
“Kirana!”
Kendrick langsung berbalik dan menghampiri Kirana yang duduk di atas kursi roda. Pria itu memeluknya erat.
“Hei, jangan terlalu erat memelukku. Aku kesulitan bernapas, Ken.”
Menyadari apa yang dilakukan, Kendrick segera melepaskan pelukannya. Matanya berkaca-kaca, tetapi pria itu selalu bisa menyembunyikan perasaannya.
“Kamu baik-baik saja?”
“Hanya sedikit luka-luka aja, nggak ada yang serius.”
Kendrick menunduk dan melihat kaki Kirana yang telah dibalut dengan kain elastis berwarna cokelat.
“Ini kakinya?”
“Ada sedikit luka, tapi ini nggak apa-apa. Cuma terkilir dan harus istirahat total selama beberapa hari.”
“Aku khawatir.”
“Bukan cuma khawatir, bahkan beliau tidak terima jika Anda meninggalkannya. Katanya, ‘Dia tak boleh pergi begitu saja. Beraninya dia mati dan ninggalin aku dengan perasaan ini sendirian. Tanpa izinku dia tak akan bisa mati lebih dulu sebelum merasakan pedihnya perasaan yang bertepuk sebelah tangan’. Saya yang mendengarnya begitu terkesan,” sahut Indra tiba-tiba. Membuat Kendrick melotot tajam sementara Kirana merona malu.
“Sialan! Tutup mulutmu!”
Tangan Kirana terulur menyentuh rahang Kendrick. Bibirnya mengulas senyum tipis. “Aku nggak tahu bahwa kamu memiliki perasaan sedalam itu.”
“Karena kamu hanya tenggelam pada keadaan tanpa mau melihat sekitar.”
Kendrick meminta Indra menyelesaikan administrasi dan mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan kecelakaan tersebut.
Jalanan ibukota cukup padat siang itu. Kirana menolak untuk dibawa pulang ke rumah, wanita itu meminta untuk tetap datang ke kantor dan mengerjakan pekerjaan dengan alibi yang sakit kakinya, bukan tangan atau otaknya. Namun bukannya menurut, Kendrick justru membawa wanita itu ke sebuah apartemen mewah di tengah kota yang tak jauh dari gedung perusahaan.
Sesampainya di basemen, pria itu segera turun dan mengeluarkan kursi roda, kemudian membantu Kirana duduk di sana.
“Lebih baik kamu istirahat di sini aja dulu.”
“Tapi aku beneran nggak apa-apa, Ken. Nanti kalau ditinggal pekerjaan bakalan tambah numpuk.”
“Daripada sibuk mikirin itu lebih baik pikirkan kondisimu. Kamu tak akan bisa bekerja dengan kaki seperti ini.”
“Bisa, Ken. Toh aku cuma duduk dan jika perlu sesuatu nanti bakal minta tolong sama Sumini atau Indra.”
“Jangan keras kepala, Kirana!” seru Kendrick yang mulai jengah dengan bantahan wanita itu.
Kendrick mengangkat tubuh Kirana dan menurunkannya di sofa panjang. Dia memesan makan siang dan meminta Indra membawakan berkas kantor yang menumpuk di meja.
“Makan dan minum obat, setelah itu tidurlah.” Keduanya melahap makan siang dalam diam. Setelah semuanya beres, pria itu meletakkan semua piring kotor di meja dapur begitu saja.
Kendrick sudah menawarkan wanita itu untuk tidur di kamar, tetapi ditolak dan lebih memilih tetap di ruang TV.
“Kamu mau ke mana?”
“Ruang kerja.”
Kirana menggeleng pelan. “Ikut,” ucapnya.
“Aku nggak mau di sini sendirian.” Kirana memanyunkan bibir, sedikit manja tetapi terlihat menggemaskan.
Seharusnya Kendrick marah, tetapi pria itu justru terkekeh pelan. Melihat sikap Kirana yang manja justru membuatnya terasa lebih berharga dan dianggap penting.
“Aku bawa kerjaannya ke sini saja, ya. Kamu tunggu dulu.” Secepat kilat Kendrick segera menuju ruang kerja dan mengambil setumpuk dokumen yang diperlukan.
Tak lama Kendrick kembali dengan penampilan berbeda. Jasnya sudah dibuang entah kemana, kemeja yang dipakai berantakan dengan ujung yang ditarik sampai sebatas siku.
Berantakan tetapi terlihat lebih mempesona. Ketampanan pria itu semakin bertambah berkali-kali lipat.
“Tutup mulutmu, Kirana.” Ucapan Kendrick membuat wanita itu menunduk malu.
“Aku ngantuk, boleh tidur nggak?” Kirana menguap beberapa kali, mungkin efek dari obat yang diminum.
“Tidurlah. Aku akan menemani di sini.” Kendrick mendekat dan memberikan kecupan di kening, mengusap pipi wanita itu pelan dengan seulas senyum hangat yang terbit di bibirnya.
...✿✿✿...
Sore harinya Kendrick membawa Kirana pulang bersama. Indra yang berada dibalik kemudi hanya melirik singkat ketika tangan pria itu tak melepaskan tangan wanitanya.
Kendrick berdeham pelan sebelum berucap, “Di mana mobil Kirana sekarang?”
“Mobilnya ada di bengkel, Tuan.”
“Lalu?”
“Rumah kosong yang ditabrak sudah diberikan kompensasi dan pihak kepolisian juga sudah dikonfirmasi oleh dokter bahwa murni itu kecelakaan tunggal karena ngantuk, bukan karena mabuk atau obat terlarang.”
“Lagipula mana ada pagi-pagi mabuk. Yang ada ngantuk, iya,” gerutu Kirana pelan.
“Sudahlah, semuanya sudah dibereskan Indra.”
“Makasih. Oh ya, biaya ganti rugi untuk rumah dan biaya rumah sakit, nanti aku ganti.”
“Receh, aku tak butuh uangmu,” sahut Kendrick datar membuat Kirana memutar bola mata jengah.
Selalu saja.
“Daripada kamu sibuk memikirkan ganti rugi, lebih baik pikirkan kondisimu dulu. Kau akan istirahat di rumah selama beberapa hari dan itu akan membuatku merindukanmu.” Pipi Kirana langsung bersemu merah.
“Modus sekali.” Indra yang ada di bangku depan ikut terkekeh pelan.
“Diam kau!” sentak Kendrick keras hingga membuat pria itu langsung bungkam.
Kendrick menarik Kirana ke dalam pelukan. Menyandarkan kepala wanita itu di dada bidangnya dan mengusap rambutnya dengan lembut.
“Maaf ... maafkan semua ucapanku yang telah menyakitimu, Ken. Aku tak bermaksud seperti itu,” lirih Kirana.
“Aku hanya ingin kamu memberikan kepastian.”
“Aku ....”
To Be Continue ....