
Sepanjang jalan Kirana tak berhenti mengumpat dan memaki dirinya. Kenapa dia harus membalas ciuman pria itu dan justru tergoda ingin lebih.
Gila, ini benar-benar gila. Bahkan otaknya sudah tak bisa diajak berpikir jernih.
Sesampainya di rumah segera dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin dan membiarkan air mengalir hingga tubuhnya menggigil.
“Aku akan bener-bener gila menghadapinya,” bergumam lirih.
Setelah berganti pakaian, kakinya melangkah menuju dapur dan melihat Wina.
“Bentar lagi selesai, Bu.” Wina yang tahu kedatangannya segera memberikan info.
“Aku panggil anak-anak dulu, Mbak.” Memutar tubuhnya kembali menuju arah kamar.
Setelah memanggil kedua putrinya, mereka semua sudah duduk di meja makan. Hanya mereka berempat, keadaan ini sudah membuatnya terbiasa. Tanpa kehadiran Zidan sebagai kepala keluarga.
“Gimana sekolah kakak sama adek?” Ketika pertanyaan itu terlontar wajah keduanya berubah muram.
“Baik, Ma,” sahut Rina pelan.
Kakak bohong. Maafkan mama, Nak.
“Adek gimana? Ada yang nakal nggak?”
Anak berusia lima tahun tersebut hanya menggeleng tanpa menjawab.
“Ya udah lanjutin makan dulu. Abis itu mama temenin kalian bobo.”
Suasana yang biasanya hangat kini begitu dingin. Kedua anaknya harus kehilangan sosok sang ayah, belum lagi mendengar ejekan dari teman-temannya itu pasti membuat keduanya merasa sakit hati.
Lebih dari memikirkan Zidan, dia lebih peduli pada kondisi kedua anaknya.
Ini semua gara-gara kamu, Zidan. Kamu bukan cuma nyakitin aku, tapi juga anak-anakmu.
Mereka semua tak begitu berselera makan, hanya beberapa suap saja yang masuk ke dalam mulut hanya sekadar untuk mengganjal perut. Setelah makan Kirana menepati janji untuk menemani keduanya tidur.
Tangannya mengusap puncak kepala mereka bergantian. Matanya berkaca-kaca siap tumpah tetapi ditahan sekuat mungkin.
“Kakak sama adek kalau ada masalah cerita sama mama, ya. Mama pasti akan melakukan apa pun untuk kalian,” ucapnya dengan suara serak.
“Kenapa papa nggak pulang-pulang, Ma?” tanya Rina lirih.
Papamu udah lupa sama kita. Dia punya istri baru dan calon anak yang diinginkan.
Melihat dirinya diam, Rina kembali melanjutkan, “Apa bener papa akan ninggalin kita dan memilih mama baru?”
“Jangan dipikirin, itu urusan orang dewasa. Meskipun papa ninggalin mama, papa tetep akan jadi papa kalian.”
“Aku nggak mau. Aku mau mama sama papa tetep sama-sama. Aku nggak mau punya mama baru.”
“Udahlah, bobo yuk. Ini udah malem, mama ngantuk.” Memilih menghindar adalah jalan terbaik saat tak ada jawaban yang bisa dikatakan.
Tangannya terus mengusap puncak kepala anak sulungnya dengan lembut. Mendengar setiap ucapan Rina justru membuat sakit hatinya semakin dalam.
Duduk di meja makan ditemani secangkir kopi, Kirana hanya diam.
“Bu Kirana kok belum tidur?” Wina datang mengambil segelas air.
“Nggak bisa tidur, Mbak.”
“Mana bisa tidur, malem-malem malah bikin kopi.”
Bibirnya mengulas senyum, terlihat pedih. “Biar sekalian.”
“Bu, ternyata istri Pak Zidan itu tetangga depan rumah Bu Ajeng. Beliau janda, anaknya dua. Masih muda sekali,” kata Wina memberikan informasi.
“Kok tahu?” Dia menoleh sedikit heran.
“Ibu-ibu di sekolahan bergosip, terus aku nggak sengaja denger.” Kepalanya mengangguk mengerti.
“Dia ditinggal suaminya merantau nggak pulang-pulang. Anaknya dua, yang kecil dikasih ke mertuanya, yang gede dibawa. Temen sekelas Non Lina.”
“Udah tidur sana, Mbak. Tinggalin aku sendiri,” ucap Kirana mengusir, mendengar tentang istri lain suaminya membuat dadanya terasa sesak.
Helaan napas berat dan kasar terdengar di keheningan malam. Dia masih duduk di meja makan dengan cahaya remang-remang, membiarkan kegelapan menelannya.
Suara pagar dan pintu terbuka sama sekali tak membuatnya ingin beranjak. Tak lama terdengar derap langkah kaki pelan.
Zidan langsung masuk kamar dan tak melihat keberadaan istrinya. Ruangan pribadi mereka kosong, keningnya mengernyit sambil berpikir ke mana istrinya pergi.
Dia berpaling ke arah kamar kedua anaknya, mungkin sang istri tidur di sana, pikirnya.
Saat tak menemukan sang istri di manapun, dia berniat mengambil minum dan terkejut ketika lampu menyala, sosok sang istri duduk di meja makan dalam diam tanpa suara.
“Ngapain kamu di sini? Dicariin dari tadi malah sembunyi di kegelapan.” Tetapi yang diajak bicara tak menyahut, bahkan sekadar menoleh saja tidak.
“Kirana! Aku bicara sama kamu!” serunya keras.
Kirana yang mendengar suara lantang sang suami segera bangkit dan pergi begitu saja.
“Diajak ngomong malah dicuekin. Nggak sopan kamu, dasar istri durhaka.”
Setelah meneguk segelas air dingin, Zidan menyusul istrinya ke kamar.
“Kirana, aku mau ngomong!” Zidan tahu bahwa istrinya pura-pura tidur. Karena tak mendapatkan jawaban, dia mendekat dan menarik selimut dengan kasar.
“Aku lelah, Mas. Biarkan aku tidur, aku sama sekali nggak mau berdebat denganmu. Tolong,” sahut Kirana lirih dan begitu lemah.
“Aku mau bicara penting!” sentak Zidan kasar.
Bukannya menurut, Kirana kembali menarik selimut dan menenggelamkan dirinya.
“Kamu keras kepala!”
To Be Continue ....