
“Jangan berteriak, Yemi. Apa kau lupa dengan apa yang semalam kita lakukan? Kita bercinta dengan begitu bersemangat. Kau bahkan mengerang dan berteriak beberapa kali karena kenikmatan,” ujar pria itu dengan senyum lebar, mengingatkan kegiatan apa yang telah mereka lakukan semalam.
Pria itu berjalan mendekati ranjang dan mengulurkan sebutir obat. “Minumlah, itu akan sedikit mengurangi sakit kepalamu.”
Namun, bukannya menerima Yemima menampik tangan itu dengan kasar dan memaki, “Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kau melakukannya dengan sengaja, kan?”
Pria itu menggeleng pelan. “Aku tidak tahu itu dirimu. Semalam kita sama-sama mabuk dan lupa daratan.” Tidak ada penyesalan dari nada suaranya. Untuk apa menyesal, lagipula kegiatan semalam sangat mengasyikkan. Pria itu bahkan ingin mengulangnya lagi saat tatapannya jatuh pada tubuh Yemima yang hanya dibalut selimut.
“Dasar brengsek! Aku membencimu, Andrean!” teriak Yemima marah.
Ternyata pria yang telah melewati malam panas bersamanya adalah Andrean. Pria itu juga tidak tahu bahwa wanita yang ditiduri adalah Yemima. Mereka berdua sama-sama dalam keadaan yang setengah sadar jadi tidak menyadari satu sama lain.
Jika Yemima merasa muak, maka berbeda dengan Andrean yang tampak bahagia. Akhirnya dia bisa menikmati tubuh wanita yang telah dipuja.
“Aku menyukaimu, Yemi,” kata Andrean tiba-tiba.
“Persetan dengan dirimu!” Yemima langsung turun dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi. Setelah membersihkan diri dia pergi begitu saja tanpa peduli dengan Andrean yang terus mengajaknya berkomunikasi.
Setelah pikiran waras Yemima kembali, wanita itu kembali ke apartemen dan segera mengemasi barang-barangnya. Dia akan kembali ke Jerman seperti permintaan Kendrick. Tidak ada gunanya lagi dia berada di tempat di mana tidak ada yang menginginkannya.
Andaipun Kendrick berpisah dengan istrinya, belum tentu pria itu akan berpindah ke pelukannya. Yemima merasa apa yang dilakukan hanya berakhir sia-sia itulah sebabnya dia memilih menyerah.
Antara sadar diri dan tahu diri. Sekuat apa usahanya untuk mendapatkan Kendrick, pria itu tidak pernah memberikan kesempatan lebih padanya.
...✿✿✿...
“Bagaimana pekerjaan Andrean? Dia baik dan begitu patuh, kan. Aku yakin dia akan bekerja dengan baik dan membuatmu kagum.”
Sisil sebenarnya sudah tidak ingin melakukan interaksi apa pun dengan Rajendra. Namun, dia tidak bisa terlihat melawan secara terang-terangan.
Masih jelas di ingatan ketika pria tua itu menghukumnya tanpa perasaan. Mengurungnya di ruangan pengap dan kotor selama berhari-hari. Sisil bergidik ngeri membayangkan hal itu.
“Jangan menggangguku,” ujar Rajendra dingin.
Dalam hati sisil mengumpat. Siapa juga yang ingin mengganggu. Lagipula dia juga tidak ingin mati membeku karena sikap dingin Rajendra yang terlampau tak mampu disentuh.
“Aku hanya rindu ngobrol denganmu. Sejak kau kembali ke perusahaan, kau terlalu sibuk dan tidak memberikan waktu istirahat yang cukup untuk tubuhmu. Jangan memaksakan diri dan membahayakan kesehatanmu.”
Rajendra tidak bereaksi apa pun. Dia hanya menatap Sisil dengan mata memicing seolah tahu tujuan wanita itu menemuinya bukan hanya karena perhatian dengan kesehatannya. Jelas ada hal yang lain yang ingin disampaikan.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Rajendra bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri Sisil yang duduk di sofa. Tangannya mencengkeram bahu wanita itu erat dan melanjutkan ucapannya, “Hentikan apa pun semua rencana di kepalamu sebelum kau menanggung akibatnya.” Peringatan dari Rajendra seolah menegaskan bahwa pria itu telah mengetahui sesuatu.
“Kau terlalu bicara omong kosong,” jawab Sisil sambil tersenyum anggun. Dia melepaskan tangan Rajendra dan mencium punggung tangan pria itu. “Duduklah, aku akan membuatkan teh untukmu.”
Sisil segera pergi ke dapur dan membuatkan dua teh dan tak lupa membawa beberapa kue kering sebagai pelengkap.
Setelahnya dia kembali ke ruang kerja dan menyajikannya. Dia menemani suaminya minum teh sambil tersenyum penuh arti saat melihat Rajendra meneguk habis teh di dalam gelasnya.
Tiga puluh menit kemudian Sisil segera membereskan meja dan membawa cangkir kotor itu ke dapur, dengan tangannya sendiri dia mencucinya, membuat pelayan di sana tampak bingung dengan sikapnya yang aneh.
Rajendra menghela napas pelan dan memanggil Roy masuk ke ruangannya. Pria itu berdiri dengan tegap dan siap mendapat perintah.
“Anda perlu saya mencari tahu hal lainnya?” tanya Roy hati-hati.
Rajendra menggeleng malas. Mencari tahu apalagi, tidak ada lagi yang ingin diketahui tentang Sisil. Biarkan dia sibuk dengan dunianya sendiri, toh pernikahan mereka dari awal memang hanya sekadar kepentingan bisnis. Bukan tentang cinta.
...✿✿✿...
Siang harinya Kirana terkejut ketika ada pelayan yang mengatakan ada sebuah kiriman untuknya. Saat dia ada di depan pintu, penjaga gerbang meminta izin untuk membiarkan mobil box itu masuk. Penjaga sudah melihat isi di dalamnya, bukan sesuatu yang berbahaya. Di dalam sana hanya berisi perlengkapan anak-anak.
Kirana lalu bertanya siapa yang mengirimkannya, karena dia yakin itu bukan dari sang suami. Sebab, kamar putra mereka sudah didesain lengkap dengan banyak mainan dan perlengkapan lainnya.
Saat Kirana bertanya pada dua pria yang turun dari mobil, keduanya mantap menggeleng dan berkata tidak tahu apa pun. Mereka hanya diminta sang bos untuk mengantar, dan penerima harus menyetujuinya atau jika tidak mereka akan dipecat.
“Mana bisa begitu, aku nggak tahu ini dari siapa. Mana mungkin aku menerimanya begitu saja,” kata Kirana menolak.
“Tolong terima saja, Nyonya. Jika Anda tidak menerimanya kami bisa dipecat,” ujar pria itu memohon. “Kami tidak mau kehilangan pekerjaan ini, Nyonya,” sambung pria yang satunya lagi.
Kirana tidak mau mengambil keputusan sendirian, dia meminta pelayan memanggil Diah di kamar.
Tak lama Diah datang lalu bertanya, “Siapa yang mengirim ini?”
Kedua pria itu menggeleng dan menjelaskan bahwa mereka hanya diminta mengirim dan memastikan bahwa penerima mau menerimanya. Jika tidak mereka akan dipecat karena dianggap tak bisa melakukan pekerjaan dengan benar.
“Tolong kami, Nyonya.” Kedua pria itu menatap Kirana dan Diah penuh harap.
“Ya sudah, turunkan saja di sini. Biar nanti pelayan yang memasukkannya ke rumah.” Diah memberikan keputusan.
Mobil box itu terbuka, lalu semua mainan dan beberapa bingkisan besar diturunkan. Ada motor, mobil dan beberapa boneka berbentuk hewan yang sangat besar. Lalu satu keranjang penuh yang berisi pakaian bayi.
Kirana menatap itu semua dengan bingung. Sebenarnya siapa yang mengirim hadiah itu?
Setelah semua barang diturunkan, mobil itu pergi. Lalu Diah meminta pelayan untuk memeriksa seluruh barang-barang yang saat ini memenuhi halaman depan rumah.
“Siapa yang kirim semua itu, Ma? Aku kok jadi takut,” ujar Kirana kembali masuk ke dalam rumah bersama dengan Diah.
“Nanti kalau Kendrick pulang tanyakan saja. Barangkali itu hadiah dari sahabatnya atau mungkin kenalan bisnisnya.”
Sore yang ditunggu tiba, Kendrick pulang dan heran melihat banyaknya barang yang berserakan di ruang tamu.
Kirana lalu menjelaskan situasi yang terjadi. Dia sudah menolaknya, tetapi Diah setuju karena tidak tega jika dua pria pekerja tadi harus dipecat karena menolak kirimannya.
“Apa itu dari sahabat atau kenalan?” tanya Kirana.
Kendrick mengangkat bahunya. “Entahlah ... nggak ada yang ngomong sih.” Jika itu adalah salah satu sahabat atau kenalannya mereka pasti akan menyebutkan identitas. Tidak mungkin mereka akan bermain petak umpet seperti saat ini. “Sudahlah nggak usah dipikirkan.”
Kendrick segera melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Di bawah guyuran air dingin dia menerka siapa pengirim hadiah itu.
“Tidak mungkin, kan?”
To Be Continue ....