
Kendrick terbangun saat matahari mulai menyingsing, dia pergi ke arah balkon dan berdiri di sana. Menikmati semilir angin sejuk yang menyapa tubuh, aroma tanah basah dan wangi bunga tercium semerbak.
Dirinya masih dipenuhi rasa tidak percaya atas sikap Sisil yang ternyata hanya berpura-pura baik, padahal wanita tua itu yang menjadi penyebab masalah dalam rumah tangganya.
Awalnya dia masih enggan untuk percaya pada semua ini. Namun, bukan hanya sekali saja fakta itu menghantamnya. Memperlihatkan siapa sosok asli ibu tirinya.
Semalam sebelum tidur, Kendrick dan Kirana bicara banyak hal. Awalnya Kirana ragu memberitahukan kebenaran itu padanya, tetapi dia meyakinkan bahwa apa pun yang dikatakan dia akan selalu percaya pada istrinya.
Lalu Kirana menceritakan segalanya dari awal, bahwa dia meminta jasa kenalannya yang menjadi detektif untuk menyelediki tuduhan yang menimpanya. Lalu setelah selesai bercerita Kirana memberikan bukti-bukti yang telah lebih dulu dibaca.
Dia tidak menyangka. Benar-benar tidak menyangka bahwa Ghea Sisilia Rusady begitu picik dan hina.
Selama ini dia selalu menduga sang ayah yang telah melakukan perbuatan jahat itu untuk memisahkan mereka. Namun, kenyataan justru berbanding terbalik.
Bayangan sosok Kendrick yang berdiri di balkon kamar membuat Kirana yang berada di taman menoleh. Wajah pria itu tampak tenang dan tatapannya menerawang ke depan tampak kosong.
Kirana tersenyum miris, dia yakin suaminya tengah memikirkan obrolan semalam. Setelah mencuci tangan, dirinya bergegas kembali ke dalam rumah dan menyelinap ke kamar. Berjalan perlahan menghampiri suaminya yang masih termenung, semakin mendekat tanpa suara dan langsung menubruk tubuh kekar pria itu dengan pelukan.
“Good morning,” sapa Kirana sambil melemparkan senyum manis.
Kendrick segera menoleh dan mendapati istrinya yang sudah cantik seperti biasa. Dia tersenyum dan mengecup keningnya, lalu berkata, “Istriku selalu terlihat cantik setiap harinya. Ah, beruntungnya aku ....”
Kirana terkekeh pelan. “Masih terlalu pagi untuk melemparkan rayuan, Ken.”
“Di mana baby Ricky?” tanya Kendrick yang tak melihat keberadaan jagoan kecilnya.
“Ada di halaman depan sama mama dan papa. Biasalah, sedang berjemur.”
Setelah mandi dan wangi dengan aroma bedak dan kayu putih, bayi mungil itu selalu berjemur. Biasanya jika tidak dengan Kirana, maka Diah atau Wina yang akan selalu menemani.
Apalagi ini hari minggu, bayi menggemaskan itu pasti akan menjadi rebutan. Ada kakek dan neneknya juga kedua kakaknya yang tidak sabar mengajaknya bermain.
Bayi itu mulai terlihat berisi, kedua pipinya tampak mengembang karena berat badannya mulai naik secara perlahan. Setiap minggu akan ada dokter anak yang datang ke rumah untuk mengontrol kondisi kesehatan anak-anaknya.
“Akan kusiapkan air panas. Berendam lah sebentar agar tubuhmu rileks,” kata Kirana yang segera melakukan tugasnya.
Setelah menyiapkan air panas, dia juga menyiapkan pakaian santai untuk suaminya.
“Bagaimana jika kamu menemaniku mandi?” goda Kendrick mencolek pinggang istrinya pelan.
Kirana menggeleng pelan. “Enggak! Bisa bahaya kalau juniornya minta lebih,” jawabnya sambil melihat bagian bawah tubuh suaminya yang tampak menonjol. “Junior belum boleh masuk ke kandangnya,” desis Kirana pelan, mengusap benda panjang yang ada dibalik celana.
“Belum boleh tapi kamu malah menggodanya!” cibir Kendrick dengan suara serak yang menggoda.
“Aku hanya mengingatkan, Suamiku.”
Kendrick memejamkan mata saat tangan Kirana justru menyelinap masuk ke dalam celananya dan mengusap dua benda yang mengapit juniornya.
Tangannya menggenggam benda panjang dan memainkannya hingga menegang sempurna. Suara ******* lolos dari bibir Kendrick saat tangan itu semakin menaikkan tempo gerakannya.
Kendrick membuka mata dan segera mengangkat sang istri, membawanya ke kamar mandi untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.
(Skip ya, bayangin aja sendiri bagaimana Mbak Kiran memuaskan Mas Kendrick dengan cara yang aduhai :D)
Setelah menuntaskan kegiatan menyenangkan keduanya berendam di dalam bathtub, tangan nakal Kendrick tak henti-hentinya menyentuh dua gundukan kembar milik sang istri yang kini sudah dikuasai oleh baby Ricky.
Setiap malam Kendrick hanya bisa menatap putranya menyesap dua benda yang menjadi favoritnya. Kini gilirannya untuk merasakan dan menikmatinya.
Kirana terkekeh pelan saat mendengar setiap protes dari suaminya yang cemburu dengan anaknya sendiri.
“Seharusnya Ricky diberikan susu formula saja, dia kan masih kecil belum boleh minum susu dari sumbernya.”
“Karena dia masih bayi itu sebabnya harus diberikan ASI eksklusif. Kamu yang sudah dewasa harusnya mengalah dong sama anak.”
“Mana bisa begitu. Kamu kan istriku.”
Kirana tak menanggapi suaminya yang menggerutu. Dia segera berkata, “Sudahlah, ayo bilas tubuhnya dan kita keluar. Waktunya sarapan.”
“Mama dan papa pasti tahu.” Kendrick tak melepaskan tubuhnya. Pria itu semakin memeluknya dengan erat.
“Rina dan Lina kasihan kalau harus nunggu kita. Mereka berdua nggak ngerti seperti mama dan papa.”
Kirana menggeleng pelan. Bisa-bisanya suaminya berpikir seperti itu, rahimnya saja belum benar-benar pulih setelah mengeluarkan bayi, malah minta bayi lagi.
“Bagaimana jika kita berkencan? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua,” kata Kirana mencoba bernegoisasi.
“Ide bagus!” Kendrick setuju. Dia melepaskan istrinya, membiarkan wanita itu membilas tubuhnya lebih dulu. Tatapan matanya mengamati setiap gerakan istrinya yang tampak seksi dan menggoda di matanya.
Kendrick tentu tidak akan melewatkan pemandangan indah di depannya.
...✿✿✿...
Satu jam kemudian Kendrick dan Kirana meninggalkan rumah. Mereka sudah menitipkan ketiga anaknya pada Diah dan Hanin. Kedua orang tua itu tampak senang karena Massayu juga baru saja memberikan kabar bahwa dia akan datang untuk melihat keponakannya.
Awalnya Kirana ingin membatalkan rencana, dia tak mungkin pergi sementara akan ada tamu yang datang ke rumah. Namun, Diah meyakinkan bahwa mereka memang butuh waktu berdua. Toh nanti mereka masih bisa bertemu karena Massayu akan menginap.
Kirana sudah meminta Kendrick untuk berkencan ala-ala pasangan biasa yang tidak terlalu berlebihan. Dia mengambil semua kredit card dan debit card, lalu hanya menyisakan satu yang tak banyak isinya.
Mereka berdua pergi dengan pakaian kasual dengan warna senada. Kendrick memakai kaos hitam dan celana panjang, sementara Kirana menggenakan sheat dress berlengan panjang. Namun, tetap menonjolkan lekukan tubuhnya yang sempurna.
Sebelum pergi, Kendrick mengajak Kirana datang ke gereja. Sekitar tiga puluh menit setelah selesai, mereka langsung tancap gas pergi ke pusat perbelanjaan.
Kirana ingin menonton bioskop. Setelah membeli tiket mereka segera masuk karena film sudah dimulai lima menit yang lalu.
Duduk di bagian tengah, Kendrick harus mengernyit saat film yang dipilih istrinya ternyata sebuah film horor. Suara teriakan terkejut memenuhi telinganya saat suara dan sosok hantu muncul memenuhi layar.
Kendrick mencibir, “Sudah tahu takut masih saja pilih horor.”
Kirana menoleh dan mendapati sang suami menatapnya. Sejak tadi pria itu sama sekali tak menatap ke depan. Hanya sesekali melirik saat mendengar suara pekikan kaget dari penonton.
“Filmnya ada di depan, kenapa malah menatapku seperti itu,” kata Kirana, memasukkan pop corn ke mulut suaminya.
Pria itu menelan makanannya sebelum kembali menjawab, “Aku nggak terlalu suka nonton film. Aku lebih suka menatap wanita cantik di sebelahku. Sungguh ciptaan Tuhan yang indah.”
Kirana terkekeh pelan. Sejak pagi suaminya sudah mengeluarkan berbagai rayuan maut. Untung saja dirinya sudah terbiasa, jika tidak dia pasti akan pingsan saat mendapati gombalan receh dari suaminya.
Setelah menonton film, Kirana mengajak Kendrick untuk berbelanja pakaian untuk anak-anaknya. Pria itu selalu saja berlaku seenaknya, saat melihat deretan baju yang lucu dia langsung meminta pelayan untuk membungkus semuanya. Namun, Kirana menolak dan mengingatkan bahwa pria itu sedang tidak membawa banyak uang.
“Kenapa juga harus seperti ini,” ucap Kendrick kesal. “Seharusnya kau bisa membeli apa pun sesukamu tanpa lihat harga. Ayolah, aku bukan pria miskin yang akan mempermasalahkan itu.” Wajah Kendrick tampak muram, pria itu masih menganggap sang istri terus berhemat karena dia sudah tidak memiliki banyak uang seperti dulu. Padahal kenyataannya sama saja, uangnya masih banyak. Cukup lah untuk dirinya menjadi pengangguran selama beberapa tahun ke depan.
Kirana menggeleng. “Ini bukan soal mampu atau enggak. Aku paham kamu mampu membeli semuanya tapi, lihat dulu manfaat dan kegunaannya. Baju Rina dan Lina masih banyak, apalagi punya Ricky. Dia sudah punya satu lemari penuh, padahal itu nggak akan dipakai saat usianya semakin bertambah,” jelasnya panjang lebar.
Berbeda dengan Kirana yang membeli baju untuk anaknya secukupnya. Kendrick tidak demikian, pria itu selalu membeli paling tidak setengah lusin tiap modelnya. Pemborosan sekali.
Walaupun kini sudah menjadi istri pria kaya, tetap saja jiwa emak-emak pada diri Kirana akan meronta setiap kali mengeluarkan banyak uang.
Akhirnya Kendrick hanya bisa pasrah saat Kirana mengambil dua pasang pakaian untuk anak-anaknya.
Setelah berbelanja, mereka bergandengan tangan keluar dari pusat perbelanjaan. Seperti sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara.
Kirana meminta suaminya membelokkan kemudi ke cafe yang tidak jauh dari gedung hotelnya dulu. Cafe yang memiliki tempat estetik dengan live musik yang selalu ramai untuk dikunjungi pelanggan.
“Aku ke toilet sebentar,” kata Kendrick setelah mereka duduk. Saat ini mereka ada di lantai dua sehingga bisa melihat keramaian di lantai satu.
Tempat ini juga sudah dilengkapi dengan playground hingga cocok sebagai tempat bersantai bersama dengan keluarga.
Sambil menunggu sang suami, Kirana mengambil ponselnya. Barangkali ada panggilan dari rumah yang tidak diketahui.
“Permisi,” ucap seseorang membuat Kirana mendongak. Seorang pria tampan dengan tubuh tegap berdiri di sisi mejanya dengan senyum ramah. “Boleh saya duduk di sini? Anda terlihat sendirian,” katanya membuat Kirana mengernyit heran.
“Maaf ....” kata Kirana menolak. Dia menatap pria di depannya, mencoba mengingat dan seketika matanya membulat sempurna. “Anda!”
“Kita pernah bertemu sebelumnya. Dua kali,” jawab pria itu lagi. “Boleh saya duduk di sini?” ulangnya bertanya.
“Tidak!”
Tiba-tiba suara bernada dingin menyapa indera pendengaran keduanya. Kirana menoleh dan tersenyum melihat kedatangan suaminya. Sementara ekspresi pria yang sedari tadi mencoba akrab dengan Kirana tampak menggelap.
“Kau!”
To Be Continue ....