Affair With CEO

Affair With CEO
Balasan setimpal



Nina menghampiri sang suami dan memukulinya dengan penuh amarah. Matanya memerah, wajahnya tampak begitu terluka, tetapi sama sekali tak mengurangi keangkuhan yang dimiliki.


Seseorang yang tadi muncul di video adalah Henry—suami kebanggan Nina yang selalu dibanggakan.


Terlihat tayangan video tersebut diambil di sebuah hotel. Sepertinya kedua orang tersebut juga tak mengetahui, bahwa di dalam ruangan terdapat CCTV yang telah dipasang.


Melihat hal tersebut, Ajeng ikut mendekati Henry dan membantu Nina memukuli menantunya. Sumpah serapah tak lepas dari bibir wanita tua itu melihat anak kesayangannya tersakiti.


“Bajingan, kurang ajar, beraninya kamu mengkhianati anakku!”


“Apa salahku, Mas?”


Suara dua wanita itu terus mencecar, hingga kesabaran pria itu mulai menipis. Dengan kasar, Henry mendorong Ajeng dan Nina hingga kedua wanita itu tersungkur ke lantai.


“Henry, kurang ajar kamu!” teriak Zidan, tetapi saat dia ingin maju justru Luna menghalangi.


“Kamu masih tanya kesalahanmu? Karena kamu mandul, nggak bisa kasih aku anak. Bahkan jadi istri sama sekali enggak berguna, kerjanya keluyuran ngabisin uang tanpa pernah mau tahu. Aku muak denganmu, dengan keluargamu yang tidak waras!” teriak Henry dengan lantang.


“Aku nggak mandul, Mas.”


“Jangan menutupinya. Aku sudah tahu semuanya, Nina. Dasar penyakitan.”


“Henry, menantu kurang ajar. Tutup mulutmu!”


“Kamu yang harusnya tutup mulut, Bu. Anak salah nggak diajarin tapi dibelain terus. Ini tuh karma karena selalu menghina Kirana, kamu nyuruh Zidan yang udah punya dua anak nikah lagi, sementara kamu menyuruhku bertahan dengan wanita penyakitan seperti anakmu? Nggak sudi aku!”


Nina merosot, tangisnya terdengar pilu, wajahnya memerah, entah karena malu atau marah, tetapi yang jelas suasana semakin memanas.


“Nina Pranadipa, aku mau kita bercerai!” ucap Henry tanpa keraguan.


“Nggak mau. Jangan tinggalin aku, Mas.”


“Mas Henry, kamu nggak bisa meninggalkanku. Aku mencintaimu, hu-hu-hu ....” Tangis Nina semakin keras terdengar, tetapi Henry sudah tuli untuk mendengar suaranya.


“Kalau kamu ceraikan aku, lebih baik mati saja.”


Henry yang sudah keluar dengan membawa koper, tersenyum miring. “Ya udah mati aja, pastikan kamu mati tanpa sekarat biar nggak nyusahin orang lain.” Setelah mengatakan kalimat yang terdengar jahat, pria itu segera pergi.


“Bu, Mas Zidan, hentikan Mas Henry!” teriak Nina.


“Bu!”


“Mas!”


“Mbak Luna!”


Namun ketiga orang tersebut hanya diam membisu. Zidan dan Luna masih syok mengetahui fakta bahwa Nina sudah tak bisa memiliki anak, sebab pernah menggugurkan kandungan beberapa kali akibat pergaulan bebas yang dilakukan. Ajeng tahu, justru wanita itu yang menyuruh, karena tak ingin menahan malu akibat hamil tanpa diketahui siapa yang melakukannya.


Tombak dari semua ini adalah Ajeng, karena dia berhasil menutupi semuanya dengan sangat baik, selama ini.


Semua orang menatap iba pada Nina yang kini hanya meraung tanpa ada yang peduli. Belum sempat mereka membubarkan acara, tiba-tiba seorang wanita muda berteriak memanggil nama seseorang yang tak lain adalah suami dari Diana.


Wanita muda itu menghampiri Garry dan memeluknya dengan erat hingga membuat Diana murka.


“Heh, siapa kamu? Ngapain kamu peluk-peluk suamiku, nggak sopan!”


“Aku ini madumu, Mbak. Aku juga istrinya Garry lho,” sahut wanita itu dengan berani.


Bola mata Diana melotot tajam, dia menoleh ke arah suaminya menuntut penjelasan, tetapi pria itu menunduk dan mengangguk membenarkan.


“Dia istri keduaku, yang sudah kunikahi saat aku tugas di Surabaya.”


“Apa!”


“Siapa kakakmu?”


Wanita itu menunjuk ke arah Luna. “Dia kakakku. Yang jadi saksi pernikahanku lho dia sama suaminya.”


Diana menoleh ke arah Luna dengan tatapan kebencian. Beraninya wanita itu menipunya, ternyata kakak beradik sama-sama perebut suami orang.


“Brengseek!”


Dengan langkah lebar wanita yang tengah dikuasai amarah tersebut mendatangi Luna, mendorongnya keras hingga tubuhnya hampir jatuh andai tangan Zidan tak sigap menangkapnya.


“Dasar pelacur.”


Secepat kilat Garry langsung menarik istrinya pergi, melihat saat ini mereka menjadi tontonan banyak orang.


Makian kasar dan segala umpatan seluruh kebun binatang dikeluarkan. Dulu dia sombong mengatakan bahwa suaminya tak akan melirik wanita lain, tetapi ternyata justru selama ini dia juga ditipu oleh seseorang yang sudah dianggap teman baik.


Diana dan Luna adalah teman lama.


“Lho, Mbak. Ada apa ini sebenarnya?” Istri kedua Garry itu tampak linglung.


“Ini semua gara-gara kamu, dasar bodoh,” teriak Luna.


Zidan segera membubarkan tamu yang masih ada di sana. Apa yang terjadi saat ini cukup membuat keluarganya malu. Beberapa orang mulai meninggalkan tempat secara bergantian, diiringi cibiran.


“Ngapain kamu masih di sini!” bentak Zidan, ketika melihat Kirana masih duduk dengan santai.


“Oh, aku harus pergi juga ya? Klimaksnya belum lho, ini masih di pertengahan puncak. Ibaratnya lagi enak-enak, ini masih dalam suasana yang memanas penuh gairah,” ucap Kirana dengan wajah datar.


“Pergi!” teriak Zidan.


Kirana menyeringai. “Santai dong,” ucapnya, segera berdiri dengan anggun dan mengibaskan dress yang dipakai dengan angkuh.


Belum juga kakinya keluar dari pagar, lima orang pria berbadan kekar dengan pakaian hitam menghampiri.


“Pak Zidan, kamu harus keluar dari rumah itu sekarang juga.” Salah satu pria itu menunjuk ke arah depan, rumah yang selama ini ditinggali oleh Nina adalah properti yang dibeli setelah menikahi Luna, karena ternyata selama ini istri keduanya itu hanya menyewa setiap tahun.


Gaya sosialita, hasil utang sana sini. Dasar gila!


Zidan tergopoh menghampiri pria itu. “Lho, mana bisa begitu perjanjiannya kan satu tahun. Ini bahkan baru empat bulan,” ucapnya.


“Silakan bereskan barang yang masih ada, karena rumah itu sudah laku terjual.”


“Bagaimana mungkin?”


Kirana tersenyum puas. Dia menoleh menatap seluruh keluarga Zidan, orang-orang yang telah menyakitinya. Wajahnya tampak berseri-seri melihat seluruh keluarga tersebut dalam keadaan kacau.


Nina yang malang.


Ajeng yang menyedihkan.


Luna yang bodoh.


Zidan yang frustrasi.


Lengkap sudah penderitaan mereka.


“Well done,” ucap Kirana tanpa suara.


Dia tersenyum begitu cerah, secerah mentari di siang hari ini. Beban di pundaknya terasa terangkat, dia melewati Zidan begitu saja tanpa menoleh. Namun satu meter jaraknya, dia berhenti sebelum berkata, “Kita akan bertemu di pengadilan, Zidan Pranadipa.”


To Be Continue ....