Affair With CEO

Affair With CEO
Rahasia Kendrick



Sepanjang malam Kirana tak bisa memejamkan mata karena suaminya belum pulang dan tak bisa dihubungi.


Ponselnya mati dan membuatnya tak bisa melacak keberadaan pria itu. Sementara mertuanya juga sudah mendatangi showroom, berpikir Kendrick ada di sana, tetapi nihil. Tempat itu sudah kosong dan hanya ada para penjaga yang sedang bertugas.


Saat Diah bertanya kapan Kendrick meninggalkan tempat, salah satu dari mereka menjawab bahwa pria itu sudah pergi sejak pukul tujuh malam.


“Kiran, kamu harus tidur. Ingat ada bayi yang harus kamu jaga,” ucap Diah yang menemani Kirana di kamar.


“Mama tidur saja dulu. Nanti aku nyusul kalau sudah ngantuk,” jawab Kirana, masih tak bisa tenang sebelum mendapat kabar dari suaminya.


“Kendrick pasti baik-baik saja.”


“Ya aku berharap juga begitu, Ma. Tapi perasaanku benar-benar nggak tenang. Seperti ada sesuatu hal besar yang akan terjadi.” Kirana mengungkapkan sesuatu yang dirasakan.


“Itu mungkin hanya prasangka. Mama yakin Kendrick akan baik-baik saja,” ucap Diah terus menenangkan. Walupun dirinya sendiri tidak yakin dengan apa yang terjadi. Biasanya perasaan seorang istri itu kuat.


“Aku mungkin bisa yakin dengan Kendrick, tapi aku nggak percaya dengan keadaan yang terus menekannya, Ma.”


Diah menghela napas. Ketakutan Kirana bukan hanya tentang kondisi Kendrick. Namun, tentang keadaan mereka yang sedang dalam masalah dengan pria berkuasa seperti Rajendra.


“Sudah mama tidur saja dulu. Aku juga mau tidur,” ucap Kirana merebahkan diri dan memunggungi mertuanya.


Detik jarum jam terus berputar, waktu terus merangkak dengan cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Lelah menunggu akhirnya rasa kantuk tak lagi dapat ditahan.


Saat bangun, dia sudah melihat kehadiran sang suami yang tidur di sampingnya.


Kirana tersenyum dan memeluk pria itu. “Akhirnya kamu pulang juga,” ucapnya pelan, meringsek masuk ke dalam dekapan sang suami.


“Istriku manja sekali,” ujar Kendrick dengan suara serak, tangannya mengusap punggung istrinya.


“Sudah bangun ternyata.” Kirana terkekeh pelan. “Pulang jam berapa?” tanyanya memastikan.


“Jam tujuh.”


“Darimana?”


“Ada urusan.”


Kirana semakin curiga melihat jawaban sang suami yang terlalu singkat seolah tidak ingin membahasnya.


“Kok nggak berkabar. Aku sampai telpon ke Indra.”


“Maaf,” bisik Kendrick mengecup puncak kepalanya berkali-kali. Namun, sebenarnya maaf itu ditunjukkan dengan maksud lain.


“Perasaanku nggak enak,” ucap Kirana.


“Hanya perasaan. Nggak perlu cemas. Semuanya baik-baik saja.”


Kirana menggeleng pelan dan berkata, “Kamu bohong!” Instingnya sebagai seorang istri bekerja saat melihat suaminya berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu.


“Enggak, Sayang. Bohong apa sih,” kilah Kendrick dengan senyum tipis.


“Katakan saja jika memang ada masalah. Jangan menyimpannya sendirian.”


“Iya, Sayang.”


Kirana tak lagi memaksa penjelasan. Dia menoleh ke arah jam dinding dan melihat bahwa ini sudah cukup siang untuk dirinya bangun.


“Mau ke mana?” Kendrick menunduk saat sang istri berusaha pergi.


“Mau mandi. Sudah siang ini.”


Kendrick membuka mata dan menatap istrinya menggoda. “Mandi bareng ya.”


Saat Kirana menapaki lantai dan bangun, dia mengeluh saat dirasakan kakinya ngilu. Dia duduk kembali dan menunduk lupa bahwa semalam kakinya terluka.


“Ada apa?” tanya Kendrick langsung bangun dengan spontan.


“Enggak. Aku lupa kalau kakiku luka,” jawab Kirana menunjukkan kakinya yang dibalut kain kasa.


“Lho kenapa? Kok bisa sih!” Kendrick berjongkok dan melihat kaki sang istri. “Dapat darimana luka ini?”


“Enggak apa. Ini gak sengaja senggol gelas dan kena pecahannya.”


Kendrick menghela napas kasar. “Aku gendong ya. Habis itu ke dokter,” ucapnya khawatir.


“Nanti habis mandi dibuka sama diobati lagi saja. Ini hanya luka kecil, nggak butuh dokter.”


“Bisa infeksi nanti, Kiran.”


Namun, Kirana tetap pada pendiriannya. Dia tidak mau ke rumah sakit hanya karena luka yang tidak seberapa ini. Bisa-bisa dia ditertawakan kerena kekhawatiran suaminya yang berlebihan.


Kendrick membawa sang istri ke kamar mandi dan memandikannya dengan tenang tanpa adegan plus-plus seperti bayangan kalian.


“Kamu nggak kerja, Ken?”


“Enggak, malas.”


“Mama sama papa mana? Kok sepi.”


“Mereka nggak ada. Lagi keluar.”


“Ke mana?”


“Ya nggak tahu, Kiran. Sudah jangan banyak ngomong, habiskan makananmu.”


Keduanya menyantap makanan dengan tenang dan duduk di dekat kolam renang setelahnya.


Diam-diam Kirana memperhatikan wajah sang suami yang tampak berbeda. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.


Namun, apa kira-kira?


...✿✿✿...


Brak!


Rumah Ajeng didatangi oleh orang-orang suruhan Andrean. Pria itu mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa Zidan yang seharusnya menjalankan rencana menghancurkan hubungan Kendrick justru berbalik memberitahukan segalanya.


“Ada apa ini?” tanya Ajeng histeris saat kedatangan tamu tak diundang.


“Mana Zidan?”


“Ada perlu apa ya?” Ajeng pikir itu orang-orang penagih hutang.


“Mana anakmu!” teriak salah satu pria dengan kasar mendorong Ajeng.


“Zidan nggak ada.”


Namun, mereka tidak peduli dan masuk ke dalam rumah untuk memeriksa. Benar adanya bahwa Zidan memang tidak ada. Sejak kemarin dia belum pulang dan tidak mengatakan akan pergi ke mana.


Luna yang ada di kamarnya nampak histeris saat diseret paksa. Dia dipaksa mengatakan ke mana suaminya pergi.


“Aku nggak tahu dia pergi ke mana. Sebenarnya kalian ini siapa?!”


“Suamimu itu telah mengingkari perjanjian. Dia harus terima akibatnya!”


“Perjanjian apa?” Ajeng bingung. Berpikir bahwa Zidan benar-benar memiliki hutang pada rentenir kejam.


“Anakmu bebas dari penjara karena tuanku. Tapi anakmu malah mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan.”


Ajeng dan Luna akhirnya paham apa dan siapa yang dimaksud. Jadi, selama ini Zidan membohongi keduanya dengan mengatakan telah melakukan sesuatu pada Kirana.


Setelah kepergian pria-pria sangar tersebut, Ajeng menatap menantunya dengan tatapan bertanya. Namun, Luna juga menggeleng tidak tahu.


Ternyata Zidan telah menipu mereka.


“Apa yang kau lakukan Zidan! Kau membuat kami dalam masalah,” teriak Ajeng frustrasi.


“Bu kalau Mas Zidan ninggalin kita gimana?” tanya Luna cemas.


“Ya kamu pergi juga dari sini. Siapa yang mau nampung wanita nggak berguna kayak kamu. Menyusahkan saja!”


“Kok ibu ngomong kayak gitu. Aku ini menantu lho,” teriak Luna tidak terima.


“Iya, menantu nggak guna. Sejak kehadiranmu dalam keluarga ini, yang ada hanya kesialan yang menghampiri. Dasar wanita pembawa bencana!”


“Bu!”


Luna tidak terima dihina seperti itu. Kehadirannya juga bukan sepenuhnya kesalahan yang diperbuat. Ajeng dan Zidan yang membawanya, menarik dirinya dalam kehidupan rumah tangga yang rumit. Sekarang giliran ada masalah semua kesalahan dilimpahkan padanya.


Sementara di sisi lain, Zidan pergi menghilang setelah mengirimkan surat pada mantan istrinya.


Pria itu menghilang dari keluarganya dan memilih menjauhi masalah untuk saat ini. Dia tahu cepat atau lambat, orang yang menyuruhnya akan tahu bahwa dia tidak melakukan perintah.


Inilah akhir dari kehancuran seorang Ajeng Pranadipa.


Ditinggalkan anak-anaknya karena ambisinya.


Membuat kehidupan anak-anaknya hancur tanpa rasa penyesalan sedikit pun.


Sebenarnya Ajeng itu ibu macam apa? Hewan saja tidak akan mengigit anaknya sendiri. Namun, Ajeng justru selalu mendorong anak-anaknya menuju jurang dalam.


To Be Continue ....