
Setelah seharian menemani sang suami bekerja, sepasang suami istri itu sampai di rumah di waktu menjelang petang.
Setelah menyapa kedua anaknya, mereka pergi ke kamar untuk mandi sebelum makan malam tiba.
“Mandi bareng, yuk.” Kendrick memeluk sang istri, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya.
“Kamu mandi aja dulu, pinggangku sakit, mau rebahan sebentar.” Kirana membalikkan tubuh dan mengecup pipi sang suami sebelum berbaring di ranjang dengan nyaman.
Setelah melepas pakaian formal, pria itu hanya bertelanjang dada dengan celana pendek selutut, menghampiri ranjang dan memijat punggung istrinya pelan.
“Udah, Ken. Kamu mandi aja, aku nggak apa,” ucap Kirana ingin membalikkan tubuh, tetapi ditahan pria itu.
“Nikmati aja, maaf, ya. Aku membuatmu menjadi seperti ini.”
Kirana terkekeh, kenapa pria ini selalu menggemaskan. Ucapannya yang terkadang terlalu polos membuat suasana hatinya selalu baik.
“Andai aku tidak menghamili kamu—”
“Tapi enak, kan?” potong Kirana dengan senyum tipis.
Kendrick jelas mengangguk dengan semangat. “Ya, enak. Kalau enggak enak, nggak bakal ketagihan.”
“Ya udah, yuk sekarang lagi.”
“Apa?” Kendrick terlihat bingung.
Tanpa banyak kata, Kirana membalikkan tubuh dan menarik sang suami dan langsung membungkam bibirnya dengan ciuman.
“Yuk, enak-enak, tapi keluarnya jangan di dalam. Di luar aja,” bisik Kirana di sela ciuman yang liar, panas dan menggairahkan.
“Kok ngatur?” balas Kendrick dengan napas yang memburu akibat hasrat yang mulai terpancing.
“Mau enggak? Kalau enggak, ya udah, tutup lagi nih.” Giliran Kirana yang melotot kesal.
Namun sebelum tubuh wanita itu berbalik, Kendrick segera menahannya dan langsung menyerbu wanita yang selalu membuatnya menginginkan lebih.
Suara desahaan rendah, lalu geraman yang makin lama makin keras memicu gairah yang liar dan panas. Mereka melupakan segalanya, yang ada dalam benak hanya tentang saling memuaskan. Seperti seorang pengembara yang tengah memuaskan rasa haus di tengah gurun pasir.
Keduanya tenggelam dalam fantasi dan kebutuhan yang sudah lama tak tersalurkan.
...✿✿✿...
Rasa lapar baru dirasakan ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Belum mandi, makan malam terlewatkan dan kini keduanya terkapar di atas ranjang dengan tubuh yang masih polos dan ranjang yang berantakan.
Mereka seperti kesetanan. Lupa keadaan, lupa daratan akibat sensasi kenikmatan yang dirasakan berkali-kali.
Kendrick menarik sang istri, membawa kepalanya untuk menempel di dada bidangnya. Bibirnya mengecup puncak kepala itu berkali-kali.
“Kamu nggak apa-apa? Maaf aku lupa jika kamu sedang hamil.”
“Mandilah, aku akan membersihkan ranjang lebih dulu.”
Tanpa banyak protes, pria itu menuruti ucapan sang istri.
Setelah merapikan ranjang, tak lupa menyiapkan piyama tidur sang suami. Saat dia sudah terlihat segar kembali, sang suami duduk di alas dengan beberapa piring makanan.
“Tadi aku minta Wina ambil makanan. Makan, terus istirahat.”
Kirana mengangguk.
“Aku bisa makan sendiri.”
Setelah makan, Kendrick membereskan piring bekas dan meletakkannya di samping pintu kamar. Besok, bibi atau siapa pun yang lewat pasti akan membawanya ke dapur.
“Minum vitamin.” Kendrick mengulurkan vitamin yang diberikan oleh dokter kandungan.
“Besok aku mulai ke kantor, kamu di rumah aja. Setelah jadi pengangguran, saatnya harus kembali ke dunia nyata. Mimpi indah udah berakhir,” ucap Kendrick dengan senyum tipis. Dia yang dikenal workaholic tiba-tiba hanya diam ternyata membuatnya bosan. Untunglah ada sang istri yang menemani, jika tidak, dia akan benar-benar terbunuh karena tak tahu harus melakukan apa.
“Kalau gitu, biar aku juga kerja. Aku mau datang ke resto, mau cek keadaan.”
“Boleh, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Aku nggak mau kamu terbebani.”
Perut kenyang, bawa perut juga sudah kejang, waktunya tidur dan merangkai mimpi indah bersama orang tersayang.
...✿✿✿...
Keesokan paginya, perdebatan kecil terjadi akibat Kendrick yang menolak memberikan izin pada Kirana untuk membawa mobil.
Keduanya keukeh tidak mau ada yang mengalah. Hingga akhirnya pria itu harus mengeluarkan ultimatum untuk membuat sang istri mau menurut.
Dia akan mengurung wanita itu di rumah jika tak mau menuruti perintahnya. Bukan Kendrick ingin mengekang kebebasan sang istri, dia hanya khawatir mengingat kehamilan yang masih muda dan rentan.
Akhirnya Kirana menurut dan masuk ke dalam mobil sang suami karena pria itu sendiri yang akan mengantar dan memastikan bahwa dia sampai tujuan dengan selamat.
“Kamu hati-hati di jalan.” Kirana mengecup pipi dan bibir sang suami sebelum turun.
“Nanti kalau ke toko, kabari aja, biar aku suruh Indra antar ke sana.”
“Oke.”
Saat memasuki resto, Kirana tak sengaja menabrak seseorang karena dia tengah sibuk menatap layar ponsel.
“Maaf, aku tidak sengaja,” ucap Kirana dengan kepala yang masih menunduk.
“Ah, tidak apa,” sahut pria itu, merapikan kembali jas yang dipakai. “Wah, kita bertemu lagi, Nona.”
Kirana mendongak sedikit terkejut, kapan dia pernah bertemu dengan pria itu. Namun dia hanya menggeleng pelan.
“Mungkin Anda salah orang. Aku tak pernah bertemu denganmu.”
“Grand Hotel Anala,” jawab pria itu menyebutkan lokasi pertemuan mereka.
“Maaf, aku tak mengingatnya. Terima kasih banyak sudah memaklumi keteledoran saya.” Kirana menunduk lagi, kemudian berlalu begitu saja.
“Tunggu, Nona!”
Kirana menoleh dengan alis menukik tajam. “Ya?”
“Siapa nama Anda?”
“Anda tak perlu tahu. Kita hanya orang asing yang tak sengaja bertemu.”
Pria itu mengepalkan tangan mendengar jawaban yang tak terduga. Dia menatap punggung milik wanita yang membuatnya terpesona pada pandangan pertama.
“Menarik,” gumam pria itu pelan dengan wajah menyeringai.
To Be Continue ....