
“Bu, ada berita tentang Kirana!” teriak Luna yang baru saja datang menggendong anaknya.
“Apa sih kamu! Berisik banget,” gerutu Ajeng kesal.
“Ini tentang Kirana, Bu. Heh, biar mampus dia. Enak sekali dia menikmati apa yang seharusnya jadi milik kita. Sekarang dia dapat karmanya.”
Ajeng mengernyitkan alis. “Ada apa memangnya?”
“Restoran dan toko miliknya kebakaran, sayang sekali dia tidak sekalian mati terbakar.”
“Apa!” Ajeng sampai berteriak karena terkejut.
“Benar, Bu. Beritanya bahkan sudah rilis dari kemarin,” tambah Luna memperlihatkan ponselnya.
Ajeng tersenyum lebar, wajah tuanya sama sekali tak menampakkan raut tenang atau keibuan. Wajahnya terlihat suram karena tertutup sikap jahat.
“Itu karma karena dia telah menghancurkan hidup kita,” ucap Ajeng disetujui oleh Luna.
“Oh, ya, aku ada kabar baik, Bu.” Luna mengingat sesuatu, dia segera mengeluarkan kartu nama seseorang dari dalam tas.
“Aku tadi ketemu orang ini. Dia memberikan penawaran kerjasama dan akan membebaskan Zidan.”
Ajeng segera merebut kartu nama itu dan membacanya sesaat sebelum kembali menoleh ke arah menantunya.
“Memangnya siapa dia?”
“Aku nggak tahu, Bu. Tapi penampilan pria tadi keren dengan jas mahal, aku rasa mereka menginginkan sesuatu dari kebebasan Mas Zidan.”
“Kamu jangan aneh-aneh, nanti kita dalam masalah. Hidup kita udah sulit, jangan banyak tingkah.” Ajeng bukannya tidak ingin Zidan bebas, tetapi jika yang diinginkan orang asing itu hal yang macam-macam, dia tidak yakin bisa melakukannya.
Semenjak Zidan di penjara, Nina gila, hartanya habis karena dijual untuk menyambung hidup dan biaya perawatan rumah sakit.
Ajeng dan Nina pernah sekali mencari Kirana untuk meminta hak Zidan, tetapi sayang akses mereka telah diblokir oleh Kendrick hingga tak bisa bertemu.
Jangankan bertemu, mereka sama sekali tidak tahu ke mana mereka pindah.
Ajeng semakin memendam kebencian kepada Kirana yang telah menghancurkan hidup mereka. Baginya, Kirana adalah wanita pembawa sial yang membuat kehidupan mereka semua berantakan.
Namun sekali lagi, kini Ajeng tak memiliki kuasa apa pun selain hanya bisa memilih diam.
“Tapi ini kesempatan, Bu.”
“Nanti ibu yang hubungi orang itu.”
“Serius, Bu! Itu kesempatan emas, mereka juga menjanjikan banyak uang jika kita mau membantu.”
Ajeng mengangguk dan segera menghubungi nomor tersebut.
...✿✿✿...
Selama Kirana di rumah sakit, semua urusannya diserahkan pada Massayu. Dia masih belum mengabari kedua orang tuanya yang ada di kampung halaman, karena tak ingin membuat mereka khawatir dengan masalah yang terjadi.
Beberapa hari yang lalu dia telah diizinkan pulang dengan catatan diharuskan istirahat total selama beberapa minggu.
Kendrick yang ditimpa masalah juga perlahan bisa menyelesaikannya satu persatu.
Semua sudah diselesaikan termasuk dengan DD Corp. Beberapa hari yang lalu DD Corp resmi diakuisisi oleh pihak lain.
Sementara untuk menutup kerugian pada proyeknya, Kendrick terpaksa harus mengeluarkan seluruh tabungan, tetapi sayang itu masih belum cukup hingga membuatnya memilih menjual hotel tersebut kepada seseorang yang menawarnya dengan harga mahal.
“Lalu kamu sekarang mau apa?” tanya Diah dengan wajah sedih karena harus kehilangan perusahaan keluarga.
“Maafkan aku, Ma. Ini semua karena masalahku,” ucap Kendrick dengan kepala menunduk.
Diah menggeleng pelan. “Tidak apa, asal berjanjilah untuk terus bahagia. Harta bisa dicari, tapi kebahagiaanmu, hanya kamu yang bisa meraihnya.”
“Aku janji, Ma.” Kendrick menggenggam tangan wanita penuh cinta kasih itu.
Tanpa sadar bahwa pembicaraan mereka didengar oleh seorang wanita yang kini menyandarkan tubuh lemahnya di balik dinding.
Dia membungkam bibirnya agar suara isak tangisnya tak sampai terdengar oleh mereka.
“Ken ....” Kakinya melangkah masuk sambil mengulas senyum tipis di bibirnya.
“Kamu, kok turun. Udah dibilang disuruh istirahat kok malah keluyuran. Kamu butuh apa, kenapa nggak panggil Wina?”
“Aku bosan terus-terusan berada di kamar,” sahut Kirana, mendaratkan tubuh di samping sang suami.
“Lebih baik kamar kalian pindah di bawah untuk sementara,” ucap Diah tiba-tiba.
“Benar apa kata mama. Supaya kamu nggak harus naik turun tangga,” timpal Hanin menyetujui.
“Aku terserah Kendrick aja gimana baiknya,” ucap Kirana, mengamati satu persatu wajah ketiga orang yang semuanya berpura-pura baik-baik saja.
“Boleh, besok biar dibantu Wina sama yang lain pindahin barang yang dipakai.”
Setelah obrolan singkat tersebut, Kendrick membawa sang istri kembali ke kamar. Kali ini pria itu tak membiarkan istrinya berjalan, tanpa mendengar segala protes yang dikatakan dia membawa tubuh istrinya ala bridal style.
“Ken.”
“Katakan apa yang mau kamu omongin.”
“Bagaimana dengan masalahmu?” tanya Kirana hati-hati.
“Semuanya udah beres, kamu nggak perlu memikirkannya,” ucap Kendrick sambil mengecup kening sang istri.
“Bagaimana dengan hotel?”
Kendrick menghela napas panjang. Kirana istrinya, apa pun yang terjadi wanita itu berhak tahu.
“Aku sudah menjual hotel untuk menutup kerugian.”
Deg!
Jantung Kirana berdebar dengan keras, dia mendongak untuk menatap wajah
sang suami yang hanya mengulas senyum tipis.
“Kenapa menatapku?” tanyanya sambil menaikkan sebelah alis.
“Jadi sekarang bagaimana?”
“Aku resmi jadi pengangguran.” Kendrick menjawab dengan santai.
“Kenapa kamu menanggapinya dengan santai seperti ini,” omel Kirana.
“Lalu aku harus apa? Aku rela kehilangan semuanya asal kamu tetap ada di sisiku, Kiran.”
“Kamu bodoh! Kenapa melakukannya,” ucap Kirana memaki sang suami.
“Karena kamu adalah rumah, tempatku untuk pulang. Kamu lebih dari segalanya buatku.”
Kirana kembali terisak sambil mencengkeram lengan suaminya erat. Dia tak menyangka bahwa semuanya akan serumit dan seburuk ini.
“Aku udah nggak punya apa pun lagi, kamu nggak akan ninggalin aku, kan?”
Kirana bergeming dan semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
“Jangan lakukan apa pun untuk menyelamatkan keadaan ini. Aku lebih baik kehilangan segalanya asal tidak dengan kehilangan kamu.”
Kendrick seperti bisa membaca pikiran sang istri. Dia memaksa Kirana untuk mendongak hingga tatapan keduanya bertemu dalam ketidakberdayaan.
“Aku akan melakukan apa pun, kamu nggak perlu khawatir. Aku miskin harta, tapi kamu sudah menghadiahiku cinta kasih yang banyak. Itu sudah cukup untuk membuat kita saling menguatkan dan melewati semua ini.”
Kendrick merasa takut kehilangan. Seperti ada sesuatu besar yang akan terjadi.
“Berjanjilah Kiran!”
To Be Continue ....