
“Kirana, besok antar aku untuk menemui orang tuamu.”
“Lho, katanya hari Selasa depan?” tanya Kirana tampak bingung.
“Lebih cepat lebih baik.”
Kirana mengangguk. “Oke.”
Tiba-tiba Kendrick maju dan langsung memeluknya erat. Pria itu terlihat banyak pikiran, membuatnya sedikit heran.
“Ada apa, Ken? Kamu ada masalah? Ceritakan apa pun barangkali aku bisa membantu.”
“Cukup selalu percaya padaku apa pun yang terjadi. Jangan meninggalkanku.”
“Aku selalu percaya denganmu.”
Kendrick mengangguk dan menciumi seluruh wajahnya dengan kecupan basah. “Aku akan berjuang untukmu. Asal kau tetap bersamaku, Kiran.”
Kendrick sama sekali tak menjelaskan apa pun. Membuat Kirana dilanda kebingungan sebenarnya apa yang ada di pikiran pria itu.
Berjuang? Dari apa? Dari siapa? Itulah yang ada di kepalanya. Bukankah seharusnya perjuangan mereka telah usai setelah surat putusan cerai dari pengadilan yang diterima. Atau jangan-jangan ...
Tiba-tiba pikirannya dilanda sesuatu yang buruk.
“Apa orang tuamu tidak merestui hubungan kita?”
“Mereka memintaku membawamu ke Jerman. Tapi sebelum pergi, kita akan menikah lebih dulu.”
“Apa!” Keterkejutan di wajah Kirana tak ditutupi. Dia benar-benar merasa bingung sekarang, mengapa harus secepat ini, bukan, ini lebih terkesan buru-buru.
“Why? Apa yang sebenarnya kamu tutupi dariku, Ken?”
“Aku hanya tak mau kehilanganmu, Kiran. Jadi kita akan menikah sebelum ke Jerman. Apa pun yang terjadi, tetaplah di sampingku,” mohon Kendrick dengan wajah tulus.
“Kamu menakuti, Ken.”
“Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji.”
Kirana menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Menghirup aroma tubuh yang begitu menenangkan dan sangat dirindukan. Ada ketakutan yang timbul dan tenggelam dalam dirinya, tetapi tak diperlihatkan karena dia percaya pada janji Kendrick.
...✿✿✿...
Hari Selasa di minggu kedua, sesuai janji Kendrick bersama dengan Hanin dan Diah datang ke kota Kirana yang kebetulan sudah pulang lebih dulu di hari sebelumnya.
Awalnya kedua orang tuanya terkejut, bahkan Kirana masih beberapa waktu yang lalu bercerai dengan Zidan dan sekarang sudah ingin menikah lagi. Namun, sebagai orang tua jika untuk kebaikan anaknya maka mereka hanya bisa pasrah asal kali ini benar-benar bahagia.
Kedatangan mereka disambut baik orang tua Kirana yang langsung mempersilakan masuk.
“Perkenalkan, saya om dan tante dari Kendrick. Bapak dan ibu pasti sudah tahu niat kami datang ke sini, kami ingin meminta anak kalian untuk menjadi istri dari keponakan saya.” Tanpa basa-basi, Hanin segera menyampaikan maksud kedatangan.
“Mohon maaf, orang tua Kendrick sudah tidak ada?”
“Ada, Pak. Beliau ada di Berlin. Kebetulan mereka belum bisa datang, meminta kami yang ada di Indonesia mewakilkan,” jawab Hanin tak sepenuhnya adalah kebohongan. Memang benar bukan jika orang tua Kendrick memang tidak ada di negara ini.
“Benar, Pak. Bahkan saya berniat menikahi putri bapak dalam waktu dekat sebelum kami pergi ke Berlin.”
Kedua orang tua Kirana tampak terkejut. Mereka justru berpikir sesuatu telah terjadi di antara kedua orang dewasa itu.
“Maaf, Nak Kendrick. Kirana tidak hamil duluan, kan?” Abdillah bertanya dengan lirih dan sedikit was-was.
Bukan hanya mereka yang duduk di sana yang terkejut, Kirana yang masih ada di dalam rumah juga ikut terkejut dengan pertanyaan sang ayah. Bahkan Diah menatap sang keponakan tajam, meneliti raut wajah pria dewasa yang terkenal pemain wanita itu.
“Belum, Pak. Untuk saat ini ... tapi saya nggak bisa jamin jika terlalu lama,” jawab Kendrick jujur mendapat tatapan mematikan dari Hanin yang merasa malu.
“Maafkan keponakan saya, Pak Abdillah.” Diah merasa tak enak, apalagi dengan tatapan Rahma yang seolah bagaikan bola api.
“Apa yang dikatakan Kendrick ada benarnya. Mereka sudah sama-sama dewasa, jika memang Kirana setuju, kami akan mengikutinya.”
Kirana dipanggil keluar, setelah itu ditanya tentang keputusan yang diambil.
“Saya terima, Pak. Menjadi calon istri Kendrick dalam waktu dekat, saya siap.” Dengan kepala menunduk, wanita itu bicara dengan malu-malu.
“Kita tidak perlu mengadakan pesta. Kami hanya akan mengurus berkas dan mengambil akta pernikahan. Pesta akan digelar nanti setelah kami kembali dari Berlin.”
“Kami serahkan keputusan pada yang menjalani. Asal kalian bahagia,” ucap Abdillah dengan mata memanas. “Tolong jangan sakiti dia, bahagiakan dia dan kedua anaknya seperti anakmu sendiri.”
“Saya akan membahagiakan mereka, Pak. Anda tidak perlu cemas, saya bisa menepati janji.”
“Jika suatu saat kamu sudah tidak menyayanginya lagi, kembalikan —”
“Itu tidak akan terjadi, Pak. Saya janji,” potong Kendrick menghentikan ucapan pria paruh baya tersebut.
Semuanya dibuat tertawa dengan tingkah Kendrick yang kekanakan. Pria itu bisa melucu juga ternyata. Setelah semuanya usai, Hanin dan Diah pamit lebih dulu untuk langsung kembali. Sementara Kendrick dan Kirana akan kembali sore nanti.
Minggu depan, Kendrick akan membawa Kirana ke Berlin setelah mendapatkan akta pernikahan.
To Be Continue ....