Affair With CEO

Affair With CEO
Nekad



KIRAN AKAN BERTINDAK GILA! TOLONG SEGERA SUSUL AKU DI KEDIAMAN RAJENDRA.


Begitulah pesan yang dikirim Alfred kepada sahabatnya.


Kirana menyeret Alfred mengikuti langkahnya untuk menunjukkan rumah mertuanya.


Bisa-bisanya mereka berniat mengadakan upacara kematian bahkan saat raganya saja belum ditemukan. Benar-benar keterlaluan.


Sesampainya di mobil Kirana segera mengobrak-abrik dasboard dan menemukan sebuah pistol lengkap dengan pelurunya.


“Hei Kiran, kamu jangan sembarangan. Itu pistol beneran lho. Bukan mainan,” kata Alfred was-was.


“Aku tahu ini asli. Tenang saja aku bisa memakainya dengan benar,” jawab Kirana dingin.


Alfred menghela napas kasar, emosi wanita itu memang tidak stabil akhir-akhir ini. Kondisi anak yang sedang sakit dan suami yang belum ditemukan membuat setan dalam dirinya bernafsu ingin membunuh orang saja.


“Ayo!”


Mobil Alfred segera melaju menembus jalanan kota Jakarta yang lumayan padat. Sesekali terdengar helaan napas kasar dari keduanya.


Alfred menoleh saat mendapati ponselnya berkedip dan muncul nama Sean di sana sebagai identitas pemanggil.


Tak sampai satu jam mobil yang dikendarai Alfred sampai di mansion besar milik mertuanya. Dengan cepat Kirana segera turun dan membanting pintu mobil dengan keras membuat Alfred berjingkat kaget karena ibu tiga anak itu benar-benar tengah dikuasai amarah.


“Selamat datang menantu,” sambut Sisil yang tengah duduk di ruang tamu. “Kau datang juga akhirnya, masuklah.” Wajahnya tampak sedih, tetapi senyum di bibirnya membuat Kirana ingin sekali menutup bibir itu untuk selamanya.


Dasar rubah betina. Tingkahmu benar-benar menjijikan.


Kirana yang tadinya dikuasai amarah kini perlahan mengendur, menghadapi seseorang yang licik dibutuhkan otak yang cerdik. Kirana selalu ingat pesan dari suaminya itu.


“Terima kasih, Nyonya Rajendra,” balas Kirana dengan senyum manis. Dia melangkahkan kaki masuk dengan begitu anggun dan tak gentar sama sekali.


Mata tajamnya mengedar mengamati sekitar, tatapannya jatuh pada sebuah potret suaminya dengan kalung rangkaian bunga yang masih segar. Bibirnya tertarik membentuk senyum sinis.


“Sabar ya, Kendrick pasti akan tenang di sana. Kami berniat melakukan doa untuk melepas ruh dan jiwanya kembali pada Tuhan. Segala hal yang terjadi di dunia sudah terputus ketika dia tiada. Jadi ikhlaskan suamimu untuk membuat jalannya semakin terang.”


“Sebegitu inginkah Anda berharap suamiku mati hingga melakukan ini?” tanya Kirana lirih, tetapi tajam.


Sisil menatap Kirana dengan seulas senyum penuh arti.


“Jika memang dia mati, aku akan menunggu jasadnya. Kenapa justru Anda ingin sekali membuat seolah-olah Kendrick hilang dari dunia ini?”


Sisil menyeringai. “Karena memang dia sudah mati.”


“Bicara tanpa bukti sama dengan omong kosong,” jawab Kirana seolah menantang.


“Untuk apa kau datang ke mari?” tanya Rajendra datar dan dingin.


“Untuk mengubur Anda hidup-hidup, mungkin,” jawab Kirana sambil tersenyum menyebalkan.


“Kurang ajar! Beraninya kau bicara seperti itu,” teriak Sisil marah. Namun, Kirana tetap tenang dan tidak terpengaruh sedikit pun.


“Tenang, Nyonya. Saya tidak akan mungkin melakukan itu, suamiku pasti tidak akan senang mendengarnya.”


Rajendra menatap Kirana dengan datar. “Pergi dari sini, jangan mempermalukan dirimu di sini.”


Kirana terkekeh. “Apa membela suami menurut Anda mempermalukan diri? Oh ayolah Tuan Rajendra yang terhormat, saya datang hanya ingin bertanya sedikit pada Anda. Bagaimana bisa Anda melakukan ini pada anak kandung sendiri? Tidakkah Anda memiliki hati untuk mencari keberadaan anak Anda. Alih-alih melakukannya justru Anda ingin menyatakan pada dunia bahwa Kendrick benar-benar telah tiada. Orang tua macam apa kalian?!” Sambil menggeleng sinis membuat kedua orang tua itu terdiam.


“PENGAWAL!” teriak Rajendra lantang membuat beberapa pengawal berlari mendekat. Alfred bahkan sudah bersiaga di depan Kirana untuk menghalau hal-hal yang mungkin terjadi. “Usir mereka keluar dari sini,” perintahnya.


Kirana langsung mengeluarkan pistol yang disimpan dibalik saku blazer yang dipakai. Dia mengacungkannya ke arah Sisil dengan wajah mengerikan.


“Maju selangkah aku tidak akan segan memuntahkan isi pistol ini,” kata Kirana dengan wajah yang tak ramah seperti sebelumnya.


“Brengsek, apa yang kau lakukan, jangan bermain-main.” Sisil menatap dengan mata melotot terkejut.


“Menyentuhku sedikit saja maka aku akan mengirim dirimu menemui suamiku, Nyonya Rajendra.”


“Mundur!” titah Sisil menatap para pengawal.


Kini Kirana mulai bangkit dan mendekat ke arah potret suaminya. Dia menjatuhkan bingkai itu dan mengambil rangkaian bunga itu, lalu kembali membawanya ke hadapan Sisil. Dengan berani dia mengalungkannya ke arah wanita tua itu.


“Itu lebih pantas untukmu, Nyonya Rajendra.” Kirana mundur dan tersenyum tipis. Dia kembali mengantongi pistol itu dan menatap kedua mertuanya dengan senyum tipis.


“Percayalah, saya bisa bertindak lebih gila lagi jika Kendrick benar-benar tiada.”


Kirana berbalik dan mengajak Alfred segera pergi. Tanpa siapa pun sadari Rajendra yang sedari tadi menampakkan wajah datar dan dingin, diam-diam menarik seulas senyum tipis di bibirnya.


“Kau gila, Kiran! Hampir saja kau membuat jantungku hampir lepas,” omel Alfred dengan wajah tertekan.


“Aku mungkin akan benar-benar gila jika Kendrick nggak kembali.”


Alfred mendengus pelan dan segera melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit.


Sesekali pria berparas tampan itu menoleh ke arah wanita yang hanya diam di sampingnya.


Kalian memang pasangan serasi. Suami istri bisanya menyusahkan saja. Please, Ken segeralah kembali.


To Be Continue ....