnya.
Rahma melaporkan kehilangan putrinya. Namun karena yang membawa adalah salah satu orang tuanya maka itu tak bisa dikategorikan sebagai penculikan. Maka kasus tersebut tak bisa dibawa ke jalur hukum.
Abdillah sudah melakukan berbagai cara. Menyewa detektif bahkan menggunakan seluruh koneksinya untuk melacak keberadaan Ardian, tetapi hasilnya nihil. Mereka seperti hilang ditelan bumi.
Bulan berganti, tahun berlalu, empat tahun sudah Kirana belum ditemukan. Mereka tak pernah lelah mencari dan terus berusaha.
Saat Rahma hampir lelah dan putus asa, tiba-tiba dia dihubungi oleh pihak imigrasi dari Las Vegas dan di sana mulai ada titik temu tentang anaknya.
Kirana kecil ternyata selama ini menjadi korban penjualan anak, dikirim dan dijadikan budak di negara tetangga.
Untuk pertama kalinya bertemu, Rahma bahkan hampir tak mengenali keadaan putrinya yang begitu mengenaskan. Bahkan saat sampai dibawa kembali ke Indonesia, keadaannya masih trauma dan terlihat ketakutan hingga Kirana yang masih kecil harus mendapatkan pendampingan psikolog.
Ternyata baru diketahui bahwa Ardian masuk ke dalam sindikat mafia penjualan anak dan organ tubuh.
Dan Kirana menjadi korban akibat kemarahan Ardian pada Rahma.
Kirana yang polos, yang bahkan belum tahu apa pun, sosok kecil yang hanya tahu tentang bermain harus mengalami kejadian buruk. Hingga dia tumbuh dewasa, masa kelam tersebut tak bisa benar-benar enyah.
Ketakutannya soal kegagalan pernikahan dan bayangan kelam tentang yang terjadi pada dirinya sendiri.
Kirana takut ... jika anak-anaknya akan mengalami hal serupa.
To Be Continue ....