Affair With CEO

Affair With CEO
Kejahatan tidak akan bertahan



“Aku merindukanmu, Kiran.” Kendrick memeluk sang istri dari belakang. Menyembunyikan wajahnya di leher sang istri sembari merasakan aroma tubuh yang sangat dirindukan.


“Aku bahkan hampir gila karena memikirkan dirimu,” balas Kirana sambil mengusap rambut sang suami.


Kirana membalikkan tubuh dan memeluk suaminya dengan erat. Mencurahkan kerinduan yang hampir membunuhnya secara perlahan.


“Maaf karena membuatmu khawatir.”


“Aku percaya kamu akan menepati janji. Bahkan jika seluruh dunia melupakanmu, kamu akan selalu hidup dalam hati dan kenanganku.”


Kendrick tersenyum dan mengeratkan pelukan. Bibirnya mengecup puncak kepala istrinya berulang kali dengan penuh cinta.


“Jadi Tuan Rajendra sama sekali nggak terlibat dengan apa pun yang kita alami?” tanya Kirana serius.


“Justru dia yang memberitahu tentang rencana Sisil padaku. Dia membiarkan aku salah paham dan semakin membencinya,” kata Kendrick sedikit menyesal.


“Skandal yang mencuat juga karena ada Tuan Rajendra di belakangnya?”


Kendrick mengangguk pasti. Tidak menepis bahwa ada keterlibatan sang ayah untuk membuat wanita itu menanggung akibat dari segala perbuatannya.


“Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tolong jangan rahasiakan apa pun lagi denganku,” pinta Kirana dengan sungguh-sungguh. Dia ingin menjadi tempat berbagi masalah apa pun. Bukan hanya mau meneguk nikmatnya bahagia semata.


“Semua kejahatan Sisil dan Axel sudah ada di tangan polisi. Tinggal menjemput mereka saja,” kata Kendrick membuat mata Kirana terbelalak.


“Kejahatan apa?”


“Melenyapkan Mama Denisa,” kata Kendrick lirih.


Jantung Kirana memompa lebih cepat. Jadi benar adanya bahwa kematian ibu kandung Kendrick bukanlah kematian biasa, tetapi memang sudah direncakan sejak lama.


“Banyak kejahatan yang mereka lakukan, Kiran. Tapi mereka bisa lolos karena uang yang berbicara. Tapi aku pastikan kali ini mereka nggak akan lolos karena aku sendiri yang akan mengawal kasus itu. Bukan hanya mendapatkan hukum negara, mereka juga mendapat sanksi sosial karena perbuatan menjijikan yang dilakukan.”


“Aku nggak nyangka. Ternyata kejahatan seperti itu benar-benar ada dan bukan hanya ada di sinetron.”


Kendrick terkekeh dengan kepolosan istrinya.


Kirana masih saja mencoba menepis bahwa urusan orang kaya, permasalahan mereka bahkan lebih mengerikan dibandingkan dengan orang miskin yang hanya sibuk memikirkan isi perut.


“Mereka juga terlibat dalam kematian Nyonya Hera. Kamu akan terkejut jika tahu siapa yang melakukannya.”


“Siapa?”


“Selingkuhan mantan suamimu.”


Lagi-lagi Kirana melonggo. Kenapa orang-orang itu bisa melakukan segala macam hal yang tujuannya hanya untuk kesenangan dunia. Padahal harta bukan segalanya dan itu tidak akan dibawa sampai mati. Namun, banyak orang menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkannya.


Sungguh miris.


...✿✿✿...


Sisil terbangun dengan tubuh yang remuk redam. Semalam dia tertidur dengan posisi duduk di tengah kamar yang sudah seperti kapal pecah. Semua barang berserakan dan berantakan akibat kemarahannya.


Lagi-lagi suara bel berbunyi di depan kamar membuatnya mengumpat pelan.


Sisil segera merapikan rambutnya yang berantakan dan menuju pintu untuk membukanya. Berani-beraninya para pelayan itu mengganggu dirinya. Sial sekali.


Namun, saat pintu terbuka bukannya disambut oleh para pelayan justru matanya disuguhkan pemandangan yang langsung membuat bola matanya berubah. Tubuhnya mendadak gemetar menahan sesuatu.


Dia menoleh menatap sekeliling. Tidak ada satu pun pelayan yang terlihat berlalu lalang. Bahkan dari lantai bawah pun tak terdengar ada tanda-tanda kehidupan.


Ke mana perginya semua pelayan?


“Kami sudah mendapatkan izin dari Tuan Rajendra selaku pemilik rumah sekaligus suami Anda.”


Sial, apa yang kau inginkan Rajendra!


“Ada keperluan apa Anda datang mencari saya? Lalu di mana suami saya?” tanya Sisil mulai dilanda perasaan yang tak menentu.


Salah satu polisi mengeluarkan sebuah surat dan menyerahkannya ke arah Sisil yang dengan cepat menerima dan membukanya.


Surat penangkapan.


Sisil mundur untuk beberapa langkah. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa polisi bisa tahu tentang rahasia yang telah lama tersimpan rapat. Bahkan mungkin hanya Tuhan yang tahu apa yang dilakukan.


Dua petugas wanita maju dan sedikit menarik pergelangan tangan Sisil untuk membuatnya mendekat.


“Kurang ajar, jangan menyentuhku!” pekik Sisil marah, tetapi diabaikan. Dua petugas itu mencengkeram pergelangan tangan Sisil dengan erat.


“Menurut saja atau kami harus menggunakan cara kami untuk membawa Anda,” kata polisi wanita itu dengan datar.


“Aku perlu ganti baju, aku perlu memberithahu suamiku dan menghubungi pengacara.” Sisil tetap mencoba mencari cara untuk mengundur waktu.


“Anda bisa menghubungi mereka di kantor, Nyonya.”


“Lihatlah penampilanku! Aku perlu mencuci muka dan berganti pakaian. Tidak mungkin aku datang ke kantor polisi dengan muka seperti ini,” kata Sisil menahan marah. Suaranya dibuat setenang mungkin walaupun itu semua berbanding terbalik dengan perasaan cemas dan was-was yang dirasa.


Akhirnya polisi yang memimpin penangkapan Sisil mengangguk memberikan kesempatan. Namun, dia tetap harus dikawal dua polisi wanita untuk menemani.


Di dalam kamar pun, saat Sisil berniat mengambil ponsel pintarnya, benda itu langsung berpindah tangan ke arah polisi.


“Anda bisa menghubungi siapa pun, tapi nanti saat di kantor polisi. Ponsel Anda akan menjadi barang bukti,” kata polisi itu dengan senyum tipis dan segera mengantonginya.


Sisil menggeram marah, dia menatap polisi itu tajam dan penuh kekesalan.


“Lihat saja, aku akan menandaimu. Saat aku bebas, kupastikan kau akan kehilangan hidupmu,” gumam Sisil pelan, nyaris tak terdengar.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, akhirnya Sisil mengalah dan ikut para polisi dengan sukarela. Saat turun menuju lantai bawah, dia jadi bertanya-tanya mengapa rumah terlihat sangat sepi. Tidak seperti biasanya. Tidak ada aktivitas para pelayan yang berlalu lalang, tidak ada tanda-tanda keberadaan Rajendra yang seharusnya mencegah para polisi untuk membawanya demi nama baiknya.


“Aku perlu menemui suamiku sebentar,” kata Sisil berhenti melangkah, membuat semua polisi pun ikut berhenti.


“Anda bisa melakukannya nanti, karena suami Anda tidak ada di rumah.”


“Darimana Anda tahu?” Sisil semakin heran.


“Suami Anda sendiri yang mengatakannya. Dia juga yang mengizinkan kami masuk dan menemui Anda.”


Lagi dan lagi Sisil menggeram marah. Mengumpat kepada Rajendra yang justru meninggalkannya tanpa kabar bahkan dia seperti istri bodoh yang tak tahu apa pun mengenai keberadaan suaminya.


Mau tak mau akhirnya Sisil pasrah dan menurut saja.


To Be Continue ....