
Di hari yang sama dan di waktu yang bersamaan pula Axel juga dijemput oleh beberapa polisi bersenjata. Awalnya ada perlawanan dari pihak pengawal Axel, tetapi akhirnya pria itu menyerah ketika polisi mengancam akan memberikan tembakan untuk melumpuhkannya.
Kejahatan yang dilakukan Axel bahkan lebih banyak. Pria itu sudah melenyapkan banyak nyawa keluarga istrinya, termasuk kedua mertuanya sendiri. Demi apa? Demi mendapatkan harta warisan yang pada akhirnya jatuh ke tangannya setelah Hera tiada.
Sesampainya di kantor polisi Sisil dan Axel dimasukkan ke dalam ruangan interogasi, hanya berbeda ruangan saja.
Mereka berdua diinterogasi dan ditanyai banyak hal. Namun, keduanya tetap mengelak apa yang dituduhkan petugas polisi.
Namun, bibir mereka terkunci rapat saat video rekaman percakapan mereka berputar. Saat Sisil dan Axel membicarakan tentang kasus pelenyapan Denisa di masa lalu, juga rencana jahat untuk Hera.
Keduanya terperangah tak percaya. Bagaimana bisa ada rekaman suara mereka berdua. Itu terjadi di hotel, tidak mungkin pihak hotel yang melakukannya.
Awalnya mereka sempat mengelak dan menuduh bahwa itu adalah rekaman palsu, tetapi saat dibuktikan oleh beberapa ahli bahwa rekaman itu asli dan bukan rekayasa.
“Saya akan menghubungi pengacara,” kata Sisil dengan wajah yang merah padam.
“Silakan.”
Petugas polisi itu menyerahkan sebuah telepon ke arah Sisil dan meninggalkannya sendiri. Namun, tetap diawasi CCTV untuk merekam pembicaraan mereka.
Dalam beberapa kali panggilan akhirnya terjawab. Sisil hanya mengatakan keberadaannya dan meminta pengacara itu membawa dua rekannya untuk menangani kasus yang tengah menyeret dirinya. Setelah itu panggilan terputus begitu selesai mengatakan kepentingannya.
Sisil mencoba menekan nomor Rajendra dan menghubungi pria itu. Namun, hingga panggilan ke sepuluh sama sekali tidak ada jawaban. Sisil menggeram marah dan meletakkan telepon itu kembali dengan kasar.
“Sialan, Rajendra! Di mana kau!” umpatnya dengan mata yang tajam penuh kemarahan.
Di ruangan yang berbeda, Axel pun melakukan hal yang sama. Dia menghubungi pengacaranya untuk datang segera.
Dua orang itu tak tahu bahwa mereka berada di tempat yang sama dan akan berakhir bersama.
Berita penangkapan Sisil dan Axel memang belum tersebar, polisi benar-benar menjaga kerahasiaan tentang kasus mereka berdua.
Belum saatnya, kata seseorang yang menjadi dalang terungkapnya kebusukan dua orang itu.
Selang satu jam para pengacara yang ditunggu akhirnya tiba. Mereka memang diberikan waktu, tetapi semuanya masih diawasi dan dipantau.
Sisil tak banyak bicara, dia hanya meminta para pengacara itu untuk membuatnya segera bebas, dengan cara apa pun. Di sisi lain, Axel pun melakukan hal yang sama. Dia meminta para pengacara untuk mengurus kasusnya agar tak sampai ke pengadilan.
Setelah kurang lebih empat puluh lima menit, dua polisi wanita masuk dan menarik Sisil untuk mengikutinya. Saat keluar dari ruangan, Sisil dan Axel terkejut karena mereka tak tahu satu sama lain. Keduanya saling menatap dalam diam, seolah mengisyaratkan sesuatu. Tak ada sapaan, keduanya hanya saling melewati.
Sisil dan Axel dibawa ke dalam area sel. Tidak ada yang spesial selain mereka diberikan penjara yang hanya berisi satu orang dengan satu ranjang kecil dan kamar mandi kotor yang sangat menjijikan di mata mereka.
Jika Sisil dan Axel memiliki dukungan uang, maka Rajendra memiliki uang dan kuasa. Siapa yang pada akhirnya lebih kuat?
“Apa yang kau lakukan hingga kau bisa berada di sini, Nyonya?” tanya wanita di sebelah sel tahanan Sisil.
Sisil diam saja menjadi tontonan penghuni sel lain. Siapa pun yang melihat sudah bisa menebak bahwa Sisil bukanlah orang biasa. Dari pakaian dan sikap sudah menunjukkan dia adalah seorang nyonya kaya.
Sisil di tempatkan di sel khusus tahanan wanita. Satu sel berisi dua sampai tiga orang, tetapi dirinya mendapatkan pengecualian. Semua sel telah terisi dengan penghuninya, sementara dia hanya sendirian atau lebih tepatnya belum menemukan teman.
“Dia pasti istri pejabat yang korupsi atau wanita bergaya sosialata hasil jadi penipu,” sahut wanita lain yang seusai Sisil.
“Tutup mulutmu!” bentak Sisil marah. Dia menatap tajam ke arah depan di mana dia sangat mengenali wanita itu.
Ajeng. Mantan mertua Kirana.
Ajeng mendekam di jeruji besi, Nina masih tetap gila dan Zidan yang pergi entah ke mana.
...✿✿✿...
Di sebuah rumah mewah yang tampak depan terlihat kosong, telah berdiri beberapa polisi bersenjata untuk membongkar kasus perdagangan organ manusia dan sebuah organisasi gembong narkoba kelas internasional yang meresahkan.
Rumah itu berada jauh dari kawasan kota. Terletak di pinggir kota dengan jarak antar rumah yang lainnya cukup jauh sehingga ada atau tidaknya aktivitas di dalam sana, orang lain tidak akan tahu.
Penyerbuan itu dipimpin langsung oleh komisaris besar polisi dengan mengerahkan hampir lima puluh orang untuk mengepung tempat yang disinyalir dijadikan perdagangan ilegal.
“Semua tim menyebar!” titahnya melalui earphone yang terpasang di telinga, mengomandoi seluruh anggotanya untuk bersiap di posisi.
Setelah semua tim menyebar, mereka berkomunikasi melalui earphone. Mereka semua telah bersiap, penembak jitu dengan senapan laras panjang pun telah disiapkan andai terjadi hal-hal yang diluar kendali.
“Masuk!”
Semua anggota langsung menyerbu masuk dan beberapa orang yang ada di dalam rumah itu terkejut dan langsung bersiaga dengan mengeluarkan pistol.
“Angkat tangan! Buang senjata kalian,” teriak Kombes Pol Yudha Wirawan menginterupsi. Namun, lima orang dengan penampilan garang itu justru mengarahkan pistolnya ke arah petugas polisi.
Bukannya menurut para pria itu justru melesakkan tembakan, tetapi berhasil dihindari. Lima orang itu langsung dibekuk dengan kasar karena telah melawan petugas polisi.
“Kami menemukannya, Pak!” Seorang polisi berteriak membuat Kombes Pol Yudha segera menuju sumber suara.
Di sebuah ruangan yang tampak seperti gudang ditemukan pintu rahasia yang menuju bawah tanah. Dengan cahaya remang-remang dan tetap bersiaga mereka mencoba turun ke bawah.
Di bawah sana mereka menemukan barang bukti berupa berton-ton narkoba jenis sabu, ganja dan ekstasi di tempat tersembunyi, yaitu di plafon ruang bawah tanah itu sendiri.
Saat dibongkar mereka tak lagi terkejut karena yang mereka tandai adalah penjahat internasional yang jelas memiliki banyak koneksi dan relasi.
Mereka segera kembali ke atas setelah mengamankan barang bukti. Saat kembali ke atas sudah ada laporan dari orang yang telah meretas CCTV rumah itu. Ternyata pria yang menjadi dalang telah kabur tiga puluh menit sebelum kedatangan mereka.
“Pak! Pak!” teriakan dari belakang rumah membuat beberapa anggota polisi berlari menuju sumber suara.
Pemandangan yang mengerikan terlihat. Membuat siapa pun akan mual karena tempat itu sungguh menjijikan. Dengan bau anyir darah dan yang paling membuat syok adalah adanya mayat manusia yang seluruh tubuhnya telah terkoyak habis.
Penggeledahan dilanjutkan hingga satu demi satu bukti didapatkan. Sungguh mereka semua adalah kumpulan iblis yang tidak memiliki hati nurani.
Lima pria yang diinterogasi itu dua di antaranya adalah dokter bedah yang bertugas mengambil organ-organ manusia. Tiga lainnya bertugas untuk mengawasi pengiriman dan penerimaan narkoba dari luar negeri.
Penyelidikan itu akan terus dilakukan untuk membongkar dan memutus jaringan gelap yang begitu berbahaya. Karena lima orang itu memilih bungkam dengan apa pun yang ditanyakan dan hanya menjawab tidak tahu apa pun.
Kombes Pol Yudha kembali ke kantor polisi dan memberikan laporannya pada komisaris jendral polisi sebagai pimpinan dan akan diteruskan kepada jendral polisi dengan bintang empat.
Semua anggota perwira tinggi dikumpulkan dan mereka sibuk berdiskusi untuk menyelesaikan kasus ini.
Mereka akan berkordinasi dengan FBI untuk menangkap pelaku kejahatan yang telah mengganggu ketenangan dunia. Mereka juga akan mengeluarkan berita tersebut dan memasukan nama orang tersebut ke dalam daftar buronan paling berbahaya.
Diskusi terus berlanjut hingga sebuah suara terdengar tegas dan penuh penekanan terdengar menggema dalam ruangan saat Jendral Polisi Rakesh memberikan titah, “Tangkap Andrean Tjokro Rusady dalam keadaan hidup atau mati.”
To Be Continue ....